Nabi Muhammad SAW
Ketika cahaya tauhid padam di muka bumi, maka kegelapan yang
tebal hampir saja menyelimuti akal. Di sana tidak tersisa orang-orang yang
bertauhid kecuali sedikit dari orang-orang yang masih mempertahankan nilai-nilai
ajaran tauhid. Maka Allah SWT berkehendak dengan rahmat-Nya yang mulia untuk
mengutus seorang rasul yang membawa ajaran langit untuk mengakhiri penderitaan
di tengah-tengah kehidupan. Dan ketika malam mencekam, datanglah matahari para
nabi. Kedatangan Nabi tersebut sebagai bukti terkabulnya doa Nabi Ibrahim as
kekasih Allah SWT, dan sebagai bukti kebenaran berita gembira yang disampaikan
oleh Nabi Isa as.
Allah SWT menyampaikan salawatnya kepada Nabi itu, sebagai
bentuk rahmat dan keberkahan. Para malaikat pun menyampaikan salawat kepadanya
sebagai bentuk pujian dan permintaan ampunan, sedangkan orang-orang mukmin
bersalawat kepadanya sebagai bentuk penghormatan. Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Hai
orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam
penghormatan kepadanya." (QS. al-Azhab: 56)
Sebelumnya Allah SWT mengutus para nabi-Nya sebagai rahmat
kepada kaum dan zaman mereka saja, namun Allah SWT mengutus beliau saw sebagai
rahmat bagi alam semesta. Beliau saw datang dengan membawa rahmat yang mutlak
untuk kaum di zamannya dan untuk seluruh zaman. Allah SWT berfirman, "Dan
aku tidak mengutusmu kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta."
Hakikat dakwah para nabi sebelumnya adalah menyebarkan
Islam, begitu juga ajaran yang dibawa oleh Nabi yang terakhir adalah Islam.
Beliau saw adalah Muhammad bin Abdillah bin Abdul Muthalib, anak seorang wanita
Quraisy. Beliau saw adalah pemimpin anak-anak Nabi Adam as. Beliau saw adalah
hamba Allah SWT dan Rasul-Nya, serta rahmat Allah SWT yang dihadiahkan kepada
umat manusia.
Beliau saw lahir di tanah Arab. Ketika itu malam gelap,
tiba-tiba Abdul Muthalib membayangkan bahwa matahari telah terbit, lalu ia
bangun dan ternyata mendapati dirinya di pertengahan malam, keheningan yang
luar biasa menyelimuti gurun yang terbentang. Ia menuju pintu kemah, lalu
menyaksikan bintang-bintang bersinar di langit, dan dunia tampak di selimuti
dengan malam. Ia kembali menutup pintu kemah dan tidur. Belum lama ia dikuasai
oleh rasa kantuk yang amat sangat, sehingga ia kembali bermimpi untuk kedua
kalinya. Segala sesuatunya tampak jela s kali ini, Sesungguhnya sesuatu yang
besar memerintahnya untuk melaksanakan perintah yang sangat penting, "Galilah
zamzam!" Dalam mimpinya Abdul Muthalib bertanya: "Apakah itu
zamzam?" Kemudian untuk kedua kalinya perintah itu mengatakan bahwa ia
diperintahkan untuk menggali zamzam. Belum lama Abdul Muthalib melihat sesuatu
yang bersembunyi itu, sehingga ia berdiri di tempat tidurnya dan hatinya
berdebar dengan keras. Abdul Muthalib bangkit, lalu ia membuka pintu kemah
kemudian pergi ke gurun yang luas. Apakah arti zamzam? Tiba-tiba pikirannya
dipenuhi dengan cahaya yang datang dari jauh, bahwa pasti zamzam adalah sebuah sumur,
tetapi apa yang diinginkan oleh suara yang datang dalam tidur itu agar ia
menggali sumur, di sana tidak ada jawaban selain satu jawaban dari pertanyaan
ini, yaitu agar orang-orang yang berhaji dan berkeliling di sekitar Ka'bah
dapat meminumnya. Tetapi apa nilai dari sumur itu sendiri, bukankah di sana
terdapat banyak sumur yang dapat diminum oleh orang-orang yang berhaji.
Abdul Muthalib duduk di tengah-tengah pasir gurun pada
pertengahan malam, ia memikirkan bintang-bintang sembari merenungkan cerita-cerita
kuno yang mengatakan tentang sumur yang memancar darinya air sebagai akibat
dari pukulan kaki Nabi Ismail as, di sana juga ada cerita yang mengatakan bahwa
sumur itu telah binasa sesuai dengan perjalanan zaman. Matahari terbit di atas
gurun Jazirah Arab, Abdul Muthalib keluar menemui orang-orang, dan menceritakan
kepada mereka bahwa ia akan menggali sebuah sumur di tempat tertentu, ia
menunjukkan ke tempat yang di situ ia diberitahu oleh suara yang ada dalam
mimpinya. Orang-orang Quraisy menolaknya, Sesungguhnya tempat yang diisyaratkan
oleh Abdul Muthalib terletak di antara dua berhala dari berhala-berhala yang
biasa disembah oleh masyarakat setempat, yaitu di antara berhala yang bernama
Ashaf dan NAllah. Abdul Muthalib merasa bahwa usahanya sia-sia untuk meyakinkan
kaumnya agar mengizinkannya untuk menggali sumur. Mereka mengetahui bahwa Abdul
Muthalib tidak mempunyai sesuatu selain hanya seorang anak. Bahwasanya ia tidak
memiliki anak-anak yang dapat menolong dan memperkuatnya serta melaksanakan keinginan-keinginannya.
Pada saat itu di kawasan negeri Arab dipenuhi dengan kabilah-kabilah yang
terjalin suatu ikatan fanatisme atau kesukuan yang kuat dan usaha untuk
melindungi keluarga yang sangat menonjol. Akhirnya Abdul Muthalib pergi dalam
keadaan sedih, lalu ia berdiri di hadapan Ka'bah dan mengungkapkan suatu nazar
kepada Allah SWT. Ia berkata: "Jika aku mendapat sepuluh anak laki-laki,
dan mereka menginjak usia dewasa, sehingga mereka mampu melindungiku saat aku
menggali sumur Zamzam, maka aku akan menyembelih salah seorang dari mereka di
sisi Ka'bah sebagai bentuk korban." Pintu langit pun terbuka untuk doanya.
Belum sampai berlangsung satu tahun, istrinya melahirkan anaknya yang kedua dan
setiap tahun ia melahirkan anak laki-laki sampai pada tahun yang kesembilan,
sehingga Abdul Muthalib mempunyai sepuluh anak laki-laki. Kemudian berlalulah
zaman dan anak-anak Abdul Muthalib menjadi besar. Abdul Muthalib akhirnya
menjadi seseorang yang memiliki kemampuan. Kemudian Abdul Muthalib berusaha
melakukan rencananya yang diisyaratkan dalam mimpinya itu, yaitu ia
bersiap-siap untuk mengorbankan salah satu anaknya sebagai bentuk
pelaksanaannya dari nazarnya. Maka dilakukanlah undian atas sepuluh anaknya,
lalu keluarlah nama anaknya yang paling kecil yaitu Abdullah. Ketika nama anak
itu keluar dalam undian, maka orang-orang yang ada disekitarnya berusaha
memberontak, mereka mengatakan bahwa mereka tidak akan membiarkan Abdullah
disembelih.
Abdullah saat itu terkenal sebagai seseorang yang bersih
dikawasan Arab, ia telah dapat menarik simpati masyarakat di sekitarnya. Ia
tidak pernah menyakiti seseorang pun. Bahkan ia tidak pernah meninggikan
suaranya lebih dari orang lain. Senyuman khas Abdullah terkenal sebagai
senyuman yang paling lembut di kawasan Jazirah Arab. Muatan ruhaninya demikian
jernih, dan hatinya yang mulia menyerupai sebuah kebun di tengah-tengah gurun
hati-hati yang keras, oleh karena itu semua manusia datang kepadanya dan
menentang usaha penyembelihannya. Para pembesar Quraisy berkata, "Lebih
baik kami menyembelih anak-anak kami daripada ia harus disembelih, dan
menjadikan anak-anak kami sebagai tebusan baginya. Kami tidak akan menemukan
seseorang pun yang lebih baik dari dia seandainya kami menyembelihnya,
pertimbangkanlah kembali masalah itu, dan biarkan kami bertanya kepada
dukun."
Abdul Muthalib tampak tidak mampu menghadapi tekanan ini,
lalu ia mempertimbangkan kembali apa yang telah ditetapkannya. Kemudian mereka
mendatangi seorang dukun. Si dukun berkata: "Berapakah taruhan yang kalian
miliki?" Mereka menjawab: "Sepuluh ekor unta." Dukun itu
berkata: "Datangkanlah sepuluh unta, lalu lakukanlah kembali undian
atasnya dan atas nama Abdullah, jika undian datang padanya, maka tambahlah
sepuluh ekor unta lagi, lalu ulangilah terus undian tersebut, demikian hingga
tidak keluar lagi nama Abdullah."
Kemudian dilakukanlah undian atas nama Abdullah dan atas
sepuluh ekor unta yang besar. Undian itu pun mengeluarkan terus nama Abdullah,
hingga Abdul Muthalib menambah sepuluh ekor unta lagi, kemudian lagi-lagi yang
keluar nama Abdullah sehingga mereka pun menambah sepuluh ekor unta lagi sampai
jumlah unta itu telah mencapai seratus ekor unta. Setelah itu, datanglah nama
unta tersebut. Maka saat itu, masyarakat demikian gembiranya sehingga
berlinangan air mata, kegembiraan dari mereka karena melihat Abdullah berhasil
diselamatkan. Kemudian disembelihlah seratus ekor unta di sisi Ka'bah, dan
mereka membiarkannya di situ sehingga korban itu tidak disentuh oleh seseorang
pun dan juga disentuh oleh binatang-binatang buas.
Abdul Muthalib sangat gembira atas keselamatan anaknya,
Abdullah. Lalu ia menetapkan untuk menikahkannya dengan gadis terbaik di
Jazirah Arab, kemudian ia keluar dengannya pada suatu hari dari Ka'bah ke rumah
Wahab, dan di sana ia meminang untuknya Aminah binti Wahab. Kemudian Aminah
binti Wahab menikah dengan Abdullah bin Abdul Muthalib, seorang pemuda yang
paling mulia dan paling dicintai oleh orang-orang Quraisy.
Dinyalakanlah api-api di gunung-gunung Mekah, agar para
musafir dan para tamu mengetahui tempat diadakannya acara tersebut, yaitu acara
pernikahan antara Abdullah dan Aminah. Lalu disembelihlah hewan-hewan korban,
dan manusia dari kalangan orang-orang fakir bahkan binatang-binatang buas dan
burung makan darinya. Abdullah tinggal bersama istrinya dua bulan di rumah
pernikahan, hingga suatu hari ada kabar bahwa kafilah akan berangkat, lalu
Abdullah pun mengikuti kafilah tersebut dan melakukan perjalanan bersama
kafilah perdagangan Quraisy menuju Syam, itu adalah kesempatan terakhir yang diperoleh
Aminah binti Wahab bersamanya. Wajah Abdullah yang mulai tampak berseri-seri
mengucapkan selamat tinggal kepada Aminah, lalu setelah itu bayang-bayang
wajahnya tersembunyi bersama kafilah dan rnereka pun hilang. Aminah tidak
mengetahui bahwa itu adalah kesempatan terakhirnya setelah dua bulan dari
perkawinannya. Abdullah mengunjungi paman-pamannya dari kabilah bani Najar di
Madinah, dan di sana ia meletakkan jasadnya di muka bumi, ia meninggal dunia.
Abdullah bin Abdul Muthalib kini telah meninggal. Saat itu
ia berusia dua puluh lima tahun. Kabar kematiannya tiba-tiba tersebar dan
sangat memilukan hati orang-orang yang mendengarnya, sehingga kabar itu sampai
ke istrinya. Aminah tampak menangis tersedu-sedu dan ia tampak menyampaikan
pertanyaan-pertanyaan pada dirinya dan tidak mengetahui jawabannya, mengapa
Allah SWT menebusnya dengan seratus unta jika kemudian Dia menetapkan kematian
baginya. Tidak lama kemudian, lalu bergeraklah dirahimnya janin dengan gerakan
yang sedikit, ia tampak mulai mengetahui bahwa ia sedang hamil. Aminah menangis
dua kali, pertama ia menangis untuk dirinya sendiri dan kali ini ia menangis
untuk anak yang ditinggal mati ayahnya sebelum ia sempat dilahirkan. Aminah
tidak pernah mengetahui sebelumnya bahwa janin yang dikandungnya akan menjadi
anak yatim, ayahnya meninggal saat ia dilahirkan. Anak yatim ini harus
menanggung beban anak-anak yatim dan orang-orang fakir serta orang-orang yang
sedih di muka bumi. Ia akan menjadi Nabi yang terakhir dan rasul-Nya kepada
manusia. Ia akan menjadi rahmat yang dihadiahkan kepada manusia dan tidak akan
mengetahui makna rahmat kecuali orang yang merasakan penderitaan dan kepahitan.
Inilah anak kecil yang sebelum dilahirkan telah menelan kesedihan. Dan
berlalulah hari demi hari, lalu hilanglah tangisan penderitaan dan mata Aminah
pun telah mengering, namun kesedihannya tampak menyerupai sebuah pohon yang
turnbuh bersama kehausan. Kemudian kesedihannya hari demi hari semakin ia
rasakan tetapi kesedihannya itu mulai tidak tampak ketika ia mendapatkan bahwa
janin yang dikandungnya tidaklah memberatkannya, sebaliknya ia merasakan betapa
ringannya janin yang dikandungnya bagaikan merpati yang berkeliling di seputar
Ka'bah, dan seandainya kesedihannya yang selalu mengitarinya, maka tidak ada
wanita yang lebih bahagia darinya dengan kehamilan yang ringan ini. Janin itu
adalah manusia yang mulia di sisi Tuhan, kemudian semakin dekatlah hari
kelahirannya. Sementara itu, pasukan Abrahahh mendekati Mekah.
Abrahahh adalah seorang penguasa Yaman, yaitu pada saat
Yaman tunduk kepada Habasyah setelah penguasa Persia diusir. Di Yaman ia
membangun suatu gereja yang menunjukkan bangunan yang menakjubkan. Abrahahh
membangunnya dengan niat agar orang-orang Arab berpaling dari Baitul Haram di
Mekah. Ia melihat betapa orang-orang Yaman tertarik dengan rumah tersebut. Dan
ketika ia tidak melihat gereja yang dibangunnya memiliki daya tarik seperti itu
dan tidak mampu menarik hati orang-orang Arab, maka ia berkeinginan kuat untuk
menghancurkan Ka'bah, sehingga orang-orang tidak menuju ke Ka'bah lagi
melainkan ke gerejanya. Demikianlah akhirnya ia menyiapkan pasukan yang besar
yang dipenuhi dengan berbagai senjata, kemudian pasukan itu menuju Ka'bah.
Pasukan Abrahahh terdiri dari kelompok gajah yang besar yang
digunakannya untuk menghancurkan Ka'bah. Gajah-gajah itu bagaikan tank-tank
yang kita gunakan saat ini. Orang-orang Arab pun mendengar rencana tersebut.
Memang orang-orang Arab saat itu terkenal sebagai penyembah berhala, meskipun
demikian mereka sangat memberikan penghargaan dan penghormatan terhadap Ka'bah,
karena mereka meyakini bahwa mereka adalah anak-anak Nabi Ibrahim as dan Nabi
Ismail as pemelihara Ka'bah.
Perjalanan pasukan tiba-tiba dihadang oleh seorang lelaki
yang mulia dari penduduk Yaman yang bernama Dunaher. Ia mengajak kaumnya dan
dari kalangan orang-orang Arab untuk memerangi Abrahahh, sehingga ada beberapa
orang yang mengikutinya. Abrahahh berhadapan dengan tentara tersebut tetapi
pasukan yang sedikit itu dapat dengan mudah dipatahkan oleh pasukan kafir yang
besar itu. Kemudian Dunaher pun kalah dan menjadi tawanan Abrahahh. Pasukan
Abrahahh tersebut juga sempat ditentang oleh Nufail bin Hubaid al-Aslami, namun
Abrahahh pun dapat mengalahkan mereka dan berhasil menawan Nufail.
Kemudian ketika Abrahahh melewati kota Taif, menghadaplah
kepadanya beberapa orang tokoh setempat, dan mereka tampak gemetar ketakutan
dan berkata kepadanya bahwa sesungguhnya 'rumah' yang ditujunya tidak berada di
tempat mereka, tetapi berada di Mekah. Hal itu mereka sampaikan dengan maksud
untuk memalingkannya dari rumah berhala mereka, di mana mereka membangun di
dalamnya berhala yang bernama Latha kemudian mereka mengutus seseorang yang
akan menunjukkan kepada Abrahahh letak Ka'bah. Ketika Abrahahh berada di antara
Taif dan Mekah, ia mengutus seorang pemimpin pasukannya sehingga ia melihat
keadaan Mekah. Di sana ia merampas banyak harta dari kaum Quraisy dan selain
mereka, dan di antara yang dirampasnya adalah dua ratus unta milik Abdul
Muthalib bin Hasyim. Saat itu Abdul Muthalib adalah salah seorang pembesar
Quraisy dan pemimpin mereka, serta pengawas sumur Zamzam.
Kedatangan utusan Abrahahh di Mekah telah menimbulkan
gejolak pada kabilah-kabilah. Akhirnya kaum Quraisy bergerak, begitu juga kaum
Khananah. Kemudian mereka mengetahui bahwa mereka tidak memiliki kemampuan
untuk melawan Abrahahh, sehingga mereka membiarkannya, lalu tersebarlah di
Jazirah Arab berita tentang datangnya pasukan yang kuat yang sulit untuk
ditandingi. Dalam surat yang dibawa oleh utusannya itu, Abrahahh menyampaikan
bahwa ia tidak datang untuk memerangi mereka, namun ia datang hanya untuk
menghancurkan Ka'bah. Jika mereka tidak menentangnya, maka darah mereka tidak
akan ditumpahkan. Lalu utusan itu menemui Abdul Muthalib, ia menceritakan
tentang keinginan Abrahahh. Abdul Muthalib berkata: "Kami tidak ingin
memeranginya karena kami tidak memiliki kekuatan. Ka'bah adalah rumah Allah SWT
yang mulia dan suci, dan rumah kekasih-Nya Ibrahim. Jika Ia mencegahnya, maka
itu adalah rumah-Nya dan tempat suci-Nya, namun jika Ia membiarkannya, maka
demi Allah kami tidak memiliki kekuatan untuk mempertahankannya."
Kemudianutusan itu pergi bersama Abdul Mutihalib menuju Abrahahh.
Abdul Muthalib adalah seseorang yang sangat terpandang dan
sangat mulia. Ia memiliki kewibawaan dan kehormatan yang mengagumkan. Ketika
Abrahahh melihatnya, Abrahahh menampakkan penghormatan kepadanya. Abrahahh
memuliakannya dan mendudukannya di bawahnya, ia tidak suka bahwa ia duduk
bersamanya di kursi kekuasaannya. Lalu Abrahahh turun dari kursinya dan duduk
di atas sebuah permadani dan mendudukkan Abdul Muthalib di sisinya. Kemudian ia
berkata kepada penerjemahnya: "Katakan padanya apa kebutuhannya?"
Abdul Muthalib berkata: "Kebutuhanku adalah agar Abrahahh mengembalikan
dua ratus ekor unta yang diambilnya dariku" Ketika Abdul Muthalib
mengatakan demikian, wajah Abrahahh berubah, lalu ia berkata kepada
penerjemahnya: "Katakan padanya sungguh aku merasa kagum ketika
melihatnya, kemudian aku merasakan kehati-hatian saat berbicara dengannya,
apakah engkau berbicara denganku tentang dua ratus ekor unta yang telah aku
ambil, lalu engkau membiarkan rumah yang merupakan simbol agamanya dan
kakek-kakeknya, yang aku datang untuk menghancurkannya dan dia tidak
menyinggungnya sama sekali" Abdul Muthalib menjawab: "Aku adalah
pemilik unta, sedangkan pemilik rumah itu adalah Tuhan yang
melindunginya." Abrahahh berkata: "Dia tidak akan mampu melindunginya
dariku." Abdul Muthalib menjawab: "Lihat saja nanti!"
Selesailah dialog antara Abdul Muthalib dan Abrahahh. Abrahahh
pun mengembalikan unta yang telah dirampasnya. Abdul Muthalib pergi menemui
orang-orang Quraisy dan menceritakan apa yang dialaminya, dan ia memerintahkan
mereka untuk meninggalkan Mekah dan berlindung dibalik gua-gua di gunung.
Akhirnya kota Mekah dikosongkan oleh pemiliknya. Aminah binti Wahab keluar ke
gunung-gunung di dekat kota Mekah kemudian malaikat turun di bumi Jarzirah
Arab.
Abdul Muthalib berdiri dan memegangi pintu Ka'bah dan
berdiri bersama dengan sekelompok orang-orang Quraisy, mereka berdoa kepada
Allah SWT dan meminta perlindungan-Nya, agar para malaikat memerintahkan
gajah-gajah tidak melangkahkan kakinya sehingga gajah itu pun tetap di
tempatnya dan menaati perintah para malaikat, kemudian gajah-gajah itu menerima
pukulan yang dahsyat namun gajah-gajah itu tetap berdiam di tempatnya,
gajah-gajah itu tampak gemetar dan berteriak tetapi lagi-lagi gajah-gajah itu
menolak untuk bergerak dan tidak bergerak selangkah pun. Abrahahh bertanya:
"Mengapa pasukan tidak bergerak?" Kemudian dikatakan kepadanya bahwa
gajah-gajah menolak untuk bergerak. Abrahah mengangkat cemetinya. Dengan muka
emosi, ia ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi dengan gajah-gajahnya.
Matahari saat itu bersinar dan ia duduk di kemahnya. Ketika
ia keluar, matahari bersembunyi di balik segerombolan burung. Abrahah
mengangkat pandangannya ke arah langit. Mula-mula ia membayangkan bahwa ia
melihat sekawanan awan yang hitam. Kemudian ia mengamat-amati awan itu. Dan
ternyata ia bukan awan biasa. Itu adalah sekelompok burung yang menutupi cahaya
matahari dan menyerupai awan yang tebal. Burung ababil, burung yang banyak.
