Arti Istiqomah.?
Salah satu sahabat Rasulullah saw pernah bertanya tentang Islam. Rasullullah saw bersabda, “Katakanlah aku beriman kepada Allah kemudian beristiqamahlah!”. Setelah mendengar hadits ini dalam sebuah khutbah Jum’ah saya pun berpikir, apa itu istiqamah?
Bunyi lengkap hadits di atas adalah:
عن أبي عمرو وقيل : أبي عمرة سفيان بن عبدالله الثقفي رضي الله عنه – قال : يا رسول الله , قل لي في الإسلام قولاً لا أسأل عنه أحداً غيرك, قال ” قل آمنت بالله ثم استقم ” رواه مسلم
Artinya:
Dari Abi Umar, Abu amr sufyan bin abdillah ats-tsaqafy ra. berkata, berkata, “Wahai rasulullah beritahukan kepadakau sesuatu ungkapan tentang islam yang tak akan kutanyakakan kepada seorangpun selain engkau, beliau bersabda” “Katakanlah, amantu Billah (Aku beriman kepada Allah), kemudian istiqamah-lah (HR Msulim).
Para Ulama yang Memberikan Definisi dari Kata Istiqomah
- Abu Bakar Ash-Shiddiq R.A: Istiqomah itu tidak menyekutukan Allah dengan apapun juga.
- Umar bin Khattab R.A: Istiqomah itu hendaknya untuk bertahan dalam satu perintah atau larangan dan tidak berpaling dari yang lain layaknya seekor musang.
- Utsman bin Affan R.A: Istiqomah artinya ikhlas.
- Ali bin Abi Thalib R.A: Istiqomah adalah melaksanakan suatu kewajiban.
- Dari Ibnu Abbas R.A: Istiqomah itu memiliki 3 macam arti: Istiqomah dengan lisan (Bertahan terus dalam membaca Syahadat), istiqomah dengan hati (Melakukan segala sesuatu dengan niat dan jujur) dan istiqomah dengan jiwa (Selalu melaksanakan ibadah dan ketaatan kepada Allah secara terus-menerus tanpa terputus).
- Dari Ar Raaghib: Istiqomah itu tetap di atas jalan yang lurus.
- Dari An Nawawi: Tetap dalam ketaatan (Kitab Riyadusshalihin). Jadi istiqomah mengandung pengertian bahwa: “Tetap dalam ketaatan dan di atas jalan yang lurus dalam beribadah kepada Allah SWT”.
- Dari Mujahid: Istiqomah adalah komitmen terhadap kalimat syahadat dan tauhid sampai bertemu dengan Allah ‘Azza wa Jalla.
- Dari Ibnu Taymiah: Istiqomah dalam mencintai dan beribadah kepada Allah tanpa kearah menoleh ke kanan kiri.
Arti Istiqomah
Secara bahasa istiqaamah إستقم berasal dari kata paling dasar qaama قام yang artinya berdiri, mendirikan, tetap, menetapkan, atau tegak dan lurus. Dalam kaidah Ilmu Nahwu, jika sebuah kata kerja ditambah dengan huruf sin سـ di bagian depan kata, maka artinya berubah menjadi ‘istiqbal’ artinya waktu yang akan datang yang dekat. Jadi istiqamah berarti segera tegak lurus, dalam hal ini adalah keteguhan iman dan keikhlasan hati dalam melaksanakan kewajiban.
Dari segi makna bahasa istiqamah menjadi sebuah perintah sebagaimana hadits Nabi di atas, oleh karena itu sebagai orang yang beriman kita wajib beristiqamah dalam keimanan dan ketakwaan kita.
Istiqamah dalam iman akan keesaan Allah baik saat ramai ataupun sepi dan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya, serta ikhlas melaksankana kewajiban sampai kematian datang.
Istiqamah terbagi menjadi dua, yaitu istiqamah zahir dan istiqamah batin.
Istiqamah zahir untuk orang awam, yaitu istiqamah dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Sedangkan istiqamah batinnya adalah keimanan dan meyakini kebenaran apa yang diimaninya.
Istiqamah batin untuk orang khusus, yaitu memalingkan diri dari kehidupan duniawi dengan meninggalkan keindahan dan godaan dunia. Sedangkan istiqamah batinnya adalah memisahkan diri untuk mendapatkan kenikmatan bertemu dengan Sang Pencipta.
Para sahabat memiliki jawaban tersendiri saat ditanya tentang istiqamah:
Abu bakar ra: Istiqamah adalah tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun.
Umar ra: Istiqamah adalah memisahkan mana perintah dan mana larangan Allah.
Ustman ra: Istiqamah adalah ikhlash.
Ali ra: Istiqamah adalah melaksanakan ibadah fardhu.
Istiqamah dalam prakteknya terbagi menjadi 3 bagian yaitu istiqomah lisan dengan selalu mengucapkan kalimat shahadah, istiqamah badan dengan memperbaiki tujuan perbuatan, dan istiqamah jiwa yaitu dengan meningkatkan rasa taat kepada Allah.
Arti istiqomah dapat dipahami sebagai rasa taat pada perintah Allah, takut pada larangan Allah, syukur pada nikmat yang diberikan oleh Allah, dan sabar untuk mencapai surganya Allah.
Keempat hal diatas dilengkapi dengan hal lain, taat akan sempurna jika dilandasi rasa ikhlash, taqwa akan sempurna jika diiringi taubat, syukur akan sempurna dengan mempelajari hal yang disyukuri, dan sabar dilengkapi dengan menahan diri pada dunia.
Ciri-ciri istiqomah:
Menjaga lisan dari ghibah (membicarakan orang lain).
Menjauhi prasangka buruk
Menjauhkan diri dari sombong merasa lebih baik dari yang lain
Menahan pandangan mata dari yang diharamkan
Berbicara benar dan jujur
Menginfakkan harta di jalan Allah
Tidak berlebih-lebihan dan tidak merusak
Tidak mencari derajat tinggi dan nama besar
Menjaga sholat lima waktu
Mengamalkan sunah Rasul dalam jama’ah islamiyah
Sesuai firman Allah swt:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلاَتَجَسَّسُوا وَلاَيَغْتَب بَّعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al Hujarat: 12)
Dalam suatu riwayat dikatakan, iman dalam hati seseorang ibarat sebuah pohon yang memiliki tujuh dahan. Dahan yang sampai dalam hatinya berbuah akal, dahan yang sampai pada lisannya berbuah perkataan yang baik dan benar, dahan yang sampai pada kakinya berbuah langkah pada ukhuwah islamiyah, dahan yang sampai pada tangannya berbuah shodaqah, dahan yang sampai pada matanya berbuah pelajaran (I’tibar), dahan yang sampai pada mulutnya berbuah makan makanan yang halal dan meninggalkan makanan syubhat, dan dahan yang sampai pada jiwanya berbuah menahan nafsu syahwat.
Allah akan memberikan kelapangan dada, menghilangkan rasa takut dan cemas baik saat hidup, sakaratul maut, atau pun saat dibangkitkan dari kubur untuk orang-orang yang istiqamah. Firman Allah swt:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلاَئِكَةُ أَلآتَخَافُوا وَلاَتَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ
Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (Q.S. Fushshilat: 30)
Demikian sedikit makna dan arti istiqomah, mohon maaf jika masih banyak kekurangan. Semoga manfaat.
Sumber:
Al Qur’anul Kariim
Kitab Durratun Naashihiin: 209-213.
Hadits Arba’in Nawawi: Hadits Ke-21
Kitab Awaamiil
Comments