Gajah-gajah semakin berteriak dengan kencang dan tampak
ketakutan. Dan rasa takut itu kini menghinggapi seluruh pasukan. Abrahah
berteriak di tengah-tengah pasukannya agar gajah diusahakan untuk maju secara
paksa. Kemudian terbukalah salah satu jendela dari jendela al-Jahim, dan
burung-burung itu menghujani pasukan dengan batu dari Sijil, yaitu batu yang
sama yang pernah dihujankan kepada kaum Nabi Luth. Batu itu menyerupai bom-bom
atom yang digunakan saat ini.
Jika Anda membaca buku-buku kuno, maka Anda akan mengetahui
bagaimana peristiwa yang menimpa pasukan Abrahah. Anda akan membayangkan bahwa
Anda berada di hadapan suatu kekuatan yang menghancurkan yang tidak diketahui
asal muasalnya. Dunia mengenali sebagian darinya setelah empat belas abad dari
peristiwa tersebut. Buku-buku itu mengatakan bahwa pasukan itu dihancurkan
dengan penghancuran yang dahsyat.
Para tentara Abrahah kembali dalam keadaan binasa di mana daging-daging
dari tubuh mereka berceceran di jalan. Abrahah pun mendapatkan luka dan mereka
keluar dari tempat itu dalam keadaan dagingnya terpisah satu persatu. Abrahah
pun terbelah dadanya dan mati. Kemudian jasad para pasukannya tersebar dan
berceceran di bumi, seperti tanaman yang dimakan oleh binatang. Setelah
mendekati setengah abad, turunlah suatu surah di Mekah yang menceritakan
tentang peristiwa itu:
"Apakah kamu tidak memperhatikan bagimana Tuhanmu telah
bertindak terhadap tentara gajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya
mereka (untuk menghancurkan Ka 'bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada
mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu
(berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadihan mereka seperti daun
yang dimakan (ulat)." (QS. al-Fil: 1-5)
Pasukan gajah yang ingin memporak-porandakan Mekah
dikalahkan. Kemudian mereka dihancurkan dan Tuhan pemilik Ka'bah berhasil
melindungi rumah suci-Nya. Perlindungan tersebut bukan sebagai penghormatan
bagi orang yang tinggal di rumah itu dan bukan sebagai bentuk pengkabulan doa
kaum yang menyembah berhala yang memenuhi tempat itu. Allah SWT sebagai
Pelindung Ka'bah memeliharanya karena adanya hikmah yang tinggi; Allah SWT
menginginkan sesuatu bagi rumah itu; Allah SWT ingin melindunginya agar tempat
itu menjadi tempat yang damai bagi manusia dan supaya tempat itu menjadi pusat
dari akidah yang baru dan menjadi tanah bebas yang aman, yang tidak dikuasai
oleh seseorang pun dari luar dan juga tidak didominasi oleh pemerintahan asing
yang akan membatasi dakwah. Yang demikian itu karena di sana terdapat rumah
dari rumah-rumah di Mekah yang lahir di sana seorang anak di mana ibunya
bernama Aminah binti Wahab dan ayahnya adalah Abdullah, salah seorang tokoh
Arab. Anak itu belum dilahirkan dan belum dapat tugas kenabian dan ia belum
memikul Islam di atas pundaknya dan belum menjadi rahmat bagi alam semesta.
Kemudian datanglah Abrahah yang ingin menghancurkan semua ini tanpa ia
mengetahui semua rahasia ini.
Tragedi yang menimpa Abrahah adalah karena bahwa ia berusaha
menentang kehendak Ilahi sehingga kehendak Ilahi itu menghancurkannya dengan
mukjizat yang mengagumkan. Datanglah banyak burung dengan membawa batu-batuan
yang tidak didengar suaranya. Kemudian burung-burung melemparkan batu-batu itu
kepada Abrahah beserta tentaranya. Semua ini berdasarkan rencana Ilahi terhadap
rumah-Nya dan agama-Nya serta nabi-Nya sebelum orang mengetahui bahwa Nabi
Islam telah bersiap-siap untuk meninggalkan tempat tidurnya di perut ibunya dan
mulai memasuki kehidupan yang keras di muka bumi.
Di tengah-tengah kegembiraan Mekah karena keselamatan
penghuninya dan selamatnya Ka'bah, Aminah binti Wahab bermimpi: di tengah suatu
malam ia menyaksikan dirinya berdiri sendirian di tengah-tengah gurun, dan
telah keluar dari dirinya suatu cahaya besar yang menyinari timur dan barat dan
terbentang hingga langit. Aminah tiba-tiba terbangun dari tidurnya namun ia
tidak mengetahui tafsir dari mimpinya.
Berlalulah hari demi hari dari tahun gajah. Dan pada waktu sahur
dari malam Senin hari keduabelas dari bulan Rabiul Awal, Aminah melahirkan
seorang anak kecil yang yatim yang bernama Muhammad bin Abdillah bin Abdul
Muthalib, seorang cucu dari Ismail bin Ibrahim bin Adam.
Sebelum ia dilahirkan, dunia mati karena kehausan padanya.
Kehausan dunia sangat besar kepada cinta, rahmat, dan keadilan. Sekarang teiah
berlalu 600 tahun dari kelahiran al-Masih dan orang-orang Masehi telah menjauhi
ajaran cinta, bahkan keyakinan-keyakinan berhalaisme telah meresap kepada
sebagian kelompok mereka dan kejernihan ajaran tauhid telah ternodai. Sedangkan
orang-orang Yahudi telah meninggalkan wasiat-wasiat Musa dan mereka kembali
menyembah lembu yang terbuat dari emas. Dan setiap orang dari mereka lebih
memilih untuk memiliki lembu emas yang khusus. Demikianlah, berhalaisme telah
menyerang di bumi. Bumi dipenuhi oleh kegelapan. Akal disingkirkan dan Tuhan
diiupakan dan mereka menyerahkan diri mereka kepada pembohong.
Ketika jantung dunia telah terkena kekeringan, maka
memancarlah dari timur suatu mata air keimanan yang jernih yang menjadi puas
dengannya separo dunia. Dan mukjizat besar terjadi ketika mata air ini
mengeluarkan air yang jernih dari jantung gurun yang paling besar ketandusannya
di dunia, yaitu gurun jazirah Arab. Berkenaan dengan penggambaran masa
tersebut, dalam hadis yang mulia dikatakan: "Sesungguhnya Allah melihat
penduduk bumi lalu Dia murka kepada mereka, baik orang-orang Arab maupun
orang-orang Ajam kecuali sebagian kecil dari Ahlulkitab."
Di tenda yang kasar, lahirlah seorang anak yatim yang
kemudian bertanggung jawab untuk memberikan minum kepada dunia yang haus pada
cinta, keadilan, kebebasan, serta kebenaran. Sementara itu, beberapa langkah
dari tempat kelahirannya terdapat berhala-berhala yang memenuhi Baitul 'Athiq
dan sekitar Ka'bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail agar menjadi
rumah Allah SWT dan Dia disembah di dalamnya dan manusia merasa tenteram di
dalamnya. Di rumah yang kuno ini—yang dibangun sebelumnya oleh Adam—dipenuhi
patung-patung tuhan yang terbuat dari batu dan kayu. Ini menunjukkan betapa
akal orang-orang Arab saat itu mengalami titik terendah.
Sementara itu nun jauh di sana, tepatnya di Yatsrib atau
Madinah dipenuhi oleh orang-orang Yahudi yang mereka datang di sana karena
melarikan diri dari penindasan orang-orang Romawi. Mereka tinggal di situ
bagaikan srigala-srigala di atas tanah yang tersubur di mana mereka melakukan
monopoli dalam perdagangan. Mereka membagun kejayaan mereka dengan memanfaatkan
orang-orang Arab dan keheranan mereka terhadap diri mereka sendiri.
Para cendikiawan Yahudi memperdagangkan segala sesuatu,
dimulai dari emas sampai Taurat. Mereka menyembunyikan kertas-kertas darinya
dan menampakkan sebagiannya; mereka mengubah kertas-kertas Taurat itu untuk
memperkaya diri mereka. Pada saat orang-orang Yahudi menyembah emas dan sangat
lihai melakukan persekongkolan, orang-orang Arab justru menyembah batu dan
mereka pandai berperang. Mereka juga lihai dalam membuat syair lalu
menggantungkannya di atas tirai-tirai Ka'bah. Orang-orang Arab hidup di bawah
naungan sistem kesukuan di mana kepala suku adalah pemimpin dan nilainya
sebanding dengan anak buahnya, dan kemampuan mereka dalam berperang. Dan
keutamaan seseorang dilihat dari asal muasalnya serta nilainya juga dilihat dari
kefanatikannya serta kebanggannya kepada nasab yang merupakan kemuliannya, juga
kefanatikannya terhadap berhala tertentu yang merupakan agamanya. Jadi, segala
bentuk kemuliaan dan kewibawaan tidak terbentuk kecuali dalam ruang lingkup
yang sempit dalam kabilah atau kesukuan.
Sedangkan di tempat yang jauh dari Mekah, Romawi menyerupai
burung rajawali yang lemah, namun belum sampai kehilangan kekuatannya.
Orang-orang Romawi sangat menyanjung kekuatan. Sedangkan di belahan timur dari
utara negeri Arab, orang-orang Persia menyembah api dan air. Api tetap menyala
di tempat peribadatan mereka di mana manusia rukuk untuknya. Dan di sana
terdapat danau Sawah yang dianggap suci oleh mereka.
Sementara itu, Kisra, raja kaum Persia duduk di atas
singgasananya dan memberikan keputusan terhadap manusia. Keputusan Kisra selalu
didengar dan dilaksanakan. Tidak ada seorang pun yang berani menentangnya dan
menolaknya. Orang-orang Persia berhasil mengalahkan Romawi dan Yunani, sehingga
mereka menjadi kekuatan yang dahsyat di muka bumi. Meskipun mereka memiliki
kekuatan yang sangat luar biasa, namun penyembahan api jelas-jelas menunjukkan
betapa bodohnya mereka dan betapa kekuatan mereka diliputi oleh kebodohan
sehingga akal mereka tercabut dan mereka terhalangi untuk mencapai kebenaran.
Alhasil, kegelapan semakin meningkat di setiap penjuru bumi dan kehidupan
berubah menjadi hutan yang lebat di mana di dalamnya seorang yang kuat akan
menyingkirkan seorang yang lemah dan di dalamnya yang menang adalah kebatilan.
Di tengah-tengah suasana yang demikian kelam, lahirlah
seorang anak di tenda Mekah. Ketika anak tersebut lahir, maka padamlah api yang
disembah oleh kaum Persia dan keringlah danau Sawah yang disucikan oleh
manusia, bahkan robohlah empat belas loteng dari istana Kisra. Dan setan merasa
bahwa penderitaan yang besar telah merobek-robek hatinya. Ini semua sebagai
simbol dimulainya kehancuran kejahatan atau keburukan di muka bumi dan
terbebasnya akal manusia dari penyembahan terhadap sesama manusia atau terhadap
hal-hal yang bersifat khurafat. Manusia diajak hanya untuk menyembah kepada
Allah SWT. Kelahiran Rasul sebagai bukti hilangnya kelaliman, sebagaimana
kelahiran Nabi Musa yang menunjukkan kebebasan Bani Israil dari kelaliman
Fir'aun.
Ajaran Muhammad bin Abdillah merupakan ajaran revolusi yang
paling meyakinkan dan yang paling penting yang pernah dikenal di dunia; ajaran
yang bertugas untuk menyelamatkan dan membebaskan akal dan materi. Tentara
Al-Qur'an adalah tentara yang paling adil dan paling berani untuk menghancurkan
orang-orang yang lalim. Kita akan melihat dalam sejarah Nabi bahwa
kejadian-kejadian luar biasa telah mengelilingi Ka'bah sebelum kelahirannya.
Kemudian terjadilah peristiwa luar biasa setelah kelahirannya di mana
terjadilah peristiwa pembelahan dada pada saat beliau masih kecil, begitu juga
beliau dinaungi oleh awan di waktu kecil, bahkan beliau terkenal pada saat
masih kecil dengan kecenderungan untuk meninggalkan permainan-permainan yang
biasa dimainkan oleh anak-anak kecil seusia beliau. Allah SWT memberikan
penjagaan khusus kepadanya sehingga Jibril as turun kepadanya dengan membawa
wahyu. Selanjutnya, mukjizatnya yang pertama adalah mukjizat yang terdapat pada
kepribadiannya dan pemikiran-pemikirannya. Itulah yang menjadi mukjizatnya yang
terbesar setelah Al-Qur'an; itu adalah bangunan ruhani yang tinggi di mana
beliau mampu menahan penderitaan di jalan Allah SWT. Dan dalam menegakkan
kebenaran, beliau memikul berbagai macam rintangan. Beliau melaksanakan amanat
yang diembannya secara sempuma dan sebaik-baik mungkin. Hal yang indah yang
dikatakan tentang mukjizat Nabi setelah diutusnya beliau adalah bahwa beliau
tidak mempunyai mukjizat selain usaha membebaskan akal: tanpa memiliki kekuatan
luar biasa selain membebaskan pikiran, tanpa dalil selain kalimat Allah SWT.
Sedangkan Isa bin Maryam telah berdakwah dan mengajak
manusia untuk menciptakan kesamaan, persaudaraan, dan cinta kasih di antara
mereka, namun Muhammad saw diberi karunia untuk mewujudkan persamaan,
persaudaraan, dan cinta kasih di antara orang-orang mukmin di tengah-tengah
kehidupannya dan setelah kehidupannya.
Ketika Nabi Isa mampu menghidupkan orang-orang yang mati dan
mengeluarkan mereka dari kuburan, Muhammad bin Abdillah menghidupkan
orang-orang hidup dari kematian mereka yang tidak pernah mereka sadari. Itu
adalah bentuk kematian yang paling berat. Beliau juga mengeluarkan rnereka dari
kegelapan dan kebodohan menuju cahaya ilmu, dan dari belenggu syirik dan
kekufuran menuju dunia tauhid.
Sulaiman sebagai seorang Nabi dan raja mampu memperkerjakan
jin untuk mengabdi padanya, bahkan mereka mampu terbang beribu-ribu mil untuk
menghadirkan singgasana musuh-musuhnya agar mereka semua tercengang terhadap
kemampuannya, sehingga mereka masuk Islam. Namun Muhammad saw justru mengabdi
kepada Islam hanya sebagai seorang tentara yang sederhana. Beliau mengetahui
bahwa ketika beliau lalai sesaat saja dari dakwah di jalan Allah SWT, maka
kesempatannya dalam menyebarkan agama Islam akan hilang.
Di saat terjadi peristiwa besar dalam peperangan, tiba-tiba
azan salat dikumandangkan, sehingga para pasukan yang berperang mengerjakan
salat. Tidak ada malaikat yang turun untuk melindungi mereka ketika salat atau
mencegah datangnya anak-anak panah dari punggung mereka saat sujud. Karena itu,
hendaklah para pasukan melindungi dirinya sendiri. Para pasukan mukmin berusaha
salat secara bergantian: sebagian mereka salat dan sebagian mereka bertugas
untuk menjaga.
Allah SWT berfirman:
"Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka
(sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan salat bersama-sama mereka, maka
hendaklah segolongan dari mereka berdiri (salat) besertamu dan menyandang
senjata, kemudian apabila mereka sujud (telah menyempurnakan serakaat), maka
hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah
datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah
mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata.
Orang-orang kafir ingin agar kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu,
lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus."(QS. an-Nisa': 102)
Selesailah masalah itu dan tidak adak malaikat yang turun
untuk melindunginya dan menolongnya. Ini adalah masa kematangan akal dan masa
keletihan para nabi dan orang-orang mukmin. Dan sesuai kadar keletihan mereka
dalam menyampaikan ajaran Islam, mereka pun akan mendapatkan balasan yang
besar.
Pada masa para nabi sebelum Nabi Muhammad saw, mereka
menghadirkan mukjizat-mukjizat kepada kaum mereka saat memulai dakwah, sehingga
kaum tersebut mempercayai apa saja yang mereka bawa, sedangkan Nabi Muhammad
bin Abdillah tidak menghadirkan kepada kaumnya selain dirinya dan ketulusannya.
Allah SWT telah memutuskan untuk melindungi Musa dan
memerintahkannya untuk mengangkat gunung di atas kaumnya hingga mereka beriman
kepada Taurat, atau untuk menjatuhkan gunung tersebut di atas mereka. Ketika
mengetahui hal yang Demikian itu, orang-orang Yahudi sujud dengan meletakkan
pipi mereka di atas tanah dan mereka mengamati bukit batu yang berada di atas
kepala mereka yang diangkat oleh tangan yang tersembunyi. Sedangkan Nabi
Muhammad bin Abdillah tak pernah memaksa seseorang pun. Berimanlah beberapa
orang kepadanya dan puaslah beberapa orang kepadanya dan matilah bersamanya
orang-orang yang mati dalam keadaan puas. Beliau tidak membawa pedang kecuali
saat panah yang beracun mendekati jantung Islam dan mengancamnya.
Dakwah para nabi menuntut terjadinya mukjizat demi mukjizat.
Ini karena masa kekanak-kanakan manusia serta kelemahan akal dan hilangnya
panca indera menuntut rahmat Allah SWT untuk mendatangkan mukjizat yang sesuai
dengan masa turunnya mukjizat tersebut dan budaya masyarakat setempat. Adalah
hal yang maklum bahwa di tengah-tengah penduduk Mekah saat itu tidak terdapat
orang-orang yang cerdas atau orang-orang yang bijak yang mampu menyerap
kata-kata yang baik. Dan kesulitan yang dihadapi oleh Islam adalah bahwa ia
tidak diturankan pada masa ini saja, tetapi Islam diturunkan untuk setiap masa.
Allah SWT mengetahui bahwa manusia telah memasuki masa kematangan berpikir yang
mengagumkan, maka hikmah-Nya menuntut bahwa pernyataan yang pertama kali
disebutkan dalam risalah-Nya adalah "iqra'" (bacalah). Di samping
itu, risalah tersebut mengandung pemikiran yang universal, sistem yang
membangun, dan hukum yang mempesona, serta kebebasan yang diidamkan, dan
manusia yang sempurna.
Adalah tidak mengurangi kehormatan para nabi sebelum Nabi
Muhammad saw di mana mereka tidak diutus di masa-masa kematangan pemikiran,
tetapi yang menambah kehormatan Nabi Muhammad saw bahwa beliau diutus di tengah-tengah
masa kematangan berpikir, dan beliau diutus sebelum datangnya masa ini. Beliau
memikul berbagai lipat cobaan yang pernah dipikul oleh para nabi; beliau
berdakwah dengan menanggung berbagai lipat godaan dan cobaan; beliau mengalami
siksaan yang pernah dialami oleh semua para nabi; beliau mencintai Allah SWT
sebagaimana para nabi mencintai-Nya. Allah SWT memuliakannya ketika beliau
mengimami mereka di saat salat pada saat beliau melakukan Isra' dan Mi'raj.
Meskipun demikian, ketika beliau keluar pada suatu hari menemui
sahabat-sahabatnya dan mendapati mereka mengutamakan para nabi dan
mendahulukannya atas mereka, maka beliau justru menampakkan kemarahan dan
wajahnya berubah. Beliau berkata: "Janganlah kalian mengutamakan aku atas
Yunus bin Mata."
Melalui pernyataan itu, beliau berusaha meletakkan suatu
pondasi pemikiran yang harus dilalui oleh kaum Muslim di mana para nabi memang
memiliki derajat tertentu di sisi Allah SWT. Boleh jadi ada nabi yang lebih
afdal atau yang lebih mulia daripada yang lain. Siapakah yang menetapkan hal
itu? Tidak ada seorang pun selain Allah SWT. Ada pun kaum Muslim hendaklah
mereka berhenti pada batas tertentu yang seharusnya mereka berikan berkaitan
dengan sopan santun terhadap para nabi. Selama Allah SWT menyampaikan shalawat
kepada rasul sebagai bentuk penghormatan dan memerintahkan mereka untuk
menyampaikan shalawat kepadanya, dan selama Rasulullah seperti nabi-nabi yang
lain, maka hendaklah mereka juga bershalawat kepada semua nabi tanpa perbedaan,
meskipun pada bentuk shalawat itu sendiri.
Sementara itu, bayi yang mungil itu yang lahir di Mekah
bergerak setelah tahun gajah. Kemudian berita tersebar di sana sini dan
Sampailah ke telinga kakeknya bahwa cucunya telah dilahirkan. Abdul Muthalib
segera menuju ke tempat itu dan membawa cucunya yang yatim lalu berkeliling
dengannya di Ka'bah sambil memikirkan namanya. Abdul Muthalib tidak merasa
terpukau dengan nama-nama yang mulai beredar di benaknya. Ia tampak bingung
menentukan nama yang paling tepat buat cucunya, bahkan kebingungannya itu
berlanjut sampai enam hari, sehingga sang Nabi disunat. Ketika malam telah
menyelimuti kawasan Mekah, datanglah kepadanya suara yang sama yang dulu pernah
dilihatnya dan didengarnya yang memerintahkannya untuk menggali zamzam. Di tengah-tengah
tidurnya, suara itu membisikkan kepadanya bahwa nama cucunya berasal dari
al-Ham, yang berarti Muhammad atau Ahmad.
Orang-orang Quraisy bertanya kepada Abdul Muthalib:
"Nama apa yang engkau berikan kepada cucumu?" Abdul Muthalib menjawab
sambil mengingat bisikan suara yang didengarnya saat mimpi,
"Muhammad." Nama tersebut sebenamya tidak umum di kalangan
orang-orang Jahilliyah. Mereka bertanya, "Mengapa Abdul Muthalib tidak
memakai narna-nama kakek-kakeknya dan nama-nama yang biasa dipakai di kalangan
mereka." Abdul Muthalib menjawab: "Aku ingin Allah SWT memujinya di
langit dan manusia memujinya di bumi."
Kami tidak mengetahui dorongan apa yang mendikte Abdul
Muthalib untuk menyatakan kalimat tersebut. Apakah kalimat itu bersumber dari
realitas kebanggaan orang-orang Arab yang populer atau berasal dari realitas
kebanggaan tradisional? Atau, apakah berangkat dari realitas kegembiraan yang
dalam dengan kelahiran si cucu, ataukah kalimat itu bersumber dari suasana
ruhani yang jernih dan bisikan alam gaib? Tentu kami tidak bisa menjawab. Yang
dapat kami ketahui adalah bahwa seseorang tidak akan layak menyandang predikat
manusia yang dipuji di bumi dan dipuji oleh Allah SWT di langit seperti
predikat yang disandang oleh Muhammad bin Abdillah.
Nabi Muhammad saw muncul ke alam wujud dalam keadaan yatim.
Beliau ditinggalkan oleh ayahnya saat beliau masih janin di dalam perut ibunya.
Allah SWT berfirman: "Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu
Dia melindungimu?" (QS. adh-Dhuha: 6) Allah SWT melindunginya. Orang-orang
sufi mengatakan bahwa sebab-sebab kemanusiaan seperti adanya kakeknya Abdul
Muthalib dan bagaimana ia mengasuhnya dan melindunginya tidak lain hanya bentuk
lahiriah yang tidak begitu penting, sedangkan bentuk batiniah yang sebenarnya adalah
kita berada di hadapan manusia yang dilindungi dan diasuh oleh Tuhannya sejak
masih kecil. Allah SWT mendidiknya saat beliau masih kecil, dan mengujinya
dengan keyatiman saat beliau masih janin serta mengujinya dengan kelaparan
sejak masih kecil, dan dewasa dengan kematian si ibu, saat beliau masih kecil
dengan keterasingan di tengah-tengah keramaian, dan dengan terjaga di
tengah-tengah tidur serta dengan penderitaan demi penderitaan. Allah SWT telah
menyiapkannya sejak usia dini untuk memikul beban risalah terakhir.
Selanjutnya, ibunya seringkali memeluknya lebih dari
sebelumnya. Ia melihat bahwa banyak dari wanita-wanita yang menyusui tidak
berkenan untuk mengasuhnya. Adalah sudah menjadi tradisi yang berkembang di
Mekah di mana keluarga-keluarga yang mulia mengirim anaknya ke kawasan dusun
agar anak tersebut menyerap dan menghirup udara segar serta memperoleh mainan
yang memadai. Dan biasanya wanita-wanita yang menyusui anak-anak lebih tertarik
menyusui anak-anak dari orang-orang kaya. Namun ketika pemimpin manusia seorang
yang fakir, maka wanita-wanita yang biasa menyusui tidak berminat kepadanya.
Marilah kita telusuri bagaimana Halimah binti Abi Duaib
menceritakan kisahnya bersama anak kecil yang disusuinya: "Saat itu
terjadi musim tandus dan kami tidak memiliki sesuatu sehingga aku dan suamiku
mengalami kemiskinan yang luar biasa. Lalu kami menetapkan keluar ke Mekah dan
menemani wanita-wanita dari Bani Sa'ad. Kami semua mencari anak-anak yang masih
menvusu agar orang tua mereka dapat membantu kami untuk memenuhi kebutuhan
hidup.
Binatang yang aku tunggangi sangat lemah dan sangat kurus
yang itu semua disebabkan oleh kekurangan makanan. Bahkan kami khawatir
kalau-kalau ia berhenti di tengah perjalanan dan mati. Dan kami tidak tidur
semalaman karena melihat kondisi anak kecil yang bersama kami. Ia menangis
karena tidak menemukan makanan yang dapat dimakannya. Ia menangis karena
kelaparan dan tidak mendapat air susu, baik dari air susuku maupun air susu
unta yang dibawa oleh suamiku, sehingga kami tidak dapat memuaskan dahaganya.
Di tengah-tengah malam, aku merasakan keputusasaan. Aku bertanya-tanya
bagaimana aku dapat melakukan sesuatu dalam keadaan yang demikian.
Akhirnya, kami sampai di Mekah. Sementara itu, wanita-wanita
yang ingin mencari anak-anak yang dapat mereka susui telah mendahului kami.
Mereka mengambil anak-anak kecil yang mereka sukai, kecuali satu anak, yaitu
Muhammad di mana ayahnya telah meninggal dan ia berasal dari keluarga yang
miskin meskipun sebenarnya kedudukannya sangat mulia di antara tokoh-tokoh
Quraisy. Oleh karena itu, wanita-wanita enggan untuk mengasuhnya. Namun aku dan
suamiku tidak sepaham dengan mereka karena aku tidak peduli dengan keyatiman
dan kcfakirannya. Kemudian aku malu untuk kembali dan tidak mengambil bayi yang
dapat aku susui kemudian. Di samping itu, aku malu jika mendapat cercaan dari
wanita-wanita itu. Lalu aku merasakan adanya kasih sayang yang memenuhi hatiku
terhadap anak kecil yang tampan itu yang akan diganggu oleh udara yang
kotor."
Kisah tersebut mengatakan bahwa saat anak-anak kecil
mendapatkan wanita-wanita yang menyusuinya, maka Muhammad bin Abdillah sedang
tidur dalam keadaan lapar di ranjangnya yang kasar, tanpa disusui oleh siapa
pun. Suatu hikmah yang tinggi berkehendak agar bayi yang masih menyusui itu
menghadapi dunia dalam keadaan yatim dan dalam keadaan kelaparan agar ia dapat
merasakan penderitaan anak-anak yatim dan orang-orang yang lapar sebelum ia
menyelamatkan mereka.
Halimah mengatakan bahwa ia meyakinkan suaminya bahwa ia
merasakan keinginan yang kuat untuk mengambil anak yatim ini, sehingga suaminya
menyetujuinya. Halimah tidak mengetahui rahasia keinginannya yang samar agar ia
kembali untuk mengambil anak yatirn yang masih menyusu ini. Ia tidak mengetahui
bahwa Allah SWT telah menanamkan rasa cinta kepada anak kecil itu dalam hatinya
seperti Allah SWT menanamkan cinta kepada Musa pada hati isteri Fir'aun. Jika
Musa menolak wanita-wanita lain untuk menyusuinya kecuali ibunya setelah Allah
SWT mencegahnya dari susuan wanita-wanita lain agar ibunya merasa bahagia dan
tidak bersedih, maka Muhammad bin Abdillah—seorang anak kecil yang masih
menyusu dan mulia—-justru ditolak oleh wanita-wanita yang menyusui, sedangkan
ia sendiri tidak pernah menolak seseorang pun.
Halimah kembali kepadanya dan ia memberitahu bahwa ia akan
mengasuhnya. Nabi Muhammad saw adalah seorang yang mulia. Halimah meletakkan
tangannya di dadanya, sehingga anak kecil itu tertawa. Halimah mencium di
antara kedua matanya. la meletakkannya di kamarnya. Halimah mengetahui bahwa
kedua air susunya telah kering, namun tiba-tiba air susunya memancar dengan
keras sebagai bentuk kasih sayang dan tanda kebesaran dari Allah SWT. Kini
Halimah pun dapat menyusuinya. Apakah itu merupakan hikmah yang tinggi di mana
anak kecil tersebut merasa cukup dengan sesuatu yang sedikit? Ataukah anak
kecil itu sudah dapat mendidik dirinya untuk zuhud dan qanaah sebelum ia
mendidik orang-orang dewasa tentang pengorbanan dan kesatriaan?
Halimah kembali ke gurun Bani Sa'ad dan ia membawa Muhammad
bin Abdillah. Belum lama ia menyaksikan tanahnya yang tandus sehingga tiba-tiba
kebaikan dunia terbuka dan mekar di hadapanya, di mana bumi dipenuhi dengan
kehijau-hijauan setelah mengalami masa tandus. Pohon-pohon berbuah dan buah
kurma tampak berseri-seri setelah sebelumnya layu, bahkan susu-susu binatang
pun mulai tampak banyak. Allah SWT memberikan berkah-Nya kepada tempat
tersebut. Halimah mengetahui bahwa kabaikan ini telah datang bersama kedatangan
anak kecil yang diberkahi, sehingga cintanya kepada anak itu semakin bertambah.
Bahkan suaminya pun menjadi tawanan cinta yang lain kepada Muhammad saw.
Pada suatu hari ia berkata kepada isterinya: "Apakah
engkau mengetahui wahai Halimah bahwa engkau telah mengambil seorang anak yang
mulia?" Halimah berkata: "Anak kecil itu tidak menangis dan tidak
berteriak kecuali ketika ia telanjang." Ketika anak kecil itu gelisah di
tengah malam dan tidak tidur, maka Halimah membawanya keluar dari kemah dan ia
berhenti bersamanya di bawah sinar bintang. Saat itu anak itu tampak bergembira
ketika menyaksikan langit. Setelah kedua matanya terpuaskan oleh pandangan ke
arah langit, ia pun mulai tidur.
Ketika anak itu mencapai tahun yang kedua, maka ia telah
disapih, sehingga ibunya ingin mengambilnya, tetapi Halimah tidak kuat untuk menahan
perpisahan ini. Halimah menjatuhkan dirinya di hadapan kedua kaki sang ibu dan
ia mulai menciuminya dan ia meminta agar membiarkannya bersama anaknya sehingga
anak itu benar-benar kuat dan dapat kembali menghirup udara segar gurun.
Akhirnya, Rasulullah saw tinggal di tempat Bani Sa'ad sampai lima tahun. Dan
pada masa lima tahun ini terjadi peristiwa penting yang terkenal dengan
peristiwa pembelahan dada. Kehendak Ilahi telah menetapkan kepada Ruhul Amin,
yaitu Jibril untuk menemui Muhammad bin Abdillah dan membelah dadanya dengan
perintah Ilahi serta menyuci hatinya dengan rahmat dan mengeringkannya dengan
cahaya dan mengeluarkan bagian dunia darinya.
Seperti biasanya Rasulullah saw keluar pada suatu hari
bersama saudara susuannya dengan menunggangi sekawanan domba menuju tempat
pengembalaan. Di tengah hari, saudaranya berlari-lari dalam keadaan takut dan
menangis sambil berteriak bahwa Muhammad telah terbunuh. Muhammad diambil oleh
dua orang laki-laki yang memakai baju yang putih lalu kedua orang itu
menelentangkannya dan membelah dadanya.
Mendengar hal itu, Halimah sangat kaget dan terpukul. Ia
segera pergi sambil berlari mencari Muhammad dan diikuti oleh suaminya yang
mengikuti petunjuk anak kecil dari saudara Muhammad. Akhirnya, mereka menemukan
Muhammad sedang duduk di atas tanah di mana wajahnya tampak pucat dan kedua
matanya menyala.
Halimah dan suaminya mencium dengan lembut dan mulai
menampakkan kasih sayangnya. Kemudian mereka bertanya, "apa yang
terjadi?" Muhammad menjawab: "Ketika aku memperhatikan domba-domba
yang sedang bermain aku dikagetkan dengan kedatangan dua orang yang memakai
pakaian yang putih. Mula-mula aku menyangka bahwa mereka adalah burung yang
besar, namun ternyata aku salah. Mereka adalah dua orang yang tidak aku kenal
yang memakai pakaian warna putih. Salah seorang dari mereka berkata kepada
temannya dengan menunjuk ke arahku, "Apakah ini anaknya?" Yang lain
menjawab, "benar." Aku merasakan ketakutan yang luar biasa. Lalu
mereka mengambilku dan menidurkan aku serta membelah dadaku dan mereka
mengambil sesuatu darinya hingga mereka mendapatinya dan membuangnya jauh-jauh.
Setelah itu, mereka bersembunyi laksana bayangan."
Hadis tersebut diriwayatkan oleh Anas dan juga diriwayatkan
oleh Muslim dan Ahmad. Para mufasir berbeda pendapat tentang simbolisme yang
dalam ini. Sebagaian besar ulama menakwilkan peristiwa tersebut. Pakar-pakar
klasik, seperti Qurthubi berpendapat bahwa peristiwa itu diisyaratkan oleh
firman-Nya: "Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?. " (QS.
Alam Nasyrah: 1)
Sedangkan tokoh-tokoh hadis, seperti Ghazali berpendapat
bahwa manusia istimewa seperti Muhammad saw tidak mungkin terlepas dari
bimbingan Ilahi dan tidak mungkin terkena waswas sekecil apa pun yang biasa
menimpa manusia biasa. Jika suatu kejahatan menjadi suatu gelombang yang
memenuhi cakrawala, maka di sana terdapat hati yang segera memungutnya dan
terpengaruh dengannya, namun hati para nabi dengan adanya bimbingan Allah SWT
tidak akan terpanggil dan tidak terkena arus kejahatan tersebut.
Dengan demikian, usaha para nabi terfokus pada peningkatan
kemajuan atau ketinggian, bukan memerangi kerendahan. Diriwayatkan oleh
Abdillah bin Mas'ud bahwa Rasulullah saw bersabda: "Tidak ada seseorang di
antara kalian kecuali ia diawasi oleh temannya dari kalangan jin dan temannya
dan dari kalangan malaikat." Para sahabat berkata: "Apakah hal itu
juga berlaku kepadamu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Ya, tetapi
Allah SWT membantuku, sehingga ia berserah diri dan tidak memerintahkan kepadaku
kecuali dalam kebaikan."
Begitulah sikap orang-orang yang dahulu dan para ahli hadis
berkaitan dengan peristiwa pembelahan dada. Kami kira bahwa kejadian yang luar
biasa tersebut berhubungan dengan persiapan Nabi untuk melalui Isra' dan
Mi'raj. Ia merupakan perjalanan di mana Rasulullah saw akan menebus alam
angkasa dan akan mencapai alam langit. Kemudian beliau akan melampaui alam ini,
sehingga sampai di Sidratul Muntaha yang di sana terdapat Janatul Ma'wah.
Pandangan tersebut kembali kepada pendapat kami yang
mengatakan bahwa peristiwa pembelahan dada berulang lebih dari sekali saat
Rasul saw mencapai usia lima puluh tahun. Dan peristiwa pembelahan dada terjadi
kedua kalinya pada malam Isra' dan Mi'raj.
Bukhari meriwayatkan dari Malik bin Sh'asha'a bahwa
Rasulullah saw menceritakan kepada mereka peristiwa malam Isra' di mana beliau
bersabda: "Ketika aku berada di Hathim—atau beliau berkata di Hijr—saat
aku dalam keadaan antara tidur dan bangun, maka seorang datang kepadaku lalu ia
membelah antara ini dan ini. Yaitu antara kerongkongan dan perutnya. Beliau
melanjutkan: Lalu ia mengeluarkan hatiku dan membawa mangkok dari emas yang
penuh dengan keimanan lalu ia menyuci hatiku. Kemudian diulanginya."
Kami kira bahwa pembelahan dada merupakan bentuk simbolis
yang menunjukkan kesucian Rasul saw dan sebagai bentuk penyiapannya untuk
melalui Isra' dan Mi'raj. Itu merupakan pemberitahuan dari Ilahi bahwa anak ini
akan mencapai suatu kedudukan yang belum pernah dicapai oleh manusia dan tidak
akan dicapai manusia sesudahnya. Setelah peritiwa pembelahan dada, berubahlah
kehidupan anak kecil itu di mana sebagian besar waktunya digunakan untuk
merenung dan menyendiri. Dari roman wajahnya tampak keseriusan yang biasanya
menghiasi wajah orang-orang dewasa.
Berlalulah hari demi hari, tahun demi tahun dan Selesailah
masa menetapnya bersama Halimah di dusun Bani Sa'ad. Beliau sangat terpengaruh
dan sangat terkesan dengan keadaan di sana. Diriwayatkan bahwa beliau pemah
mengingat masa kecilnya di Bani Sa'ad dan beliau membanggakannya. Beliau menyebutkan
pengorbanan mereka dan sikap mereka yang baik. Beliau berkata: "Aku
termasuk dari Bani Sa'ad, tanpa bermaksud menyombongkan diri. Jika mereka
berhadapan atau menyaksikan salah seorang mereka lapar, maka mereka akan
membagi makanan di antara mereka."
Kemudian Muhammad bin Abdillah kembali ke Mekah saat usianya
lima tahun. Beliau hidup beberapa hari bersama ibunya di mana si ibu merasakan
kesedihan yang dalam atas kepergian ayahnya. Sesuai janji untuk mengingat
ayahnya yang telah pergi, Aminah menetapkan untuk mengunjungi kuburannya di
Yatsrib. Jarak antara Mekah dan Yatsrib lebih dari lima ratus kilo meter di
gurun yang kering yang jauh dari tanda-tanda kehidupan. Anak itu menempuh
peijalanan yang berat. Setelah perjalanan yang berat ini, Muhammad bin Abdillah
tinggal di tempat paman-paman dari ibunya di Madinah selama satu bulan.
Muhammad melihat rumah yang di situ ayahnya meninggal sebelum ia dilahirkan. Ia
berziarah bersama ibunya ke kuburan yang sederhana yang ayahnya dikuburkan di
dalamnya. Mula-mula pikirannya terfokus pada keadaan yatim sambil ia mulai
memperhatikan linangan air mata ibunya yang diam.
Selesailah masa satu bulan keberadaannya di sisi
paman-pamannya. Kemudian ibunya menemaninya untuk kembali ke Mekah. Kedua anak
manusia itu sampai di pertengahan jalan. Muhammad bin Abdillah tidak mengetahui
rahasia kepucatan wajah ibunya. Lalu malaikatul maut turun di suatu tempat yang
yang bernama Abwa. Di situlah Aminah binti Wahab telah bertemu dengan
kekasihnya, Allah SWT.
Sang ibu meninggal dan meninggalkan anak satu-satunya
bersama seorang pembantu. Pembantu itu menampakkan rasa kasihnya terhadap anak
kecil yang kehilangan ayahnya saat masih janin dan kehilangan ibunya saat
berusia enam tahun. Muhammad bin Abdillah kini menjadi sendiri dan ia dalam
keadaan menangis. Ia mencapai kematangan setelah ia melewati kesedihan
kehidupan dan kerasnya kehidupan sebagai anak yatim.
Rasulullah saw pernah ditanya setelah masa diutusnya:
"Bagaimana pandanganmu?" Beliau menjawab: "Pengetahuan adalah
modalku. Akal adalah dasar agamaku. Cinta adalah pondasiku. Zikrullah adalah
kesenanganku. Dan kesedihan adalah temanku."
Allah SWT telah menyiramkan kepadanya sungai-sungai
kesedihan sehingga beliau dapat memberikan kepada manusia buah dari kegembiraan
dan ketulusan.
Anak kecil itu kembali ke Mekah dalam keadaan sedih dan ia
tampak terpaku. Lalu Abdul Muthalib, kakeknya menampakkan cinta yang luar biasa
dan penghormatan padanya. Setelah dua tahun ketika Muhammad bin Abdillah
berusia delapan tahun, maka meninggallah salah satu benteng yang terbaik yang
menjaganya, yaitu kakeknya Abdul Muthalib. Kemudian anak kecil itu kini
merenungi kakeknya laksana orang dewasa. Ia tampak tegar seperti layaknya orang
dewasa.
Kita tidak mengetahui mengapa terjadi demikian. Mengapa hikmah
Allah SWT mencegah Nabi yang terakhir untuk mendapatkan kasih sayang seorang
ayah, kasih sayang seorang ibu, dan bimbingan seorang kakek? Apakah Allah SWT
ingin memberi Nabi yang terakhir suatu kasih sayang dan cinta yang semata-mata
bersumber dari sisi-Nya? Apakah Allah SWT ingin mendidiknya dengan kesedihan
dan memberinya perasaan-perasaan yang penuh dengan penderitaan? Apakah Allah
SWT ingin membuat hati Rasul-Nya hanya tertuju kepadanya? Dahulu Allah SWT
berkata kepada Musa: "Dan Aku telah memilihmu untuk diri-Ku." (QS.
Thaha: 41) Dahulu Allah SWT memberi kabar gembira kepada Musa di dalam Taurat
sebagaimana Isa memberi kabar gembira di dalam Injil dengan kedatangan seorang
Nabi setelahnya yang bernama Ahmad. Dan Nabi Musa meminta kepada Tuhannya agar
memberinya dan memberi umatnya puncak keutamaan, lalu Allah SWT menjawab bahwa
Dia telah menetapkan keutamaan ini kepada Nabi yang terakhir Ahmad dan umatnya.
Allah SWT telah memilih Musa untuk diri-Nya. Meskipun
Demikian, Dia tidak mencegahnya untuk mendapatkan kasih sayang seorang ibu dan
mendidiknya di tengah-tengah keluarganya. Namun Dia berkehendak untuk
menjadikan Nabi yang terakhir tercegah dari mendapatkan kasih sayang seorang
manusia dan cinta seorang manusia, sehingga Nabi tersebut hanya mendapatkan
kasih sayang Ilahi dan cinta Ilahi.
Allah SWT berfirman menceritakan tentang keadaan Rasul
terakhir: "Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia
melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia
memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu
Dia memberikan kecukupan. Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu
berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta, maka janganlah
kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Tuhanmu maha hendaklah kamu
menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur). " (QS. ad-Dhuha: 6-11)
Makna ayat tersebut secara harfiah adalah bahwa beliau dalam
keadaan yatim lalu Allah SWT melindunginya; beliau dalam keadaan tersesat lalu
Allah SWT memberinya petunjuk; beliau dalam keadaan fakir lalu Allah SWT
memampukannya. Allah SWT melindunginya dengan mengasuhnya, membimbingnya, dan
mencukupinya. Itu adalah derajat keutamaan yang tidak pernah dicapai oleh
seseorang pun di dunia.
Setelah kematian kakeknya, maka pamannya Abu Thalib
mengasuhnya. Allah SWT telah meletakkan kecintaan pada hati pamannya, sehingga
pamannya mengutamakan Muhammad saw daripada anak-anaknya dan memuliakannya
serta menghormatinya, bahkan Abu Thalib mendudukkannya di ranjangnya yang biasa
dibentangkannya di hadapan Ka'bah di mana tidak ada seorang pun yang duduk
selainnya.
Muhammad bin Abdillah hidup di jantung gurun Mekah sebagai
seorang yang memiliki kesadaran yang tinggi di antara kaum yang sedang lalai
dan kaum yang mabuk-mabukan dan para penyembah berhala serta para pedagang
minuman keras dan para syair dan orang-orang yang berperang dan tokoh-tokoh
kabilah.
Muhammad bin Abdillah seorang yang banyak diam dan ketika
usianya semakin dewasa, maka ia bertambah banyak diam. Beliau tidak berbicara
kecuali jika diajak seseorang berbicara; beliau tidak terlibat dalam permainan
hura-hura anak-anak muda; beliau merasakan kesedihan yang dalam; beliau sering
menyendiri dan membuka matanya di hamparan pasir-pasir. Mulutnya terdiam dan
akalnya berpikir. Beliau merenungkan di masa kecilnya bagaimana kaumnya
bersujud terhadap berhala dan terpukau dengannya; bagaimana orang-orang berakal
mau bersujud kepada batu-batu yang tidak memberikan mudharat dan manfaat dan
tidak berbicara serta tidak dapat melakukan apa-apa. Beliau mewarisi dari
kekeknya Ibrahim kebencian yang fitri terhadap dunia berhala dan patung.
Di dalam dirinya terdapat penghinaan yang besar terhadap
sembahan-sembahan dari batu ini, suatu penghinaan yang menjadikannya tidak mau
mendekat selama-lamanya terhadap patung tersebut. Namun hatinya yang besar
dipenuhi dengan kesedihan yang lebih hebat dari kesedihan kakeknya Ibrahim.
Beliau sedih karena akal manusia menyembah batu dan emas, kesombongan serta
kekuasaan penguasa; beliau mendengar apa yang dikatakan manusia dan
mengamat-amati urusan kehidupan dan keadaan masyarakat; beliau juga menyaksikan
betapa banyak pertentangan dan perkelahian di antara manusia yang justru
disebabkan oleh masalah-masalah yang sepele, sehingga keheranan beliau semakin bertambah
dan sudah barang tentu kesedihannya pun semakin dalam. Tidakkah manusia
mengetahui bahwa mereka akan mati seperti ayahnya, ibunya, dan kakeknya?
Mengapa mereka menimbulkan pertentangan ini, hingga mereka mendapatkan lebih
banyak kejahatan?
Ketika usianya semakin bertambah, maka bertambahlah
kezuhudannya dalam hidup, dan sepak terjangnya terus bersinar memenuhi penjuru
Mekah. Beliau tidak sama dengan seseorang pun dari kalangan pemuda saat itu.
Meskipun kami kira bahwa kesedihannya disebabkan oleh hal-hal yang umum, tetapi
beliau tidak mengungkapkan kegelisahan hatinya pada seseorang pun. Beliau belum
bertujuan untuk memperbaiki masyarakat atau kemanusiaan. Benar bahwa
pertanyaan-pertanyaan kritis timbul dalam benaknya dan ingin segera menemukan
jawaban, tetapi akalnya sendiri tidak dapat menemukan jawaban atau jalan
keluar. Inilah yang dimaksud dengan makna ayat:
"Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu
Dia memberikan petunjuk." (QS. adh-Dhuha: 7) Yang dimaksud ad-Dhalal
(kesesatan) di sini ialah kebingungan akal dalam menafsirkan kejahatan dan
usaha melawannya karena ketiadaan senjata dan kecilnya usia. Semua itu justru
menambah sikap diam anak kecil itu dan menjauhkannya dari dunia yang akan
mencemari akal, sehingga akalnya selamat dari segala noda dan tetap di bawah
naungan kejernihannya. Anak kecil itu tetap jauh dari dosa-dosa yang dilakukan
oleh kaumnya yang berupa kecenderungan untuk menyembah berhala dan cinta
kekuasaan dan kebanggaan. Ia selalu mendekat dan lebih mendekat kepada hakikatnya
yang suci; ia mampu mempengaruhi orang lain dengan jiwanya yang bersih dan
rahmatnya atau kasih sayangnya tertuju kepada manusia, bahkan kepada binatang
dan burung. Ketika ia duduk akan makan lalu ada burung merpati berkeliling di
seputar makanannya rnaka ia meninggalkan makanannya untuk burung itu. Pada saat
orang-orang memukul anjing yang mendekat kepada makanan mereka, maka ia justru
mencabut suapan yang ada di mulutnya dan memberikannya pada anjing, kucing,
anak-anak kecil, dan orang-orang fakir. Bahkan seringkali di waktu malam ia
tidur dalam keadaan lapar karena ia memberikan makanannya ke orang lain.
Muhammad saw adalah seorang fakir yang harus bekerja agar
dapat makan, maka beliau bekerja sebagai pengembala kambing, seperti Nabi Daud,
Nabi Musa, dan nabi-nabi yang lain yang diutus oleh Allah SWT. Kemudian beliau
melakukan perjalanan bersama kafilah pamannya Abu Thalib menuju Syam saat
beliau berusia tiga belas tahun. Beliau menyaksikan keadaan umat-umat yang
lain, maka keheranannya semakin bertambah terhadap masa jahiliyah ini. Ketika
beliau menyaksikan orang-orang tersesat, maka kesedihannya semakin bertambah
dan hatinya semakin tersentuh dan pikirannya semakin dalam.
Pada saat perjalanan menuju ke Syam ini terjadi suatu
peristiwa terhadap anak kecil itu. Kemungkinan besar itu justru menambah
kebingungannya. Seorang pendeta yang bernama Buhaira berdiri di jendela rumah
yang menjadi tempat peribadatannya di Suria. Tiba-tiba ia memperhatikan suatu
awan putih—tidak seperti biasanya—yang menghiasai langit yang biru. Saat itu
udara sangat terang, sehingga munculnya awan tersebut sangat mengherankan.
Kemudian pandangan Buhaira yang tertuju ke langit, kini tertuju ke bumi di mana
ia mendapati awan itu menyerupai burung yang putih yang menaungi kafilah kecil
yang menuju ke arah utara. Buhaira memperhatikan bahwa awan tersebut mengikuti
kafilah.
Jantung Buhaira berdebar dengan keras karena ia mengetahui
melalui buku-buku peninggalan kaum Masehi yang otentik bahwa seorang nabi akan
muncul ke dunia setelah Isa. Sifat dan kabar nabi tersebut diceritakan dalam
buku-buku kuno. Buhaira segera meninggalkan tempatnya, lalu ia segera
memerintahkan untuk menyiapkan makanan yang besar. Kemudian ia mengutus
seseorang untuk menemui kafilah tersebut dan mengundang mereka untuk jamuan
makan. Salah seorang mereka berkata dengan nada bercanda kepada Buhaira:
"Demi Lata dan 'Uzza, engkau hari ini tampak lain wahai Buhaira. Engkau
tidak pernah melakukan demikian kepada kami, padahal kami telah melewati dan
singgah di tempat ini lebih dari sekali. Ada peristiwa apa gerangan wahai
Buhaira?"
Buhaira menjawab: "Hari ini kalian adalah
tamu-tamuku." Pertanyaan orang tersebut tidak dijawab dengan
terang-terangan. Ia sengaja menghindarinya dan tidak menyingkapkan rahasia
kemuliaan yang datangnya tiba-tiba ini. Buhaira memberi makan mereka dan mulai
memperhatikan di antara mereka adanya seseorang yang memiliki tanda-tanda yang
dibacanya dalam kitab-kitabnya yang kuno tentang seorang rasul yang ditunggu.
Namun ia tidak menemukannya, hingga ia bertanya kepada mereka: "Wahai kaum
Quraisy, apakah ada seseorang yang tidak hadir bersama jamuanku ini?"
Mereka menjawab: "Benar, ada seseorang yang tidak ikut bersama kami. Kami
meninggalkannya karena ia masih kecil." Buhaira berkata: "Sungguh aku
telah mengundang kamu semua. Panggilah ia supaya hadir bersama kami dan memakan
makanan ini." Salah seorang lelaki dari kaum Quraisy berkata: "Demi
Lata dan 'Uzza, sungguh tercela bagi kami untuk meninggalkan Muhammad bin
Abdillah bin Abdul Muthalib dari jamuan yang kami diundang di dalamnya.
Pamannya meminta maaf karena Muhammad masih kecil, kemudian
sebagian mereka berdiri dan menghadirkannya. Belum lama Buhaira memandangi
kejernihan dua mata Muhammad, sehingga ia mengetahui bahwa ia telah mendekati
tujuannya. Buhairah terpaku ketika memandangi Muhammad bin Abdillah sehingga
kaum selesai makan dan mereka berpisah.
Muhammad bin Abdillah duduk sendirian. Buhaira
menghampirinya dan berkata: "Wahai anak kecil, demi kedudukan Lata dan
'Uzza, sudikah kiranya engkau memberitahu aku terhadap apa yang aku tanyakan
kepadamu?" Buhaira ingin mengetahui sikap anak ini terhadap berhala
kaumnya. Anak kecil itu menjawab: "Jangan engkau bertanya kepadaku tentang
Lata dan 'Uzza. Demi Allah, tidak ada sesuatu yang lebih aku benci daripada
keduanya." Buhaira berkata: "Dengan izin Allah aku ingin bertanya
kepadamu." Anak kecil itu menjawab: "Tanyalah apa saja yang terlintas
di benakmu."
Buhaira bertanya kepada anak kecil itu tentang keluarganya,
kedudukannya di tengah-tengah kaumnya, mimpinya dan pendapat-pendapatnya.
Dialog tersebut terjadi jauh dari pantauan kaum karena mereka tidak akan diam
ketika mendengar bahwa Muhammad membenci berhala-berhala mereka. Kemudian
Muhammad menjawab pertanyaan-pertanyaan Buhaira dengan yakin, hingga membuat
Buhaira mantap bahwa ia sekarang duduk bersama seorang Nabi yang kabar berita
gembiranya disampaikan oleh Nabi Isa sebagaimana disampaikan oleh nabi-nabi
dari kaum Israil dari kaum Nabi Musa. Setelah itu, ia bangkit meninggalkan anak
kecil itu dan menuju ke Abu Thalib ia bertanya tentang kedudukan anak kecil itu
di sisinya. Abu Thalib menjawab: "Ia adalah anakku." Buhaira berkata:
"Tidak mungkin ayahnya masih hidup." Abu Thalib berkata: "Benar.
Ia anak saudaraku. Ayahnya dan ibunya telah meninggal." Buhaira berkata:
"Engakau benar, kembalilah kamu ke negerimu dan hati-hatilah dari kaum
Yahudi." Abu Thalib bertanya tentang rahasia dari apa yang dikatakan oleh
pendeta itu. Pendeta itu mulai mengetahui bahwa ia telah berbicara lebih dari
yang semestinya. Lalu ia berkata: "Ia akan memiliki kedudukan
tertentu." Buhaira tidak menjelaskan lebih dari itu dan ia tidak
menentukan kedudukan yang dimaksud.
Lalu berlalulah peristiwa tersebut tanpa terlintas dari
benak seseorang atau tanpa menggugah kesadaran di antara mereka. Kisah tersebut
tidak membawa pengaruh berarti bagi kafilah atau kepada Nabi sendiri. Kafilah
menganggap bahwa penghormatan pendeta kepada Muhammad bin Abdillah dan
memberitahunya akan kedudukan yang akan disandangnya adalah semata-mata
basa-basi yang biasa diucapkan di atas meja makan ketika para tamu memuji
kedermawanan tuan rumah. Dan sebagai balasannya, orang yang mengundang akan
memuji akhlak para pemuda mereka. Alhasil, peristiwa tersebut tidak membawa
pengaruh apa pun, baik bagi Muhammad maupun bagi sahabat-sahabat yang ikut
dalam kafilah, sehingga mereka tidak mengetahui rahasia perkataan pendeta dan
mereka tidak menyebarkan pembicaraan yang mereka dengar darinya. Peristiwa itu
tersembunyi meskipun ia sungguh sangat membingungkan Muhammad.
Apa gerangan yang terjadi antara dirinya dan orang-orang
Yahudi, sehingga pendeta perlu mengingatkan pamannya dari ancaman mereka? Apa
kedudukan yang akan diembannya seperti yang diceritakan oleh pendeta itu? Dan
apa hubungan semua ini dengan kesedihan-kesedihannya yang dalam serta
kebingungannya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut sedikit demi sedikit berputar di
benaknya. Kemudian seperti biasanya kafilah tersebut kembali ke Mekah. Muhammad
kembali menuju keterasingannya. Ia memperhatikan keadaan alam di sekitarnya.
Kemudian ia melihat kembali penderitaannya; ia berusaha untuk mendapatkan
kehidupannya; ia mengabdi kepada manusia dan mengorbankan apa saja demi
kemuliaan mereka.
Hari demi hari berlalu. Muhammad saw tampil dengan pakaian
ketulusan kasih sayang, dan amanah serat cinta, sebagaimana pelita dipenuhi
oleh cahaya, sehingga kejujurannya terkenal di tengah-tengah kaumnya. Bahkan
kejujuran dan amanatnya tidak bakal diragukan oleh seseorang pun dari penduduk
Mekah. Dan ketika beliau datang dengan membawa risalahnya dan beliau ditentang
mayoritas masyarakatnya, namun tak seorang pun yang berani meragukan
kejujurannya. Mereka hanya menuduh bahwa ia terkena sihir atau kesadarannya
telah hilang.
Pada tahun ketiga belas dari masa kenabian, ketika semua
kabilah sepakat untuk membunuhnya dan mengucurkan darahnya di antara para
kabilah dan mereka mengepung rumahnya, maka di saat situasi yang sulit ini
beliau menetapkan untuk berhijrah. Tetapi sebelumnya beliau mewasiatkan kepada
Ali bin Abi Thalib, anak pamannya untuk tetap tinggal di rumahnya agar ia dapat
mengembalikan amanat yang dititipkan oleh semua musuhnya dan para sahabatnya.
Ini beliau maksudkan agar Ali dapat menyerahkan amanat tersebut di waktu pagi
kepada para pemiliknya. Anda dapat melihat betapa para musuhnya merasa aman
terhadap harta mereka ketika dijaga oleh Muhammad saw.
Hari demi hari berlalu dan tahun demi tahun pun lewat.
Sementara itu, kesucian dan kejujuran Muhammad saw semakin meningkat. Dan di
tengah lautan keheningan yang mencekam, ketika Muhammad bin Abdillah
menyebarkan layar perahunya yang putih, maka ia harus menemui hakikat azali
yang bertemu dengan-nya semua nabi dan rasul. Muhammad bin Abdillah mengetahui
bahwa alam yang besar ini mempunyai Tuhan Pengatur dan Pencipta; Tuhan yang
Maha Satu dan yang tiada tuhan selain-Nya.
Muhammad dijauhkan dari suasana kenikmatan dan foya-foya
yang biasa dilakukan oleh para pemuda seusianya. Dan ketika pemuda Mekah
berbangga-bangga dengan banyaknya minuman keras yang mereka minum dan banyaknya
bait-bait syair yang mereka katakan tentang wanita, maka Muhammad bin Abdillah
telah menemukan jati dirinya di suatu gua yang tenang di gunung yang besar. Ia
memilih untuk menghabiskan waktunya di dalam keheningan gua tersebut. Ia
merenung dengan hatinya tentang keadaan alam; ia memikirkan keagungan
rahasia-rahasianya dan rahmat Penciptanya serta kebesaran-Nya.
Pada tahun yang kedua puluh lima, beliau mengenal Ummul
Mu'minin, isterinya yang pertama, yaitu Khadijah binti Khuwailid yang saat itu
berusia empat puluh tahun. Khadijah adalah wanita yang mulia dan mempunyai
cukup harta. Ia berdagang dan suaminya telah meninggal. Banyak orang yang
mendekatinya dengan alasan untuk mendapatkan kekayaannya. Khadijah mencari
seseorang laki-laki yang dapat membawa harta dagangannya menuju Syam, lalu
Khadijah mendengar berita yang cukup banyak berkenaan dengan kejujuran dan
amanat serta kesucian Muhammad bin Abdilah. Akhirnya, Khadijah mengutus
Muhammad saw untuk membawa barang dagangannya. Muhammad saw pergi dalam perjalanannya
yang kedua ke Syam saat beliau berusia dua puluh lima tahun. Allah SWT
memberkati perjalannya di mana beliau kembali dengan membawa keuntungan yang
berlipat ganda yang diserahkannya kepada Khadijah. Muhammad saw tidak peduli
dengan harta Khadijah dan tidak peduli kepada kecantikannya; Muhammad saw hanya
memandang kemuliaan yang dipegangnya. Kemudian Khadijah merasakan getaran cinta
terhadap Muhammad saw. Dan Akhirnya, ia mengutarakan keinginan untuk menikah
dengannya, hingga Muhammad saw pun setuju.
Paman Muhammad saw, Abu Thalib berdiri dan menyampaikan
khotbah pada saat perayaan perkawinannya: Muhammad saw tidak dapat dibandingkan
dengan seorang pun dari kaum Quraisy karena ia adalah seorang yang mulia, baik
dari sisi akal maupun ruhani. Meskipun ia seorang yang fakir namun harta adalah
naungan yang akan hilang dan benda yang bersifat sementara. Setelah menikah,
Muhammad saw justru mendapatkan kesempatan yang lebih besar untuk merenung dan
menyendiri serta beribadah. Kemudian kehidupan yang dijalaninya justru
meningkatkan kemuliaannya, sehingga keutamaannya tersebar di sana sini. Beliau
tidak pernah terlibat dalam pergulatan yang keras untuk memperebutkan
materi-materi dunia. Beliau selalu menggunakan akal sehatnya daripada terlibat
dalam kesesatan mereka dan kegelapan berhala yang menyelimuti banyak orang pada
saat itu. Kemudian usianya kini mendekati empat puluh tahun.
Setelah merasakan kesunyian di tengah-tengah masyarakat,
beliau lebih memilih untuk menjauh dari mereka. Beliau mencari-cari hakikat,
sehingga Allah SWT membimbingnya untuk menyendiri di gua Hira. Akhirnya, beliau
dapat keluar dari Mekah. Beliau berjalan beberapa mil. Kemudian beliau mulai
mendaki dan mendaki. Setiap kali ia mendaki gunung, maka tempat itu semakin
luas. Udara tampak lembut dan tersingkaplah hijab, dan pandangan semakin
terbentang. Kemudian beliau memasuki gua. Keheningan menyelimuti segala
sesuatu, namun hati tetap sadar dan tidak ada sesuatu yang dapat
menghalang-halangi pandangan internal yang dalam. Dalam suasana kesunyian
terkadang lahirlah pemikiran-pemikiran yang cemerlang yang kemudian menyebarkan
sayap-sayapnya dan membumbung, pertama-tama di atas angkasa gua lalu tersebar
menuju ke tempat yang lebih luas. Tidak ada sesuatu pun yang membatasinya atau
mengekang kebebasannya.
Kita tidak mengetahui pikiran-pikiran apa yang terlintas
pada manusia termulia dan terbesar di atas bumi itu saat beliau duduk di gua
Hira beberapa bulan. Apa yang beliau pikirkan dan apa gerangan yang beliau
risaukan? Mimpi apa yang ada di benaknya dan perasaan-perasaan apa yang lahir
dalam hatinya? Bagaimana keadaan batu-batu yang ada di sisinya? Apakah
atom-atom batu yang berputar di sekelilingnya menyahuti tasbihnya yang diam,
seperti atom-atom batu yang bersahut-sahutan bersama Daud saat ia membaca
kitabnya Zabur.
Kami tidak mengetahui secara pasti bentuk kelahiran yang
terjadi dalam dirinya. Yang kita ketahui adalah bahwa beliau tidak berpikir
tentang kenabian dan beliau tidak berpikir untuk memberikan petunjuk kepada
manusia; beliau tidak melakukan praktek-praktek sufisme karena beliau sudah
menjadi seorang sufi sebelum diutus di tengah-tengah manusia. Kemudian Allah
SWT memilihnya sebagai Nabi lalu beliau meninggalkan uzlahnya dan turun ke
medan serta membawa senjata. Beliau mempertahankan kebenaran, sehingga beliau
bertemu dengan Tuhannya. Mula-mula lahirlah tasawuf dan setelahnya lahirlah
jihad di jalan Allah SWT. Tasawuf bukanlah puncak atau hasil sebagaimana
diyakini oleh manusia sekarang, tetapi ia adalah permulaan jalan yang panjang
di mana pada akhirnya yang bersangkutan menggunakan senjata sebagai bentuk
usaha untuk membela manusia dan kehormatannya.
Pada suatu hari beliau duduk di gua Hira dan tiba-tiba
beliau dikagetkan dengan kedatangan Jibril yang berdiri di depan pintu gua.
Malaikat tersebut memeluknya erat-erat lalu memerintahkannya untuk membaca
sambil berkata: "Bacalah!" Muhammad bin Abdillah menjawab: "Aku
tidak mampu membaca." Beliau ingin mengatakan bahwa beliau tidak mengenal
bacaan dan tulisan. Kalau begitu, apa yang harus beliau baca? Malaikat kembali
memeluknya dengan kuat sehingga Rasulullah saw menganggap bahwa ia meninggal.
Kemudian malaikat melepasnya dan memerintahkannya untuk membaca. Beliau kembali
menjawab: "Aku tidak bisa membaca." Malaikat yang mulia kembali
memeluknya dan kembali memerintahkan untuk membaca. Dan lagi-lagi Rasulullah
saw menjawab dengan gemetar: "Apa yang aku baca?" Kemudian Jibril
membaca permulaan ayat-ayat yang turun kepada beliau:
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang
Paling Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia
mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS. al-'Alaq:
1-5) Setelah peristiwa itu, Jibril menghilang secara tiba-tiba sebagaimana ia
muncul secara tiba-tiba. Rasulullah saw merasakan dalam dirinya kejadian yang
luar biasa yang pernah dirasakan oleh Nabi Musa saat beliau mendengar
panggilan-panggilan suci di lembah Thuwa. Sebagaimana Nabi Musa lari ketakutan,
maka Muhammad bin Abdillah pun segera menuju ke rumahnya dalam keadaan
ketakutan. Ia turun ke gunung dan kembali ke rumahnya dan kembali ke isterinya.
Tubuhnya yang mulia bergetar denga keras dan beliau merasakan ketakutan dan
kegelisahan. Apakah beliau kali ini berhubungan dengan jin atau alam
perdukunan? Apakah beliau telah mengigau sehingga beliau mendengar suara-suara
dan melihat wajah-wajah yang belum pernah dilihatnya? Rasulullah saw
mengkhawatirkan dirinya karena beliau sangat benci kepada perdukunan. Beliau
memasuki rumahnya dengan keadaan gemetar. Beliau berkata kepada isterinya:
"Selimutilah aku, selimutilah aku!" Kemudian isterinya segera
menyelimuti dengan selimut dari wol dan mengusap keringat yang berada di
keningnya. Isterinya dikagetkan dengan kepucatan wajah beliau yang mulia dan
kegemetaran tubuhnya. Khadijah bertanya kepadanya: "Apa yang sedang
terjadi?" Kemudian Muhammad saw menceritakan secara detail apa yang
dialaminya. Kemudian ia berkata: "Sungguh aku khawatir terhadap
diriku." Khadijah mengetahui bahwa ia sekarang berhadapan dengan masalah
yang serius, suatu berita gembira yang ia tidak mengetahui hakikatnya, suatu
berita gembira yang seharusnya tidak dihadapi Muhammad saw dengan kekhawatirkan
dan kegelisahan. Khadijah berkata dengan maksud untuk meredakan ketakutannya:
"Tenanglah. Demi Allah, Allah SWT tidak akan menghinakanmu selama-lamanya.
Sungguh engkau adalah seorang yang baik, yang menyambung tali silaturahmi, yang
berbicara dengan jujur, dan yang menghormati tamu." Meskipun
kalimat-kalimat tersebut penuh dengan kedamaian dan kesejukan, tetapi
kegelisahan Rasul saw juga belum hilang. Kemudian Khadijah pergi bcrsama beliau
ke rumah Waraqah bin Nofel, yaitu anak dari paman Khadijah. Waraqah adalah
seorang Nasrani dan dia mampu menulis kitab dalam bahasa Ibrani dan ia cukup
mengetahui kitab-kitab Taurat dan Injil di mana matanya telah buta karena masa
tua. Khadijah berkata kepadanya: "Wahai putra pamanku, dengarlah dari anak
saudaramu." Waraqah berkata: "Wahai anak saudaraku, apa yang engkau
lihat?" Rasulullah saw menceritakan apa yang dialaminya secara sempurna.
Waraqah berkata sambil mengangkat kepalanya yang tampak keheranan: "Itu
adalah Namus (Jibril) yang Allah SWT turunkan kepada Musa." Sebagai seorang
yang mengerti, Waraqah bin Nofel mengetahui bahwa ia berada di hadapan seorang
Nabi yang berita gembiranya disampaikan oleh Taurat dan Injil. Setelah
keheningan sesaat, Waraqah berkata: "Seandainya aku masih hidup ketika
kaummu mengeluarkanmu dan mengusirmu." Rasulullah saw bertanya:
"Mengapa aku harus diusir oleh mereka?'' Waraqah menjawab: "Benar,
tidak ada seorang pun yang akan datang seperti dirimu kecuali engkau akan
mengalami penderitaan dan pengusiran. Seandainya aku hadir di saat itu niscaya
aku akan menolongmu." Demikianlah, akhirnya Islam pun dikembangkan.
Kehendak Allah SWT terlaksana dan Allah SWT telah memilih Nabi yang terakhir di
muka bumi dan orang Muslim yang pertama. Barangkali pembaca akan bertanya: Apa
hakikat dari Islam? Apabila Muhammad saw sebagai Nabi yang terakhir yang diutus
oleh Allah SWT di muka bumi dan kita mengetahui bahwa para nabi semuanya
sebagai Muslim, maka bagaimana beliau dapat dikatakan mendahului mereka dalam
keislaman dan menjadi orang Muslim yang pertama? Islam yang dibawa oleh
Muhammad saw tidak berbeda dalam esensinya dengan Islam yang dibawa oleh Nabi
Nuh, Nabi Musa, Nabi Isa atau nabi yang lain, tetapi yang berbeda adalah
bentuknya, sedangkan esensinya tetap seperti semula, yakni berdasarkan tauhid.
Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw berbeda dalam bentuknya dengan Islam
yang dibawa nabi-nabi sebelumnya karena sebab yang penting, yakni bahwa Islam
ini merupakan ajaran yang universal dan berisi aspek kemanusiaan yang abadi.
Islam tidak terbatas atas orang-orang Arab tetapi ia berlaku atas semua
golongan. Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw tidak terbatas untuk kabilah
tertentu atau bangsa tertentu atau bumi tertentu atau lingkungan tertentu atau
zaman tertentu, tetapi ia untuk semua manusia. Atau dengan kata lain, ia
merupakan ajakan untuk membangkitkan akal manusia di mana saja mereka berada
tanpa ada batasan tempat atau waktu. Universalitas ajaran Islam tidak dikenal
pada risalah-risalah Ilahi sebelumnya di mana setiap risalah itu diperuntukkan
bagi bangsa tertentu dan zaman tertentu. Oleh karena itu, mukjizat-mukjizat
yang mengagumkan yang bersifat temporal seringkali mendukung risalah-risalah
yang dahulu. Ketika Islam datang sebagai bentuk ajakan untuk menghidupkan akal
manusia secara bebas, maka di sana tidak ada alasan untuk membawa mukjizat yang
mengagum-kan. Hanya ada satu kata yang dapat dijadikan pembuka untuk berdakwah
dan membuka akal manusia, yaitu kata "iqra"' (bacalah). Dan hendaklah
bacaan ini berdasarkan nama Allah SWT. Dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.
Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Coba Anda renungkan permulaan
pertumbuhan dan puncak pencapaian. Di sini tersembunyi mukjizat yang hakiki
jika Anda berusaha mencari mukjizat yang hakiki. Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha
Mulia, yang memberikan nikmat penciptaan dan rezeki serta rahmat dan
kelembutan. Dia Maha Mulia yang mengajarkan manusia apa saja yang tidak
diketahuinya. Demikianlah esensi dari Islam, yaitu ajakan untuk membaca. Ia
adalah dakwah yang menunjukkan kedudukan ilmu. Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah
orang-orangyang berilmu (ulama)." (QS. Fathir: 28) Takut kepada Allah SWT
tidak akan muncul kecuali berdasarkan ilmu. Mustahil kebodohan dengan bentuk
apa pun akan melahirkan rasa takut. Oleh karena itu, dalam pandangan Islam ilmu
adalah hal yang pokok. Ia bukan kemewahan dan bukan hanya perhiasan. Kaum
Muslim telah mengalami masa kemuliaan dan kejayaan dan mereka berhasil
menguasai bumi ketika mereka memahami Islam secara benar, tetapi ketika
pemahaman ini jauh dari mereka, maka mereka kembali dalam keadaan yang paling
buruk, bahkan lebih buruk daripada masa jahiliah. Jadi, ilmu dalam Islam
merupakan tujuan yang mulia dan utama dalam penciptaan alam wujud. Kisah Nabi
Adam dan Hawa, sebagaimana diceritakan oleh Al-Qur'an adalah bukan semata-mata
kisah kesalahan memakan pohon tcrlarang, tetapi ia juga kisah yang memiliki
dimensi-dimensi yang dalam dan aspek-aspek yang beraneka ragam. Ketika Anda
menyclami kedalamannya, maka Anda akan dapat menemukan simbol-simbol dari
makna-makna yang lebih penting. Dialog internal yang dialami oleh para malaikat
tentang rahasia pemilihan Nabi Adam untuk memakmurkan bumi dan menjadi khalifah
di dalamnya serta pengajaran yang diperoleh Nabi Adam tentang nama-nama
semuanya dan bagaimana beliau mengemukakan nama-nama tersebut kepada para
malaikat, serta ketidaktahuan mereka tentang nama-nama itu, kemudian usaha Nabi
Adam untuk memberitahu mereka tentang apa yang diketahuinya serta pengetahuan
para malaikat tentang rahasia pemilihan Nabi Adam dan para keturunannya untuk
memakmurkan bumi, semua ini menjadikan tujuan dari penciptaan manusia adalah
pencapaian ilmu atau ma'rifah secara umum. Pandangan tersebut dikuatkan oleh
firman Allah SWT: "Dan Ahu tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk
menyembah-(Ku)." (QS. adz-Dzariat: 56) Lalu bagaimana kita memahaminya
saat ini dan bagaimana generasi yang pertama dari kaum Muslim dan dari
sahabat-sahabat Rasul saw dan para pengikutnya dan para tentaranya memahaminya?
Saat ini kita memahaminya dengan pemahamam yang sederhana. Kita mengetahui
bahwa kalimat "untuk menyembah-Ku " berarti ritualitas dalam
beribadah dan aspek-aspek lahiriahnya, seperti mengucapkan kalimat syahadat,
salat, puasa, haji, zakat dan lain-lain. Sehingga orang-orang yang salat
diperbolehkan untuk menyembah Allah SWT di negeri mereka atau di rumah-rumah
mereka, meskipun mereka hidup di bawah pemikiran orang-orang Barat dan membeli
produk-produk yang dibuat mereka serta memanfaatkan ilmu dan kecanggihan
tehnologi orang-orang Barat. Namun mereka sendiri tidak menghasilkan apa-apa.
Mereka tidak dapat memberikan kontribusi kepada kehidupan; mereka tak ubah-nya
seperti bulu yang dimainkan oleh ombak. Sedangkan pemahaman yang dahulu
berkaitan dengan kalimat tersebut sebagai berikut:
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali
untuk menyembah-(Ku). " (QS. adz-Dzariat: 56) Ibnu Abbas membacanya:
"Illa liya'rifuun." (Agar mereka mengetahui). Perhatikanlah bagaimana
pentingnya perbedaan antara praktek-praktek ibadah dengan bentuk-bentuknya dan
kedalamannya yang jauh dalam ma'rifah yang menyebabkan rasa takut kepada Allah
SWT. Orang Muslim yang pertama meyakini bahwa Allah SWT menciptakannya agar ia
mengetahui Allah SWT atau agar ia mengenal Allah SWT. Sehingga ambisi orang
Muslim yang pertama sangat mengagumkan. Mereka pergi untuk membebaskan dunia
semuanya: satu tangan berpegangan dengan Al-Qur'an dan tangan yang lain
memegang pedang untuk menghancurkan belenggu-belenggu yang menyeret manusia kepada
kesesatan.
Kemudian jatuhlah dari Islam hakikat ilmu, sehingga umat
Islam tidak dapat memimpin kehidupan dan mereka justru men-dapatkan kehinaan.
Allah SWT berfirman:
"Allah menyatakan bahwasannya tidak ada Tuhan melainkan
Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga
menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Perkasa
lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah
Islam." (QS. Ali 'Imran: 18)
Setelah kesaksian kepada Allah swt dan kesaksian kepada
malaikat, maka disebutlah secara langsung kesaksian kepada orang-orang yang
berilmu. Maka, adakah penghormatan terhadap ilmu yang lebih besar daripada
penghormatan ini? Ilmu dalam Islam berbeda dengan ilmu dalam peradaban Barat.
Memang benar bahwa Islam yang bertanggung jawab terhadap tumbuhnya pandangan
ilmiah dan metode eksperimental di mana berdasarkan metode ini tegaklah
peradaban Barat yang kemudian melahirkan berbagai produksi, pembuatan, dan
penemuan. Dan metode eksperimental adalah metode al-Istiqra, yaitu suatu metode
yang mengikuti bagian-bagian terkecil (parsial) melalui jalan eksperimen yang
dapat tunduk terhadap eksperimen dan melalui jalan memperhatikan hal-hal yang
tidak dapat tunduk terhadap suatu eksperimen, atau melalui jalan matematis
murni yang membutuhkan kepada matematis murni di mana hal itu bertujuan untuk
menyingkap hukum-hukum yang menguasai benda. Sistem ini bidangnya adalah alam
dan alatnya adalah panca indera dan akal. Sistem ini dimanfaatkan oleh seorang
Eropa yang bernama Roger Bikun. Ia mengakui bahwa ia sangat berhutang kepada
kaum Muslim dan peradaban Islam.
Seorang guru yang bernama Bruicll dalam bukunya Abna'
al-Insaniah menceritakan tentang dasar-dasar peradaban Barat di mana ia berkata:
"Roger Bikun mempclajari bahasa Arab dan ilmu-ilmu Arab di sekolah Oxford
kepada guru-gurunya yang berasal dari Arab di Andalus. Dan Roger Bikun dan
Fenessis Bikun tidak dapat menisbatan keutamaan yang mereka peroleh dalam
menciptakan sistem eksperimental kepada diri mereka sendiri. Roger Bikun hanya
seorang duta dari duta-duta ilmu. Oleh karena itu, ia tidak malu ketika
menyatakan bahwa mempelajari bahasa Arab dan ilmu-ilmu Arab adalah jalan
satu-satunya untuk mengetahui kebenaran."
Demikianlah pernyataan pakar-pakar Barat yang jujur. Yang
demikian ini bisa dijadikan sanggahan terhadap orang-orang Barat yang tidak
jujur agar mereka mengetahui bahwa mereka sebenarnya mengambil senjata yang
sebenarnya berasal dari Islam. Dan jika dikatakan bahwa rahasia kebangkitan
Barat saat ini dan keunggulannya atas Timur kembali kepada pengambilannya
terhadap sebab-sebab metode eksperimental, yaitu metode Islam, maka rahasia
kehancuran Barat dan kebingungannya serta kegelisahannya adalah karena mereka
tidak menghubungkan metode tersebut dengan kebesaran Allah SWT sebagaimana
semestinya. Metode eksperimen-tal—sebagaimana diambil orang-orang Barat—dimulai
dari alam dan berakhir kepadanya sebagai sesuatu tujuan. Jadi, ruang lingkup
pembahasan mereka adalah berkisar kepada materi, dan alat-alat pembahasan
adalah eksperimen dan pengamatan serta istiqra.
Tiada setelah alam kecuali kematian dan kematian adalah
rahasia yang misterius dan melawannya adalah hal yang mustahil. Kita tidak
mengetahui apa yang terjadi setelah kematian; kita tidak mengetahui sesuatu pun
tentang ruh. Tidak ada hubungan antara ilmu dan akhlak; tidak ada jawaban dari
ilmu tentang tujuan kehidupan ini. Kita hanya mempelajari aspek-aspek lahiriah
dan mencapai hukum-hukumnya saja. Demikianlah pandangan Barat tentang ilmu di
mana ia hanya sekadar alat dan sarana untuk mengatur alam dan berusaha
menguasainya. Sedangkan metode ilmiah dalam Islam menyatakan bahwa gerakan atom
dengan gerakan sistem tata surya di bawah kendali Zat Yang Maha Tahu dan Zat
Yang Maha Pencipta. Ilmu dalam Islam justru membimbing manusia untuk menuju
Allah SWT:
"Dan bahwasannya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala
sesua-tu). " (QS. an-Najm: 42)
Ilmu justru mengantarkan manusia untuk mencapai rasa takut
kepada Allah SWT sebagaimana membimbingnya beribadah kepadanya dan
mencintai-Nya:
"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu (ulama)." (QS. Fathir:
28)
Islam datang dan mengajak manusia untuk membaca, mengetahui,
dan takut kepada Allah SWT serta hanya beribadah kepadanya. Jika ilmu merupakan
sayap pertama di dalam Islam, maka sayap yang kedua adalah kebebasan.
Rasulullah saw memberitahu dan menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah
SWT dan tidak ada sembahan selain Allah SWT.
Seruan ini mengisyaratkan keruntuhan tuhan-tuhan yang
mengusai bumi semuanya, baik tuhan yang berupa kepentingan-kepentingan pribadi,
kekayaan, raja, penguasa, pemikiran-pemikiran yang mengusai manusia, warisan
para kakek dan nenek, berhala-berhala yang terbuat dari batu dan kayu, maupun
berbagai macam tuhan lain yang bohong. Adalah salah jika seseorang membayangkan
bahwa kalimat "tiada Tuhan selain Allah" hanya sekadar hiasan mulut
seorang Muslim di mana segala sesuatu yang ada di sekitarnya penuh dengan kebohongan
dan tidak membenarkan apa yang dikatakannya. Kalimat tersebut dalam Islam
merupakan per-gulatan besar bersama kegelapan yang ada pada diri manusia, suatu
pergulatan yang berakhir pada penyerahan diri; pergulatan yang akan berpindah
pada kehidupan yang lebih berat, sehingga kehi-dupan akan berserah diri. Dan
mustahil pergulatan itu akan terjadi kecuali jika terpenuhi suatu kebebasan:
kebebasan akal untuk meragukan dan menolak dan kebebasan yang berakhir kepada
pencapaian batas-batasnya dan kemampuannya serta kebebasan yang meninggi untuk
mencapai keimanan yang dalam dan kokoh. Itu adalah tanggung jawab yang berarti
bahwa ia harus memikul senjata untuk membebaskan orang lain sebagaimana ia
membebaskan dirinya sendiri. Demikianlah esensi dari Islam, yaitu ilmu yang
berdiri di atas kebebasan dan tanggung jawab yang tumbuh dari kebebasan, dan
buah terAkhirnya adalah tauhid dalam kedalamannya yangjauh.
Jika tauhid dipahami secara benar, maka manusia akan
terbebas dari penyembahan selain Allah SWT: manusia akan bebas terhadap rasa
takut dari kematian, kekhawatiran atas rezeki, manusia akan terbebas dari sikap
bakhil dan ketakutan terhadap hari-hari yang akan datang.
Muhammad bin Abdillah datang nntuk menyerukan bahwa hanya
Allah SWT yang patut disembah dan bahwa semua manusia adalah hamba-hamba-Nya.
Dcngan membebaskan manusia dari menyembah sesama mereka, maka kebcbasan yang
hakiki telah dimulai. Rasulullah saw memberitahu bahwa kematian adalah
perpindahan dari satu rumah ke rumah yang lain. Ia bukan akhiran yang misteri
dari kehidupan yang tidak dapat dipahami, tetapi ia hanya sekadar perpindahan.
Takut kepada kematian tidak akan menyelamatkan dari kematian itu sendiri, dan
cinta kepada kehidupan tidak akan memanjangkan ajal. Pada setiap ajal ada
ketentuannya. Maka keberanian merupakan unsur dari unsur-unsur pembentukan
kepribadian Islam dan bagian dari bagian-bagian sel yang ada dalam tubuh
seorang Muslim.
Rasulullah saw juga menyatakan bahwa rezeki di dunia sudah
dijamin dan ditentukan oleh Allah SWT:
"Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi
melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya. " (QS. Hud: 6)v
Jibril mewahyukan kepada Rasul saw bahwa suatu jiwa tidak
akan memenuhi ajalnya sehingga rezekinya disempurnakan. Jika demikian halnya,
maka tidak ada alasan bagi manusia untuk khawatir terhadap rasa lapar dan
gelisah terhadap hari esok. Semua ini terjadi dalam ruang lingkup mengambil
atau melalui jalanjalan menuju sebab. Yakni berusaha untuk mencapai rezeki yang
merupakan kewajiban bagi orang Muslim dan percaya terhadap kedermawan Allah SWT
yang juga merupakan suatu kewajiban bagi orang Muslim untuk mempercayainya.
Allah SWT berfirman:
"Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan
terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu. " (QS. adz-Dzariat: 22)
Allah SWT telah menjamin rezeki di dunia dan memerintahkan
manusia untuk berusaha mencapai rezeki di akhirat. Rezeki di dunia adalah
sesuatu yang sudah dijamin, sehingga manusia tidak perlu melakukan usaha yang
terlalu sengit untuk mencapainya. Cukup baginya untuk berusaha secara benar dan
seimbang. Sedangkan berkenaan dengan rezeki akhirat, Allah SWT memerin-tahkan
manusia untuk berusaha mencapainya karena ia adalah rezeki yang Allah SWT tidak
menjaminnya kecuali jika manusia berhasil melampaui dua jihad: jihad yang besar
dan jihad yang kecil. Jihad besar adalah jihad melawan hawa nafsu dan jihad
kecil adalah jihad melawan musuh di medan perang.
Dengan terbebasnya seorang Muslim dari kerisauan pada
kematian, rezeki, dan rasa takut, maka Islam memberi seorang Muslim senjatanya
dan alat-alatnya dan ia memerintahkannya untuk mulai memerangi
kekuatan-kekuatan kelaliman di muka bumi. Allah SWT berfirman tentang umat
Islam:
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk
manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan
beriman kepada Allah." (QS. Ali 'Imran: 110)
Perhatikanlah, bagaimana Allah SWT menyebutkan amal makruf
nahi mungkar sebelum keimanan kepada Allah SWT. Ini dimaksudkan agar akal
manusia tergugah akan pentingnyajihad di jalan Allah SWT. Amal makruf dan nahi
mungkar tidak terwujud semata-mata dengan memegang tongkat dan mencambukannya
kepada punggung orang-orang Islam yang tidak salat; ia juga tidak berupa usaha
untuk menahan orang-orang Muslim yang tidak berpuasa. Masalah itu lebih penting
dan lebih besar dari sekadar memperhatikan hal-hal yang bersifat lahiriah,
sedangkan hal-hal yang bersifat batiniah tidak diperhatikan.
Ayat tersebut berarti, hendaklah seorang Muslim membawa
senjata dan berdakwah di jalan Allah SWT serta memerangi orang-orang lalim di
muka bumi. Abu Bakar berkata: "Wahai manusia, kalian membaca ayat berikut
ini:"
"Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu. Tiadalah
orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat
petunjuk," (QS. al-Maidah: 105)
Dan aku mendengar Rasulullah saw bersabda:
"Sesungguhnya ketika masyarakat melihat orang yang lalim dan mereka tidak
menghentikannya, maka Allah SWT akan menimpakan azab kepada mereka semua."
Penafsiran Abu Bakar terhadap ayat tersebut sangat jelas
artinya. Yakni bahwa pelaksanaan ayat tersebut dapat diwujudkan dengan
adanyajihad di jalan Allah SWT dengan mengangkat senjata sebagai usaha untuk
menghentikan orang-orang yang lalim. Setelah itu, seorang Muslim dapat
mengatakan: "Aku telah melaksanakan tugasku dan tidak akan berdampak
kepadaku orang yang sesat setelah aku memberikan petunjuk."
Demikianlah pemahaman orang-orang Islam yang pertama. Maka
bandingkanlah pemahaman tersebut dengan pemahaman kita saat ini di mana kita
telah kchilangan keberanian, dan rasa takut telah menghinggapi tubuh
orang-orang Islam. Kaum Muslim lebih mengutamakan keselamatan diri mcrcka
daripada memerangi orang-orang yang lalim.
Muhammad bin Abdillah datang dengan membawa risalah Islam
yang di dalamnya terdapat perintah Ilahi untuk rnemerangi orang-orang yang
lalim dan mempertahankan kehormatan orang-orang yang tertindas di muka bumi.
Allah SWT berfirman:
"Karena itu, hendaklah orang-orang yang menukar
kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa
yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan, maka
kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar. Mengapa kamu tidak mau
berperang dijalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki,
wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: 'Ya Tuhan kami,
keluarkanlah kami dari negeri ini yang lalim penduduknya dan berilah kami
pelindung dari sisi-Mu, dan berilah kami penolong dari sisi-Mu. " (QS.
an-Nisa': 74-75)
Muhammad bin Abdillah membacakan kepada kaumnya tentang
penafsiran Allah SWT berkenaaan dengan makna kejayaan yang besar:
"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang
mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka
berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah
menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur'an. Dan
siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah?, maka
bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah
kemenangan yang besar." (QS. at-Taubah: 111)
Bacalah ayat tersebut dua kali dan renungkanlah tentang
kedermawan Allah SWT. Betapa tidak, Dia membeli jiwa orang-orang mukmin dan
harta mereka, padahal jiwa tersebut dan harta tersebut pada hakikatnya adalah
milik-Nya sendiri. Lihatlah bagaimana kemuliaan Allah SWT di mana Dia membeli
harta milik-Nya yang khusus dengan surga dan bagaimana Allah SWT menganjurkan
orang-orang Islam untuk berperang, dan Dia memberitahu mereka bahwa urusan
memerangi orang-orang lalim dan orang-orang yang tersesat bukanlah hal yang
baru atas orang-orang Islam. Allah SWT telah memerintahkan hal tersebut dalam
Injil dan Taurat. Sebagaimana Nabi Isa diutus dengan pedang, seperti yang
disebutkan dalam lembaran-lembaran atau buku-buku orang-orang Nasrani, maka
Nabi Musa pun diutus dengan membawa pedang. Dan ketika Bani Israil berkata
kepada Nabi Musa, "pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah, dan
kami hanya di sini duduk-duduk saja,", maka kehendak Ilahi menetapkan agar
mereka mendapatkan kesesatan selama empat puluh tahun sebagai akibat dari
perbuatan mereka itu, agar generasi yang lemah dan hina itu hancur yang mereka
justru tidak memenuhi panggilan Allah SWT dan mereka membiarkan Nabi Musa
bersama Tuhannya berperang, padahal peperangan itu merupakan tanggung jawab
mereka dan tugas mereka yang harus mereka emban sebagai pengikut Nabi Musa.
Demikianlah esensi dari ajaran Islam sebagaimana yang dibawa
oleh Muhammad bin Abdillah. Yakni ajakan untuk membaca dan menggali ilmu serta
mendapatkan kebebasan dan yang terpenting adalah usaha melawan
kekuatan-kekuatan lalim. Suatu ajakan yang universal yang tidak dikhususkan
untuk kalangan tertentu atau untuk waraa kulit tertentu atau untuk kaum
tertentu atau untuk tempat tertentu; suatu ajakan kemanusiaan yang komprehensif
yang universal yang ingin mengikat ilmu dan kebebasan dan jihad dengan tujuan
yang lebih tinggi, yaitu mencapai tauhid kepada Allah SWT dan menyucikan-Nya
serta keimanan terhadap hari kemudian dan kebangkitan manusia semuanya di hadapan
Allah SWT.
Adalah salah jika ada orang yang menganggap bahwa Islam
hanya memperhatikan aspek akhirat dan melupakan aspek duniawi. Menurut Islam
dunia adalah lembar-lembar jawaban yang akan dikoreksi di hari akhir. Ia adalah
ujian dan tempat percobaan bagi manusia agar manusia mengetahui apakah ia layak
untuk menda-patkan kemuliaan dari Allah SWT yang telah diberikan kepada Adam.
Atau apakah iajustru layak untuk jadi bagian dari tanah neraka Jahim dan
batunya, sebagaimana firman Allah SWT:
"Yang bahan bakarnya manusia dan batu. " (QS.
al-Baqarah: 24)
Rasulullah saw telah menjelaskan hikmah dari penciptaan
manusia, penciptaan kehidupan dan kematian ketika beliau menyampaikan firman
Allah SWT dalam surah al-Mulk:
"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji
kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amabiya. " (QS. al-Mulk: 2)
Dunia adalah rumah pergulatan. Dan Allah SWT telah
menciptakan kehidupan dan kematian agar manusia menyadari siapa di antara
mereka yang terbai amalnya. Tentu pengetahuan ini tidak akan menambah kekuasaan
Allah SWT. Pengetahuan itu justru dibutuhkan oleh manusia. Allah SWT
menciptakan manusia agar menusia mengetahui, danpengetahuan yang paling penting
adalah pengetahuan atau pengenalan terhadap diri. Dan pada hari kiamat manusia
akan mengenal dirinya secara sempurna dan ia akan mengenal balasan yang akan
diterimanya secara sempurna.
Dan barangkali mukadimah yang kami sarikan dari hari akhir
ini mengharuskan kehidupan di atas bumi dipenuhi dengan kesucian dan
kebersihan, yaitu diliputi dengan kemanusiaan yang sempurna yang di dalamnya
manusia layak untuk hidup. Demikianlah Islam yang dibawa oleh Muhammad saw.
Inilah asasnya dan hakikatnya. Itu adalah pondasi dan hakikat yang tidak
diciptakan oleh Muhammad saw dan tak didahului oleh rasul-rasul sebelumnya.
Hakikat risalah-risalah yang dulu semuanya adalah tauhid dan mempertahankan
kebenaran serta keimanan terhadap hari akhir dan menyerahkan jiwa dan anggota
tubuh hanya kepada Allah SWT. Yang baru dalam Islam adalah ilmu, kebebasan dan
universalitas ajaran Islam serta warna keadilan yang sangat kental, sehingga
sangat tepat jika dikatakan bahwa karakter dari Islam adalah keadilan.
Barangkali bagian ini perlu diperhatikan.
Meskipun agama-agama samawi pada esensinya satu, tetapi
kehendak Allah menuntut turunnya lebih dari agama dan lebih dari satu nabi.
Kehendak tersebut menuntut agar pada setiap agama terdapat karakter yang khusus
yang menggambarkan bentuk yang paling tepat sesuai dengan kebutuhan utama yang
di situ agama itu diturunkan dan sesuai dengan waktu saat itu. Orang-orang
Yahudi misalnya, mereka hidup di tengah-tengah suasana penyembahan berhala
dikalangan orang-orang Mesir kuno. Yahudisme diturunkan pada Bani Israil yang
suka membangkang dan karena itu, karakter utamanya adalah ketegasan
(as-Sharamah) agar mereka tidak terpengaruh dengan fenomena berhalaisme ala
Mesir atau mereka terkena pengaruh dari tindakan semena-mena Fir'aun. Dengan
ketegasan inilah agama Yahudi selamat dan dapat menjadi risalah penyelamatan
dan pembebasan.
Namun Bani Israil yang memperbudak manusia dan mempunyai
hati yang keras pada saat yang sama mereka keluar dari Fir'aun untuk masuk ke
cengkraman orang-orang Romawi di mana orang-orang Romawi justru lebih lalim dan
lebih kuat dari orang-orang Mesir. Oleh karena itu, orang-orang Masehi
bertanggung jawab untuk melakukan pembebasan baru tetapi dengan cara yang
berbeda sesuai dengan perubahan keadaan. Cara tersebut adalah menjauhkan
penggunaan kekuatan bersenjata karena kekuatan orang-orang Romawi mengungguli
kekuatan saat itu dan menguasai bumi secara keseluruhan. Maka kemenangan yang
mungkin dapat diperoleh adalah dengan cara menghindari tindak kekerasan dan
lebih mengutamakan pendekatan cinta. Dan pada kali yang lain orang-orang Masehi
memperoleh kemenangan melalui cara kedamaian dan cinta yang disebarkannya atas
imperialisme Romawi dengan segala senjatanya dan kekuasaannya.
Adapun Islam datang sebagai agama yang terakhir dan
menyeluruh yang layak untuk diterapkan di muka bumi, sehingga Allah SWT
mewariskan bumi dan apa saja yang ada di dalamnya kepada orang-orang yang
berhak mewarisinya. Oleh karena itu, agama yang terakhir ini harus mempunyai
karakter khusus dan karakter itu adalah karakter keadilan.
Ketegasan hanya cocok untuk zaman tertentu dan kelompok tertentu
dan keadaan tertentu, sedangkan cinta adalah contoh yang tertinggi, tetapi ia
tidak dapat menjadi sesuatu tolok ukur untuk dibandingkan dengan
tindakan-tindakan tertentu atau untuk dijadikan alat untuk melakukan sesuatu.
Dan jika ia menjadi tolok ukur bagi orang-orang yang memilki perasaan yang
tinggi atau budaya yang tinggi, maka ia tidak dijadikan tolok ukur umum dan
universal. Adapun keadilan, maka ia menjadi karakter Islam yang berarti
keseimbangan dalam sifat-sifat keutamaan dan meletakkan segala sesuatu pada
tempatnya. Ini adalah tolok ukur yang menyeluruh dan barometer yang akhir. Dan
barangkali kebesaran keadilan dan pengaruhnya dalam pengaturan alam
bersandarkan kepada firman Allah SWT:
"Allah menyatakan bahwasannya tidak ada Tuhan melainkan
Dia. Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga
menyatakan yang demikian itu)." (QS. Ali 'Imran: 18) Apabila Allah SWT
dalam Islam merupakan cermin yang tertinggi, maka keadilan yang disaksikan oleh
Allah SWT terhadap diri-Nya sendiri harus menjadi karakter Islam dan kaum
Muslim. Keadilan dalam Islam bukan hanya keadilan ekonomi atau keadilan hukum
atau keadilan dalam balasan, tctapi ia mencakup semuanya. Sebelum semua ini dan
sesudahnya, kcadilan dalam Islam merupakan suatu sistem dalam kehidupan dan
metode utama dalam Islam.
Ketika Anda memalingkan pandangan Anda dalam Islam, maka
Anda akan menemukan keadilan menghiasi seluruh wajah Islam. Di sana terdapat
keadilan antara agama-agama yang dulu, keadilan antara individu dan masyarakat,
keadilan antara dunia dan agama, keadilan antara pria dan wanita, keadilan
untuk orang-orang yang fakir dan orang-orang yang kaya, keadilan antara para
penguasa dan rakyat, bahkan dengan keadilan itu sendiri bumi dan langit
ditegakkan dan Allah SWT menyebut diri-Nya sebagai al-'Adl (Yang MahaAdil).
Selanjutnya, Islam adalah agama yang sudah lama sebagaimana
lamanya kedatangan para nabi. Nabi Nuh as berkata dalam surah Yunus:
"Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak
meminta upah sedikit pun darimu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka
dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri
(kepadanya)." (QS. Yunus: 72)
Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail as berkata dalam surah
al-Baqarah saat keduanya membangun Ka'bah: "Ya Tuhan kami, terimalah dari
kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui. Ya Tuhan Kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduh patuh
kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat
haji hami, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Menerima
taubat lagi Maha Penyayang. " (QS. al-Baqarah: 127-128)
Nabi Ibrahim tidak lupa untuk berwasiat kepada keturunannya
dan di antara mereka adalah Yakub agar mereka mati dalam keadaan Islam. Allah
SWT berfirman:
"Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada
anaknya, Demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): 'Hai anak-anakku, Sesungguhnya
Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah hamu mati kecuali dalam
memeluk agama Islam.'" (QS. al-Baqarah: 132) Ketika kematian mendekati
Yakub, beliau mengumpulkan anak-anaknya di sekelilingnya dan bertanya kepada
mereka:
"Apa yang kamu sembah sepeninggalku? Mereka menjawab:
'Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenak moyangmu, Ibrahim, Ismail, dan
hhaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepadanya.'"
(QS. al-Baqarah: 133) Allah SWT memberitahu kita dalam surah Yunus tentang
perkataan Nabi Musa kepada kaumnya: "Hai kaumku, jika kamu beriman kepada
Allah, maka bertawakallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang
berserah diri." (QS. Yunus: 84)
Sementara itu, Nabi Sulaiman adalah seorang Muslim sesuai
dengan nas ayat-ayat yang menceritakan tentang kisahnya bersama Ratu Saba'
ketika Ratu tersebut berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat
lalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah,
Tuhan semesta alam." (QS. an-Naml: 44)
Demikian juga Nabi Yusuf, beliau berdoa kepada Allah SWT dan
meminta kepadanya agar mematikannya sebagai orang Muslim dan memasukannya dalam
kelompok orang-orang yang saleh. Allah SWT berfirman dan bercerita tentang
Yusuf dalam surah Yusuf: "Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah
menganugerahkan kepadaku sebagaian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian
ta'bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi, Engkaulah Pelindungku di
dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku
dengan orang-orang yang saleh." (QS.Yusuf: 101)
Sementara itu dalam surah al-Maidah, Allah SWT mewahyukan
kepada kaum Hawariyin agar mereka beriman kepadanya dan kepada rasul-Nya lalu
mereka berkata: "Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa
Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu)." (QS.
al-Maidah: 111)
Jadi, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Nabi Yakub, Nabi
Musa Harun, Nabi Sulaiman, Nabi Yusuf, Nabi Isa adalah nabi-nabi yang Muslim
sesuai dengan nas ayat-ayat tersebut. Maka seluruh nabi adalah orang-orang
Muslim, lalu bagaimana Nabi Muhammad saw sebagai Nabi yang terakhir dikatakan
sebagai orang Muslim yang pertama? Allah SWT berfirman dalam surah al-An'am
yang ditujukan kepada Nabi yang terakhir: "Katakanlah: 'Sesungguhnya
shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta
alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku
dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).'"
(QS. al-An'am: 162-163)
Maka, bagaimana beliau menjadi orang Muslim yang pertama,
padahal penamaan umat beliau dengan sebutan al-Muslimin adalah penamaan yang
sebenarnya sudah dahulu dikenal di kalangan nabi-nabi yang terdahulu dan
kedatangannya ke alam wujud dan penamaan agamanya dengan sebutan al-Islam
sebenarnya berhutang kepada kakeknya yang jauh, yaitu Nabi Ibrahim. Allah SWT
berfirman dalam surah al-Hajj:
"Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam
agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia telah menamai
kamu sekalian orang-orang Muslim dari dahulu. " (QS. al-Hajj: 78)
Tidak ada pertentangan dalam pendahuluan para nabi dengan
sebutan al-Muslimin daripada Rasulullah saw dan kedudukan beliau sebagai orang
Muslim yang pertama. Tentu kata al-Awwal (yang pertama) di sini tidak dipahami
dari sisi waktu atau masa kemunculan, tetapi yang dimaksud dengan orang Muslim
di sini adalah akmalul muslimin (orang yang paling sempurna di antara
orang-orang Muslim). Suatu kali Aisyah pernah ditanya tentang akhlaknya
Rasulullah saw lalu dia menjawab dengan kalimatnya yang singkat: "Akhlak beliau
adalah Al-Qur'an."
Kita mengetahui bahwa Al-Qur'an al-Karim menetapkan akhlak
yang mulia meskipun dalam batasannya yang sederhana dan rendah, dan menyebutkan
keutamaan akhlak dalam tingkatannya yang tinggi. Oleh karena itu, akhlak
seperti apa yang dimiliki oleh Rasulullah saw: apakah beliau memiliki akhlak
yang sifatnya tengah-tengah, atau apakah beliau mendahului dalam kebaikan, atau
apakah beliau termasuk ashabul yamin (orang-orang yang berasal di sebelah
kanan), atau apakah beliau termasuk al-Muqarrabin (orang-orang yang dekat
dengan Allah SWT)? Rasulullah saw tidak hanya memiliki semua karakter tersebut
dan atribut tersebut, bahkan kedudukan beliau lebih dari itu semua. Beliau
berada di puncak dari segala puncak keutamaan akhlak, sehingga beliau berhak untuk
mendapatkan sebutan dari Allah SWT: "Dan sungguh pada dirimu terdapat budi
pekerti yang agung. " (QS. al-Qalam: 4)
Para Mufasir berbeda pendapat tentang makna dari al-Huluqul
'adzim (budi pekerti yang agung). Sebagian mereka mengatakan bahwa yang dimaksud
adalah Al-Qur'an. Sebagian yang lain mengatakan itu adalah Islam. Ada juga yang
mengatakan bahwa beliau tidak memiliki sesuatu kecuali keinginan untuk menuju
jalan Allah SWT.
Dalam Al-Qur'an al-Karim terdapat penjelasan tentang derajat
beliau yang tinggi dalam dua ayat yang mulia. Ayat yang pertama adalah
firman-Nya: "Katakanlah: 'Sesungguhnya Shalatku, ibadatku, hidupku dan
matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan
demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang
pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).'" (QS. al-An'am: 162-163)
Beliau adalah orang yang paling utama di antara manusia
semuanya; beliau memiliki keutamaan yang melebihi semua manusia; beliau
memiliki rahmat dan kemuliaan yang tidak dapat ditandingi oleh seseorang pun.
Meskipun beliau datang sebagai Nabi yang terakhir namun justru karena posisi
beliau sebagai Nabi yang terakhir, maka beliau menjadi bata yang terakhir dalam
pembangunan rumah kenabian yang tinggi, sehingga bata yang terakhir itu harus
menjadi puncak pembangunan manusia. Sedangkan ayat yang kedua adalah
firman-Nya:
"Dan Kami tidak mengutusmu kecuali sebagai rahmat bagi
alam semesta." (QS. al-Anbiya': 107) Beliau bukan hanya menjadi rahmat
bagi orang-orang Arab saja; beliau bukan hanya menjadi rahmat bagi orang-orang
Quraisy dan beliau bukan menjadi rahmat bagi zamannya saja, begitu juga beliau
tidak menjadi rahmat bagi jazirah Arab saja, tetapi beliau menjadi rahmat bagi
alam semesta; beliau senantiasa menjadi rahmat bagi alam semesta: dimulai dari
diturunkannya wahyu kepadanya dengan kalimat iqra hingga Allah SWT mewariskan
bumi dan apa saja yang ada di dalamnya kepada orang-orang yang berhak
mewarisinya sampai hari kiamat. Alhasil, beliau adalah rahmat yang dihadiahkan
kepada manusia; beliau adalah rahmat yang tidak menonjolkan mukjizat yang
mengagumkan, tetapi beliau adalah rahmat yang memulai dakwah dengan
mengutamakan fungsi akal atau pembacaan dua kitab: pertama, pembacaan kitab
alam atau Al-Qur'an yang diciptakan atau kalimat-kalimat Allah SWT yang terdiri
dari jutaan bentuk dan kedua pembacaan Al-Qur'an yang diturunkan melalui
malaikat Jibril di mana ia merupakan kalamullah yang abadi. Dan kitab alam
dibaca dengan ribuan cara: dibaca melalui penelusuran dunia:
"Katakanlah: 'Berjalanlah kamu di mnka bumi dan
amat-amatilah.'" (QS. an-Naml: 69) Atau dibaca melalui usaha menyingkap
misteri dan penggunaan akal: "Kami akan memperlihatkan kepada mereka
tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri,
sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu adalah benar. " (QS.
Fushilat: 53)
Atau dibaca melalui ilmu dan pengamatan: "Atau siapakah
yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang telah menjadikan
sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk
(mengokohkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut 1 Apakah di
samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka
tidak mengetahui." (QS. an-Naml: 61)
Jika di sana terdapat ribuan jalan atau cara untuk membaca
kalimat-kalimat Allah SWT dan kitab alam, maka di sana terdapat satu jalan
untuk membaca kalamullah yang abadi, yaitu hendaklah Al-Qur'an dibaca dengan
mata hati dan kecermelangan basirah, sehingga Al-Qur'an menjadi bagian akhlak
dari yang membaca sesuai dengan kemampuannya.
Sebelum turunnya Al-Qur'an, dunia diliputi dengan
kekurangan, baik secara materi, ruhani, undang-undang maupun dari dimensi
kehidupan yang biasa melekat pada manusia saat itu. Dan sebelum diutusnya Rasul
saw yang beliau adalah manusia yang sempurna dan paling utama, alam belum
mencapai puncak dari penyerahan diri kepada Allah SWT atau puncak dari
keutamaan akhlak. Ketika Rasulullah saw diutus, maka manusia mengalami
kesempurnaan dan mampu mencapai tingkat kesempurnaannya. Dengan Kitab yang
mulia ini dan Nabi yang pengasih, Allah SWT yang menyempurnakan agama bagi
manusia dan menyempurnakan nikmat-Nya atas mereka, sebagaimana firman-Nya:
"Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu,
dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itujadi
agama bagimu. " (QS. al-Maidah: 3)
Namun semua itu tidak terwujud begitu saja, Nabi yang mulia
harus berjuang secara serius dan sungguh-sungguh, sehingga beliau menjadi
manusia yang paling layak untuk mendapatkan pujian pendduduk bumi dan penduduk
langit. Dan Rasulullah saw telah melakukan semua itu. Kita tidak mengenal
seorang nabi yang perasaannya dihina dan dicaci maki lebih dari apa diterima
oleh Muhammad bin Abdillah; kita tidak mengenal seorang nabi yang memikul
berbagai penderitaan, dan memiliki kesabaran yang mengagumkan di jalan Allah
SWT sebagaimana yang ditunjukkan oleh Nabi kita.
Kemudian, seorang yang diutus oleh Allah SWT sebagai rahmat
bagi alam semesta tidak akan mengajak manusia menuju kebenaran kecuali jika
manusia tersebut dari kalangan orang-orang yang kafir dan membangkang. Beliau
berdakwah bagi orang yang berhak mendapatkan dakwah; beliau siap memikul
tanggung jawab dakwah dengan berbagai tantangan dan cobaannya; beliau menunjukkan
kesabaran yang luar biasa. Setelah itu, beliau datang kepada Allah SWT dengan
hati yang puas dan air mata yang bercucuran dan dengan suara berbisik berkata:
"Ya Allah, jika tidak ada kemurkaan pada diri-Mu, maka aku tidak akan
peduli dengan manusia." Segala sesuatu akan menjadi mudah jika di sana
terdapat ridha Allah SWT.
Setelah turunnya wahyu kepada Rasul saw, beliau memulai
tahapan dakwah dan mengajak manusia untuk menyembah Allah SWT. Dimulailah
dakwah secara rahasia yang berlangsung selama tiga tahun dalam persembunyian.
Mula-mula Ummul Mu'minin, Khadijah binti Khuwailid beriman
kepadanya, lalu beriman juga sahabatnya, Abu Bakar sebagaimana beriman
kepadanya anak pamannya, Ali bin Abi Thalib yang saat itu masih kecil dan hidup
di bawah asuhan Muhammad, dan juga beriman kepadanya Zaid bin Tsabit, seorang
pembantunya. Kemudian Abu Bakar juga ikut berdakwah, sehingga ia memasukkan
dalam dakwah teman-temannya, seperti Usman bin Affan, Thalha bin Ubaidilah, dan
Sa'ad bin Abi Waqas. Juga beriman seorang Masehi, yaitu Waraqah bin Nofel dan
Rasulullah saw melihatnya setelah kematiannya tanda kesenangan yang itu
menunjukkan ketinggian derajatnya di sisi Allah SWT. Setelah itu, Abu Dzar
al-Ghifari juga masuk Islam, lalu disusul oleh Zubair bin Awam dan Umar bin
'Anbasah serta Sa'id bin 'Ash. Jadi, Islam mulai mengepakkan sayapnya secara
rahasia di Mekah.
Kemudian berita tersebarnya akidah yang baru ini sampai
kepada pembesar-pembesar Quraisy, tetapi mereka tidak begitu peduli. Barangkali
mereka membayangkan bahwa Muhammad telah menjadi—karena uzlah yang dilakukannya
di gua Hira—salah seorang juru bicara tentang ketuhanan sebagaimana pernah
dilakukan oleh Umayah bin Shalt dan Qas bin Sa'adah.
Demikianlah dakwah secara rahasia berhasil mengembangkan
misinya dan dapat melindungi akidah yang baru. Dan selama perjalanan tiga tahun
yang dibutuhkan tahapan dakwah secara rahasia keimanan telah tertanam dalam
hati kaum Muslim yang pertama. Rasulullah saw telah mendidik mereka dan telah
menanamkan kepada diri mereka sifat-sifat kemuliaan dan telah menciptakan
mereka sebagai benih pertama dari pasukan Islam. Pada suatu hari Jibril turun
dengan membawa firman Allah SWT:
"Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang
terdekat." (QS. asy-Syu'ara': 214) Demikianlah, datanglah perintah Ilahi
agar Rasulullah saw berdakwah secara terang-terangan. Lalu berkumpullah di
sekeliling Nabi sekelompok tentara yang besar dan datanglah perintah Ilahi agar
beliau menyampaikan dakwah secara terang-terangan dan mengingatkan keluarga dekatnya.
Ketika Nabi melakukan hal tersebut, maka dakwah memasuki tahapan yang kedua.
Dan tahapan dakwah yang baru ini berakibat pada timbulnya penekanan terhadap
para dai di mana mereka mengalami penindasan, bahkan mereka didustakan oleh
masyarakat serta diboikot.
Orang-orang Quraisy mengetahui bahwa Muhammad berbahaya bagi
mereka. Beliau bukan hanya berbicara tentang ketuhanan, tetapi beliau mengajak
rnanusia untuk mengikuti agama baru, yaitu agama yang mencoba untuk
menyingkirkan berhala-berhala dan patung-patung mereka serta tuhan-tuhan mereka
yang mereka yakini; agama yang mencoba menyingkirkan kedudukan sosial mereka
dan kepentingan-kepentingan ekonomi mereka; agama yang menyatakan bahwa tiada
tuhan lain selain Allah SWT, dan tiada hukum lain selain hukum-Nya, serta tiada
penguasa lain selain Dia. Kedatangan agama tersebut menyebabkan penduduk kota
Mekah membencinya dan orang-orang yang memegang kekuasaan di dalamnya merasa
gelisah.
Setelah pengumuman dakwah secara terang-terangan, dimulailah
dan ditabuhlah gendrang peperangan. Kemudian peperangan yang dahsyat terjadi
antara para pembesar Quraisy dan para pengikut Rasulullah saw. Orang yang
pertama kali menyerang Islam adalah seorang tokoh Mekah yang bernama Abu Lahab.
Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah saw menaiki bukit
Shafa dan beliau mulai memanggil-manggil tokoh Quraisy dan para kabilah Mekah.
Dan ketika semua berkumpul, beliau bertanya kepada mereka: "Apakah kalian
percaya jika aku memberitahu kalian bahwa seekor kuda akan datang menyerang kalian?"
Mereka menjawab: "Tentu, kami belum pernah melihatmu berbohong."
Beliau berkata: "Aku seorang yang diutus sebagai pemberi peringatan
terhadap kalian. Di hadapanku terdapat siksaan yang berat jika kalian
menentang." Abu Lahab berkata: "Sungguh celaka engkau, apakah karena
ini engkau mengumpulkan kami."
Dengan penghinaan inilah, peperangan terhadap Islam dimulai.
Ketika kaum Muslim tidak mampu mempertahankan diri mereka, maka mula-mula Allah
SWT membantu mereka dan menolong mereka dengan menurunkan surah yang pendek
yang mengecam tindakan Abu Lahab: "Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan
sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah bermanfaat kepadanya harta bendanya dan
apa yang dia usahahan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan
(begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari
sabut. " (QS. Allahab: 1-5)
Dengan ayat-ayat yang pendek dan tepat tersebut, Abu Lahab
memasuki kancah sejarah dari pintunya yang paling pendek. Gambaran tentang
kejahatan Abu Lahab tertulis selama-lamanya. Abu Lahab adalah seorang yang
menentang dakwah kebenaran karena ia mengkhawatirkan kedudukannya dan
kekayaannya, padahal harta yang dipertahankannya dan dijaganya tidak memiliki
arti sama sekali di sisi Allah SWT karena ia sekarang berada dan dijebloskan di
tengah-tengah neraka yang menyala-nyala, sedangkan isterinya membawa kayu
bakar, sehingga menambah nyala api itu sendiri. Dan di lehernya terdapat suatu
belenggu sebagai simbol keterikatannya dengan dunia binatang yang tidak
berakal. Sebagian besar orang-orang yang menentang dakwah adalah orang-orang
yang berhubungan dengan dunia binatang yang tidak sadar.
Allah SWT berfirman: "Atau apakah kamu mengira bahwa
kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah
seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang
ternak itu). " (QS. al-Furqan: 44)
Seandainya hari ini kita merenungkan reaksi orang-orang
kafir dan orang-orang musyrik, maka kita akan terheran-heran.
Allah SWT berfirman:
"Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang
pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata:
'Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta. Mengapa ia menjadikan
tuhan-tuhan itu Tuhan yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal
yang sangat mengherankan'." (QS. Shad: 4-5)
Coba perhatikan bagaimana kebodohan kaum itu di mana mereka
menganggap bahwa pada hakikatnya terdapat multi tuhan dan mereka jutru merasa
heran ketika terdapat hanya satu tuhan atau tuhan yang esa. Mereka justru
merasa heran ketika berhadapan dengan masalah yang fitri dan jelas ini.
Allah SWT berfirman:
"Dan apabila mereka melihat kamu (Muhammad), mereka
hanyalah menjadikan kamu sebagai ejekan (dengan mengatakan): 'Inikah orangnya
yang diutus Allah sebagai rasul? Sesungguhnya hampirlah ia menyesatkan kita
dari sembahan-sembahan kita, seandainya kita tidak sabar (menyembah)nya. "
(QS. al-Furqan: 41-42)
Perhatikanlah betapa nekatnya kaum itu di mana mereka mulai
menghina dan mengejek Rasulullah saw, padahal beliau telah datang di
tengah-tengah mereka untuk menyelamatkan mereka dari api neraka, dan coba
perhatikan bagaimana pandangan mereka terhadap tuhan-tuhan mereka. Mereka
membayangkan bahwa mereka nyaris tersesat jika mereka tidak bersabar dalam
membela tuhan-tuhan tersebut. Demikianlah kesesatan mengejek kebenaran dan
kebodohan menghina ilmu. Mereka justru merasa heran terhadap kepandaiannya yang
dapat menyelamatkannya dari meninggalkan tuhan-tuhannya yang terbuat dari batu
dan kayu, bahkan terkadang mereka membuat tuhan dari adonan roti di mana mereka
menyembahnya kemudian memakannya. Mereka mengatakan bahwa tuhan-tuhan kami
menyelamatkan kami dari rasa lapar atau mereka mengatakan bahwa kami menyembah
mereka agar mereka dapat mendekatkan kami pada Allah sedekat-dekatnya.
Meskipun demikian, dakwah Nabi terus berlanjut dan tertanam
di muka bumi. Mereka orang-orang musyrik menuduh Nabi sebagai seorang dukun;
mereka menuduhnya juga sebagai seorang gila, bahkan mereka menuduhnya sebagai
seorang penyihir; mereka menuduh bahwa beliau berbohong atas nama kebenaran dan
beliau dibantu oleh kaum yang lain; mereka mengatakan ini adalah dongengan
orang-orang yang dahulu.
Mereka meminta kepada beliau untuk mendatangkan mukjizat
dengan bentuk tertentu; mereka memberitahu bahwa mereka tidak akan beriman
kepadanya, sehingga terdapat suatu mata air yang memancar dari bumi atau
terwujud di depan mereka suatu taman dari pohon kurma dan anggur yang memancar
di tengah-tengahnya sungai, atau langit akan runtuh sebagaimana yang beliau
sampaikan kepada mereka sebagai bentuk azab atau beliau datang dengan Allah SWT
dan para malaikat dan mereka semua menjamin kebenaran dakwah yang diserukannya,
atau beliau memiliki rumah dari emas atau beliau mampu mendaki langit dan
mereka masih belum beriman terhadap pendakian itu meskipun ia mendaki di
hadapan mata mereka dan kembali dengan selamat, kecuali jika ia menghadirkan
kitab kepada mereka yang dapat mereka baca dari langit.
Nabi tidak peduli dengan usaha mereka untuk menyakiti hati
beliau; Nabi tetap memberitahu mereka dengan penuh kelembutan bahwa apa saja
yang mereka minta itu tidak sesuai dengan Islam. Sebab, Islam hanya menyeru
akal dan berusaha menciptakan kebebasan. Beliau menyampaikan kepada mereka
bahwa beliau hanya sekadar manusia yang diutus oleh Tuhan; beliau datang kepada
mereka untuk mengingatkan mereka akan suatu hari di mana seorang tua tidak akan
menyelamatkan anaknya dan tidak bermanfaat di dalamnya harta dan anak-anak, dan
mereka tidak akan selamat di dalamnya dari siksaan. Orang-orang yang mempunyai
kedudukan atau para tokoh mereka adalah para tiran-tiran di muka bumi di mana
semua itu tidak akan bermanfaat bagi mereka pada hari kiamat. Siksaan yang
bakal mereka terima tidak dapat mereka hindari dan mereka pun tidak dapat meringankannya.
Demikianlah Islam—sebagaimana agama-agama sebelumnya—
mengumpulkan di sekelilingnya orang-orang yang berakal dan orang-orang yang
fakir serta orang-orang yang menderita di muka bumi. Berimanlah sekelompok
orang-orang fakir di mana mereka menjadi kelompok sosial yang tertindas dan
tersingkirkan di Mekah. Mereka menjadi makanan empuk kelompok-kelompok yang
lalim.
Islam bukan hanya memberikan solusi ekonomi terhadap tragedi
kehidupan atau masyarakat, tetapi Islam memberikan solusi Ilahi terhadap keberadaan
manusia secara umum; Islam meyakini bahwa manusia bukan hanya sekadar perut
yang harus dikenyangkan dan naluri seksual yang harus dipuaskan, manusia bukan
hanya dilihat dan dinilai dari sisi ini, namun Islam justru meletakkan manusia
pada tempatnya yang hakiki, tanpa membesar-besarkan atau mengecilkannya. Dalam
pandangan Islam, manusia terdiri dari bangunan fisik dan ruhani, terdiri dari
akal dan ambisi dan terdiri dari celupan dari Allah SWT dalam ruhnya.
Islam tidak mementingkan fisik saja dan meninggalkan ruhani,
begitu juga sebaliknya. Terkadang fisik boleh jadi mendapatkan kebahagiaan
dalam kehidupan, tetapi ruhani justru mengalami penderitaan yang luar biasa.
Karena itu, pemuasan salah satu dimensi dari dimensi manusia tidak akan membawa
manusia kepada kesempurnaan atau kebahagiaan. Maka, Islam datang untuk membawa
suatu solusi yang dapat menyelamatkan manusia dari dalam dirinya sendiri dan
Islam membebankan tugas ini, yakni tugas perubahan ini kepada Al-Qur'an.
Al-Qur'an menjadi cermin dalam kehidupan di mana
ayat-ayatnya diturunkan kepada Rasul saw, lalu beliau mengajarkannya kepada
kaum Muslim. Kemudian Al-Qur'an berubah menjadi orang-orang yang berjalan di
pasar-pasar dan mengancam singgasana kebencian yang menguasai Mekah, sehingga
orang-orang musyrik justni meningkatkan usaha pengejekan dan penghinaan
terhadap Rasul saw. Oleh karena itu, beliau semakin sedih lalu Allah SWT
menghiburnya. Allah SWT memberitahu beliau bahwa mereka tidak mendustakannya,
tetapi mereka justru melalimi diri mereka sendiri. Mereka mulai menentang Nabi
dan ayat-ayat Allah SWT, padahal Nabi adalah salah satu dari ayat Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasannya apa yang
mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah hamu bersedih hati), karena
mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang lalim
itu mengingkari ayat-ayat Allah." (QS. al-An'am: 33)
Kemudian kaum musyrik meningkatkan penindasan kepada Rasul
saw dan para pengikutnya. Peperangan dimulai: dari peperangan urat saraf sampai
peperangan fisik. Mereka mulai menyiksa para pengikut Rasul saw, bahkan
membunuhnya. Pada saat itu, musuh-musuh Islam membayangkan bahwa dengan cara
menindas kaum Muslim dan menekan mereka dakwah Islam akan berhenti dan kaum
Muslin akan enggan untuk berdakwah. Mereka menganggap bahwa kaum Muslim justru
memilih untuk menyelamatkan diri mereka. Namun para tokoh-tokoh Quraisy dan
para tokoh-tokoh Mekah dikagetkan ketika melihat penekanan yang mereka lakukan
justru semakin membakar semangat kaum Muslim untuk berdakwah. Saat itu kaum
Muslim merasa yakin bahwa benih yang telah ditanam Rasulullah saw dalam diri
mereka menjadikan mereka tetap bersemangat untuk menyebarkan risalah Allah SWT
di muka bumi, yaitu suatu risalah yang mengembalikan bumi menuju kematangan
(kesempurnaan) yang telah hilang darinya dan kema-nusiaan yang telah
disia-siakan serta kehormatan yang telah ditumpahkan dan kebebasan yang telah
hilang.
Kaum Muslim yakin bahwa mereka bukan hanya membangun suatu
negeri yang kecil di Mekah, dan mereka bukan hanya memperbaiki masyarakat yang
rusak, yaitu masyarakat jazirah Arab, tetapi mereka mengetahui bahwa mereka
akan membangun suatu manusia yang baru. Mereka akan menciptakan manusia
seutuhnya; mereka akan menghadirkan dunia dalam bentuk yang baru dan dalam
gambar yang baru yang merupakan cermin dari gambar kebesaran sang Pencipta.
Sebelum kedatangan Islam, orang-orang Arab tidak dikenal.
Dibandingkan dengan peradaban yang dahulu dan modern, orang-orang Arab tidak
memiliki apa-apa. Mereka tidak memberikan kontribusi kepada dunia dalam bentuk
ilmu, seni, atau peninggalan apa pun yang dapat dijadikan sebagai kebanggaan.
Namun ketika Islam turun kepada mereka, mereka menjadi cermin kejayaan manusia
di mana mereka dapat memberikan sumbangan nyata pada umat manusia. Bahkan
orang-orang Barat banyak berhutang kepada mereka dalam kemajuan yang mereka
capai saat ini. Sebaliknya, ketika mereka berpaling dari Islam di mana Islam
hanya menjadi lembaran cerita-cerita dan kertas-kertas yang tidak berguna, maka
saat itulah orang-orang Barat dapat menguasai kaum Muslim karena mereka justru
mendapatkan ilmu dari Kaum Muslim itu sendiri. Mereka justru mencapai kemajuan
ketika kaum Muslim meninggalkan agama mereka. Jadi, ketika kaum Muslim memahami
Islam secara benar dan berusaha untuk memnghidupkan ajaran-ajarannya niscaya
mereka akan mencapai puncak keilmuan.
Pada awal-awal masa tersebarnya Islam, kaum Muslim menyadari
bahwa mereka menghadapi peperangan yang tidak akan berhenti. Selama kehidupan
ada, maka pertentangan pun tetap ada. Oleh karena itu, ketika mereka
mendapatkan penganiayaan dan siksaan, maka keimanan mereka justru semakin
meningkat, dan setiap penganiayaan yang dilakukan oleh kaum Quraisy, maka
mereka tetap bertahan untuk mempertahankan kebenaran. Sebagai contoh, Amar bin
Yasir mengalami penderitaan dan penganiayaan. Ia adalah salah seorang budak
yang menjadi korban dari sistem ekonomi yang berlaku saat itu, yaitu ekonomi
yang berdasarkan kepada sistem perbudakan. Seorang yang beriman tersebut
disiksa di Mekah di mana ia tidak memperoleh kebebasannya yang hakiki kecuali
setelah ia memeluk Islam. Mereka mengeluarkannya ke gurun dan menyiksanya
beserta ibunya. Bahkan siksaan semakin meningkat atas ibunya agar ia kembali
menjadi musyrik. Ketika ia tetap mempertahankan keimanannya dan dengan tegas
menolak ajakan untuk menentang Islam, maka Abu Jahal menikamnya dengan belati
yang ada di dua tangannya. Ia pun meninggal. Dan Islam mengorbankan syahidnya
yang pertama. Wanita mulia itu bernama Sumayah, ibu dari Amar bin Yasir.
Banyak kalangan orang-orang bodoh mengatakan tentang
persetujuan Islam terhadap sistem perbudakan, atau Islam mendiamkan sistem
perbudakan. Mereka lupa bahwa Islam dibangun berdasarkan suatu prinsip yang
ingin membebaskan perbudakan dengan segala bentuknya; Islam ingin mengeluarkan
manusia dari kepemilikan sesama manusia menuju kepemilikan kepada Allah SWT.
Jika Islam tidak turun dengan nas-nas yang terperinci yang
mengharamkan sistem perbudakan, maka dasar-dasarnya secara umum dan
prinsip-prinsip utamanya menghentikan—baik dalam tindakan maupun
ucapan—sumber-sumber sistem ini. Allah SWT sebagai pemilik syariat mengetahui
bahwa sistem perbudakan adalah sistem ekonomi yang sementara yang akan berubah
dengan perubahan waktu, dan karena Islam tidak turun pada waktu yang terdapat
perbudakan saja, tetapi ia turun secara umum dan menyeluruh untuk setiap zaman,
maka Islam sengaja melewati bentuk-bentuk yang temporal ini dari bentuk-bentuk
eksploitasi menuju unsur yang pertama atau dasar pertama yang menimbulkan
bentuk-bentuk eksploitasi tersebut, sehingga Islam mengharamkannya. Dengan cara
demikian, Islam mengharamkan sistem perbudakan secara bertahap, seperti proses
pengharaman khamer. Jadi, keseriusan Islam sangat menonjol dalam usaha menghapus
dan mengharamkan perbudakan.
Jika dikatakan kepada kita bahwa Islam membolehkan para
tentaranya untuk memperbudak para tawanan perang, maka kita akan mengatakan
bahwa Islam menerapkan sistem ini sebagai bentuk pembalasan terhadap perlakuan
yang sama di mana musuh-musuh Islam menjadikan kaum Muslim sebagai budak-budak
mereka ketika mereka menawannya. Oleh karena itu, secara alami orang-orang
Islam pun menawan mereka sebagai budak-budak. Jika Islam tidak melakukan yang
demikian, maka boleh jadi Islam akan dimain-mainkan dan ada kesempatan besar
bagi orang-orang musyrik untuk memperdaya Islam.
Demikianlah bahwa dakwah Islam mengalami berbagai macam
hambatan dan penindasan. Dan ketika orang-orang yang tersiksa mengadu kepada
Rasulullah saw atas penindasan yang mereka terima, maka Rasulullah saw
memberitahu mereka dengan pembicaraan yang jelas bahwa para dai di jalan Allah
SWT harus mengorbankan kesenangan mereka, kedamaian mereka, dan darah mereka
sebagai harga yang pantas untuk tersebarnya dakwah Islam. Kebebasan bukan
diperoleh dengan cuma-cuma. Sejarah kehidupan menceritakan kepada kita bahwa ia
dipenuhi dengan gumpalan darah yang harus dibayar oleh masyarakat untuk
memerangi musuh-musuhnya dari luar dan dari dalam. Jika ini dialami setiap
orang yang menuntut kebebasan pada zaman dan tempat tertentu, maka bagaimana
dengan orang-orang yang menuntut kebebasan manusia secara keseluruhan.
Seorang Muslim hendaklah sadar bahwa dengan mengumumkan
dakwahnya, maka ia pasti akan menerima pengusiran, penindasan, penjara,
pengepungan dan pembunuhan. Ini adalah harga yang pantas yang harus dibayar
ketika berdakwah di jalan Allah SWT; inilah harga kebebasan. Bahkan terkadang
kaum yang batil pun membayamya dengan senang hati, maka bagaimana mungkin
orang-orang yang bersama kebenaran ragu untuk melakukannya.
Pada hakikatnya, manusia cinta kepada keabadian. Secara
naluri manusia merasa takut pada azab dan kematian. Dan barangkali yang
membedakan orang-orang Islam yang hakiki dengan yang lainnya adalah bahwa
mereka terbebas dari rasa ketakutan dan cinta keabadian. Ini adalah tolok ukur
yang pasti untuk membedakan antara seorang Muslim yang hakiki dan seorang
Muslim yang hanya namanya atau Muslim warisan atau hanya klaim semata.
Seorang Muslim yang hakiki menyadari bahwa ajal di tangan
Allah SWT, rezeki adajuga di tangan-Nya, begitu juga keamanan semua ada di
tangan-Nya. Dengan keimanan seperti ini, ia memulai pergulatannya untuk
menyebarkan dakwah. Ia siap untuk menerima penyiksaan dan penderitaan di jalan
Allah SWT; ia pun siap meneteskan darahnya sebagai harga yang pantas yang
diberikannya dalam rangka memperoleh kebebasan. Ini semua dilakukanya dengan
begitu sederhana dan tidak ada rasa takut karena Islam membebaskannya dari rasa
ketakutan. Dahulu para pembangkang menggergaji orang-orang yang menyeru di
jalan Allah SWT dengan menggergaji saat mereka dalam keadaan hidup-hidup.
Khabab bin Irit pergi menemui Rasulullah saw dan meminta
tolong kepada beliau dari penyiksaan orang-orang Quraisy, sambil berkata:
"Tidakkah engkau menolong kami, wahai Rasulullah? Tidakkah engkau berdoa
kepada kami, ya Rasulullah?" Rasulullah saw menjawab: "Sungguh
sebelum kalian terdapat orang-orang yang berdakwah di jalan Allah SWT lalu
mereka dimasukkan dalam suatu galian tanah lalu mereka digergaji di mana tubuh
mereka dipisah menjadi dua, namun mereka tetap mempertahankan agamanya. Demi
Allah, sungguh Allah SWT akan menolong masalah ini tetapi kalian terlalu
tergesa-gesa."
Dengan kalimat-kalimat yang penuh kesabaran dan keberanian
ini, Rasulullah saw ingin memahamkan kepada orang tersebut bahwa termasuk dari
kesempurnaan iman adalah membayar harga kebebasan. Jelas sekali bahwa Islam
tidak memberikan keuntungan bagi orang yang memeluknya. Orang-orang Islam yang
pertama tidak bertanya dan mengatakan: "Apa yang kita peroleh dari agama
ini?" Sebaliknya, mereka bertanya: "Apa yang kita bayar untuk
Islam?" Jawabannya adalah: "Segala sesuatu dimulai dari suapan-suapan
roti sampai darah yang tertumpah." Jadi, kaum Muslim yang pertama telah
membayar ongkos kebebasan. Mereka merasakan kedamaian yang luar biasa untuk
mempertahankan agama Allah SWT; mereka mendapatkan kepercayaan yang tinggi
tentang kemenangan kebenaran yang datang kepada mereka; mereka justru
memberitahu orang-orang musyrik bahwa mereka akan dapat mengalahkan raja-raja
Kisra dan Kaisar. Dengan dakwah yang mereka lakukan, mereka akan menjadi
pemimpin-pemimpin di muka bumi. Kaum musyrik justru memanfaatkan kepercayaan
ini untuk mengejek mereka dan menertawakan mereka.
Ketika Aswad Ibnu Matlab dan orang-orang yang bersamanya
melihat sahabat-sahabat Nabi, maka mereka mengejek dan mengatakan: "Telah
datang kepada kalian pemimpin-pemimpin bumi yang esok akan mengalahkan
raja-raja Kisra dan Kaisar, kemudian mereka bersiul dan bertepuk tangan."
Namun kaum mukmin tidak peduli dengan ejekan tersebut. Demikianlah bahwa ejekan
demi ejekan terus menyertai dakwah kaum Muslim. Kemudian kaum Quraisy
mengadakan pertemuan yang bersejarah untuk menyatukan pandangan dalam rangka
menyerang Rasulullah saw. Kaum musyrik menuduhnya bahwa beliau adalah seorang
ahli sihir, dan pada kali yang lain mereka menuduhnya bahwa beliau adalah
dukun, dan pada kali yang lain lagi mereka menuduhnya bahwa beliau adalah
penyair, bahkan pada kali yang lain mereka menuduhnya bahwa beliau adalah
seorang yang gila. Kemudian mereka semua sepakat untuk menuduh bahwa beliau
adalah seorang penyihir.
Walid bin Mughirah yang terkenal sebagai orang yang
terpandang di kalangan mereka menuduh Rasulullah saw sebagai penyihir yang
dapat memisahkan antara sesama saudara dan antara seseorang dengan isterinya.
Kemudian mereka membikin kelompok-kelompok yang mengingatkan para pendatang di
Mekah bahwa Muhammad adalah seorang penyihir. Meskipun demikian, dakwah Islam
tetap berlangsung. Ia tetap tersebar dengan pelan namun pasti dan
kalimat-kalimat yang diutarakan Nabi justru mengingatkan perjanjian yang pernah
dilakukan oleh manusia, yaitu perjanjian saat Allah SWT menyaksikannya ketika
mereka masih di alam atom di punggung Adam: "Bukankah aku Tuhan kalian? Mereka
menjawab: 'Benar.'" (QS. al-A'raf: 172) Bertambahlah jumlah kaum Muslim
hingga kaum Quraisy merasakan ketakutan. Mereka mulai melihat bahwa penggunaan
cara-cara kekerasan tidak selalu berhasil. Kemudian mereka memilih untuk
menggunakan cara baru, yaitu bagaimana seandainya mereka menggunakan perdamaian
dan perundingan. Orang-orang Quraisy mengutus 'Utbah bin Rabi'ah, seorang
lelaki yang terkenal dengan kecerdasan dan kebijaksanaan sebagai juru runding.
'Utbah berkata kepada Rasul saw: "Wahai anak saudaraku,
kami mengetahui kedudukanmu di sisi kami dari sisi nasab. Engkau datang kepada
kaummu dengan suatu hal yang besar di mana engkau memisahkan kelompok-kelompok
mereka. Maka dengarkanlah aku karena aku ingin berbicara tentang beberapa hal.
Barangkali engkau akan menerima sebagiannya." Rasul saw berkata:
"Silakan berbicara wahai 'Utbah." 'Utbah berkata: "Jika engkau
menginginkan harta niscaya kami akan mengumpulkan harta bagimu, sehingga engkau
akan menjadi orang yang paling kaya di antara kami, dan jika engkau
menginginkan kehormatan, maka kami akan memberi kehormatan itu bagimu dan jika
engkau menginginkan kekuasaan, maka kami akan menyerahkan kekuasaan padamu dan
jika engkau terkena penyakit yang engkau tidak mampu menolaknya dari dirimu,
maka kami akan mencarikan tabib bagimu dan kami akan mengeluarkan harta kami
sehingga engkau sembuh."
Demikianlah 'Utbah mengakhiri pembicarannya. Kemudian ia
menunggu reaksi Nabi. Lalu Rasulullah saw berkata: "Dengan nama Allah yang
Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Haa miim. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha
Pemurah lagi Maha Penyanyang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan
dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui. Yang membawa berita gembira dan
yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (darinya);, maka
mereka tidak (mau) mendengarkan. Mereka berkata: 'Hati kami berada dalam
tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan di telinga kami
ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu;
Sesungguhnya kami bekerja (pula).' Katakanlah: 'Bahwasannya aku hanyalah
seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasannya Tuhan kamu adalah
Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadanya dan
mohonlah ampun kepadanya. Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang
mempersekutukan-(Nya), (yaitu) orang-orangyang tidak menunaikan zakat dan
mereka kafir akan adanya (hehidupan) akhirat. Sesungguhnya orang-orang yang
beriman dan mengerjakan amal yang saleh mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya.'
Katakanlah: 'Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi
dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian
itulah Tuhan semesta alam. Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang
kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar
makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai
jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian dia menuju kepada penciptaan
langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan
kepada bumi: 'Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau
terpaksa.' Keduanya menjawab: 'Kami datang dengan suka hati.' Maha Dia
menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap
langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang
cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan
Yang Maha Perhasa lagi Maha Mengetahui. Jika mereka berpaling, maka katakanlah:
'Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum
'Ad dan kaum Tsamud." (QS. Fushilat: 1-13)
Rasulullah saw telah menjawab tawaran 'Utbah di mana beliau
memilih untuk menghadapi tawaran dan iming-iming tersebut dengan membaca
sebagian dari surah Fhusilat yang merupakan salah satu surah Al-Qur'an yang
diturunkan oleh Allah SWT melalui malaikat Jibril. 'Utbah bangkit dari
tempatnya ketika Rasulullah saw sampai pada firman-Nya:
"Jika mereka berpaling, maka katakanlah: 'Aku telah
memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum "Ad dan
kaum Tsamud. " (QS. Fushilat: 13) 'Utbah berdiri dalam keadaan takut dan
segera menuju kaum Quraisy. Bayang-bayang azab dunia terngiang di telinganya.
Dan ketika ia sampai ke orang Quraisy, ia mengusulkan agar orang-orang Quraisy
membiarkan apa saja yang dilakukan Muhammad. Gagallah perundingan dengan
seorang Muslim yang pertama, yaitu Rasulullah saw. Gagalnya perundingan
tersebut sebagai bentuk pemberitahuan tentang kembalinya tindak kekerasan dan
penyiksaan terhadap sahabat-sahabat Rasul saw. Kemudian kaum musyrik semakin
meningkatkan penindasan terhadap kaum Muslim. Rasulullah saw sangat menderita
melihat hal yang dirasakan para sahabatnya. Ketika kaum Muslim membayar harga
yang paling mahal sebagai konsekuensi dari akidah yang mereka anut dan mereka
dengan sabar memikul penderitaan di jalan Allah SWT, maka Rasulullah saw
mengisyaratkan mereka untuk berhijrah. Beliau memberikan izin untuk berhijrah
bagi orang yang ingin hijrah.
Kemudian Dimulailah gelombang hijrah. Itu terjadi pada lima
tahun dari turunnya wahyu setelah dua tahun diumumkannya dakwah. Maka
berhijrahlah ke Habasyah enam belas orang Muslim. Mereka keluar secara rahasia
dan mereka menuju ke laut. Mereka berlayar meskipun orang-orang yang tinggal di
gurun sebenarnya tidak ingin berlayar karena mereka takut dari laut dan mereka
yakin bahwa manusia yang berlayar di laut akan menjadi ulat di atas kayu-kayu
yang berenang.
Selanjutnya, gelombang hijrah yang kedua pun dimulai. Kali
ini diikuti oleh delapan puluh tiga orang laki-laki dan sembilan belas
perempuan. Kemudian orang-orang Quraisy berusaha untuk mengirim beberapa orang
dan tetap berusaha menyiksa dan menyakiti orang-orang yang berhijrah. Mereka
mengutus ke Najasyi, Raja Habasyah, orang-orang yang dapat mempengaruhinya
untuk menentang orang-orang yang berhijrah. Mereka menuduh kaum Muslim
meninggalkan agama nenek moyang mereka di Mekah dan mereka juga tidak menganut
agama Najasyi, yaitu agama Kristen. Kemudian orang-orang Quraisy tidak lupa mengirim
hadiah kepada Najasyi sebagai bentuk suapan kepadanya. Tampaknya Najasyi
seorang yang berakal lalu ia mengutus seseorang kepada kaum muhajirin dan
bertanya kepada mereka tentang agama baru yang mereka anut. Kemudian kaum
muhajirin menceritakan kepadanya tentang Islam.
Najasyi bertanya tentang Isa lalu mereka menjawab: "Ia
adalah hamba Allah SWT dan rasul-Nya dan ruh-Nya serta kalimat-Nya yang
diletakkan kepada Maryam, wanita yang perawan yang suci." Kemudian Najasyi
mengambil satu kayu kecil dari bumi dan mengatakan: "Penjelasan tentang
Isa yang kalian katakan tidak lebih dari kayu kecil ini. Pergilah kalian dan
kalian akan aman." Najasyi mengembalikan hadiah kaum Quraisy dan
mengatakan: "Allah tidak mengambil suap dariku sehingga aku tidak mungkin
mengambilnya dari kalian."
Demikianlah kaum muhajirin tinggal di negeri yang damai,
yaitu Habasyah negeri yang dipimpin oleh seorang laki-laki yang diberi
kematangan berpikir di mana ia cenderung mengimani karakter al-Masih sebagai
seorang manusia. Dan salah satu keajaiban kekuasaan Ilahi adalah bahwa
masyarakat Islam yang berhijrah tersebut tidak mengalami kelemahan dalam
akidahnya, namun mereka justru merasakan kekuatan.
Allah SWT memperkuat dakwah Islam dengan masuknya dua lelaki
besar dalam Islam, yaitu Hamzah, paman Nabi dan Umar bin Khatab. Kedua orang
itu mempunyai kepribadian yang tangguh di Mekah di mana masing-masing dari
mereka terkenal di tengah-tengah kaumnya. Allah SWT berkehendak untuk memberi
Islam dua orang lelaki yang tangguh di Mekah dan Allah SWT telah meletakkan
rahmat yang terpancar dalam hati mereka. Hamzah masuk Islam karena dorongan
emosi, fanatisme, dan rahmat terhadaporang-orang yang tidak memberikan
pembelaan kepada Muhammad saw.
Salah seorang perempuan berkata kepada Hamzah: "Seandainya
engkau melihat apa yang diperoleh oleh anak dari saudaramu, Muhammad dari Abil
Hakam bin Hisyam (Abu Jahal). Sungguh Abu Jahal telah mencelanya dan
menyakitinya, sedangkan Muhammad hanya terdiam dan tidak mengatakan
apa-apa." Mendengar pengaduan itu, darah mendidih berkobar dalam urat-urat
Hamzah. Dengan kemarahan yang sangat, Hamzah mencari-cari Abu Jahal lalu ia
melihatnya sedang duduk-duduk di tengah-tengah kaumnya. Hamzah mengangkat
tangannya lalu memukulkannya ke kepala Abu Jahal sambil berteriak: "Apakah
engkau akan mengejek Muhammad, padahal aku berada di atas agamanya."
Demikianlah permulaan keislaman Hamzah. Hamzah adalah
seorang yang mulia di mana perasaannya berkobar ketika ia melihat anak
saudaranya disiksa dan dianiaya dan dia tidak mendapati seorang pun yang
membelanya. Beginilah sebab-sebab pertama dari keislaman Hamzah, namun sebab
yang paling dalam dan yang paling menentukan adalah rahmat Allah SWT yang telah
dianugerahkan kepadanya, meskipun Hamzah tidak mengetahuinya, yaitu rahmat yang
mendorongnya untuk tidak membiarkan seseorang pun menyakiti lelaki yang
berdakwah di jalan Allah SWT hanya karena ia seorang yang lemah dan tidak
mempunyai penolong. Jadi, Hamzah adalah penolongnya.
Sedangkan Umar bin Khatab terkenal dengan ketangguhan sikap
dan kekerasan perilaku. Seringkali kaum Muslim mendapat siksaan darinya ketika
ia masih menganut jahiliah. Dan salah seorang yang mendapatkan siksaan ciarinya
adalah Amir bin Rabi'ah dan isterinya. Amir beserta istcrinya menetapkan untuk
berhijrah ke Habasyah. Umar bin Khatab menemuinya lalu ia mendapati isteri Amir
dan tidak mencmukan suaminya. Umar melihat wanita itu sedang bersiap-siap untuk
berhijrah lalu Umar berkata (saat itu sumber rahmat telah memancar pada
dirinya): "Apakah engkau akan pergi wahai Ummu Abdillah?" Dengan nada
jengkel, wanita itu berkata: "Benar, demi Allah kami akan keluar dan
menuju tanah Allah SWT. Engkau telah menyiksa kami dan telah memaksa kami untuk
berhijrah. Kami akan pergi sehingga Allah SWT akan memberikan kelapangan kepada
kami." Umar berkata: "Mudah-mudahan Allah SWTmenemanimu."
Wanita itu melihat tanda-tanda kelembutan dan kesedihan pada
wajah Umar. Dan ketika suaminya kembali, ia menceritakan kepadanya bahwa ia
sangat berharap kepada keislaman Umar. Lalu suaminya menjawab: "Ia tidak
mungkin masuk Islam sampai keledai Umar masuk Islam." Ia mengatkan
demikian karena ia melihat betapa bengisnya dan kejamnya Umar. Namun perasaan
lembut wanita itu lebih kuat daripada pandangan pikiran lelaki itu dan
keputusannya yang terlalu cepat kepada Umar.
Belum lama mereka berhijrah sehingga Umar masuk Islam.
Orang-orang muhajirin mengeluarkan penutup sumur rahmat dalam dirinya. Dan
barangkali Umar merasa kebingungan lalu ia menetapkan untuk membunuh Rasul saw.
Dengan menghunuskan pedangnya, ia pergi menuju Rasul saw. Kemudian ia bertemu
dengan orang-orang yang memergokinya dalam keadaan kebingungan, lalu mereka
bertanya kepadanya, hendak kemana ia akan pergi? Umar menjawab: "Aku
hendak ke Muhammad aku akan membunuhnya sehingga orang-orang Arab merasa
tenteram." Dengan nada mengejek, seseorang berkata: "Tidakkah engkau
memulai dari keluargamu sebelum engkau membunuh Muhammad." Dengan nada
jengkel, Umar berkata: "Apa yang terjadi pada keluargaku?" Lelaki itu
menjawab: "Saudara perempuanmu dan suaminya telah masuk Islam, sedangkan
engkau tidak mengetahuinya." Umar segera mencari saudara perempuannya dan
suaminya di mana saat itu keduanya sedang membaca Al-Qur'an.
Ketika melihat Umar, mereka menyembunyikan Al-Qur'an. Umar
bertanya: "Sepertinya aku mendengar suara bisikan dari luar." Tetapi
saudara perempuannya mengatakan: "Tidak." Kemudian suaminya ikut
campur dan Umar pun tampak marah kepadanya. Wanita itu bangkit untuk membela
suaminya lalu Umar memukulnya sehingga darah segar mengucur darinya. Darah itu
justru membangkitkan sumber rahmat dari diri Umar. Akhirnya, Umar mengambil air
wudhu agar mereka mengizinkan untuk membaca Al-Qur'an. Umar pun membacanya.
Belum lama Umar membacanya sehingga ia pergi menemui Rasul saw.
Tanpa ragu, Umar memilih untuk masuk Islam. Dan pedang yang
dibawanya itu menjadi pedang yang paling kuat yang dengannya ia mempertahankan
agama Muhammad saw. Kemudian ia mengetuk pintu untuk menemui Rasul saw di mana
saat itu beliau bersama sahabatnya. Dari celah-celah pintu, sahabat Nabi
melihat Umar bin Khatab sedang menghunuskan pedang. Kemudian sahabat itu
kembali kepada Nabi dengan membawa berita yang sangat mengejutkan ini. Ia
menduga bahwa Umar datang dengan maksud jahat.
Rasulullah saw bangkit dan memerintahkan para sahabatnya
agar membiarkan Umar. Rasulullah saw membukakan pintu Kemudian ia menyambut
Umar bin Khatab dan bertanya kepadanya apa yang diinginkannya. Umar menjawab
bahwa ia datang untuk mengucapkan dan bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah
dan Muhammad adalah utusan-Nya.
Orang-orang Quraisy mulai merasa bahaya akan mereka temui
setelah keislaman Umar dan Hamzah. Para tokoh-tokoh Mekah dan orang-orang yang
dihormati telah masuk Islam. Sebelum Umar masuk Islam, kaum Muslim bertawaf di
Ka'bah secara rahasia dan dengan malu-malu, namun ketika Umar masuk Islam ia
menampakkan keislamannya dan ia menantang orang yang mencegahnya untuk
bertawaf, bahkan banyak orang-orang memberikan jalan padanya saat tawaf. Mekah
mengetahui bahwa ia menghadapi suatu dakwah yang akan dapat mengubah jazirah
Arab.
Rasa ketakutan mulai menghantui para pemuka Quraisy dan
mereka menetapkan metode baru untuk menghadapi kaum Muslim. Mereka yang
sebelumnya menggunakan metode penghinaan dan pengejekan kini mulai mencoba
untuk memblokade kaum Muslim secara ekonomi dan kemanusiaan. Kaum musyrik
mengadakan perkumpulan dan pertemuan untuk memboikot kaum Muslim. Mereka
mengadakan pertemuan itu di Ka'bah, sebagai penghormatan kepadanya. Orang-orang
musyrik menghormati Ka'bah meskipun mereka memenuhinya dengan berbagai macam
patung yang mereka sembah dalam rangka mendekatkan mereka kepada Allah. Pasal
kesepakatan itu menetapkan, hendaklah penduduk Mekah tidak menjual barang
apapun kepada kaum Muslim dan hendaklah mereka tidak menikah dengan kaum Muslim.
Dengan ketetapan yang kejam tersebut, mereka ingin menghancurkan kaum Muslim
dan membunuh perekonomian mereka. Rasulullah saw dan orang-orang yang beriman
kepadanya terpaksa berlindung di dusun Bani Hasyim. Mereka dilindungi oleh
keturunan Bani Muthalib, baik mereka orang-orang kafir maupun orang-orang
beriman kecuali musuh Allah SWT, Abu Jahal di rnana ia bersama orang-orang
Quraisy menentang kaummnya.
Kemudian Dimulailah blokade ekonomi terhadap kaum Muslim di
mana tidak ada makanan dan minuman yang datang kepada mereka, sehingga
penderitaan yang sulit kini dialami oleh sahabat-sahabat Nabi. Ketika kafllah
perdagangan datang ke Mekah dan salah seorang dari sahabat Nabi menemui mereka
di pasar untuk membeli makanan untuk keluarganya, maka Abu Lahab berdiri dan
berkata kepada para penjual, wahai para pedagang, mahalkanlah dagangan kalian
terhadap sahabat-sahabat Muhammad, sehingga mereka tidak mampu membelinya dan
aku menjamin kerugian yang kalian alami, bahkan aku akan membeli apa saja yang
ingin mereka beli dari kalian.
Mendengar hal tersebut, para pedagang pun menjual barang
dagangannya dengan harga yang tidak wajar, sehingga seorang Muslim kembali ke
rumah keluarganya tanpa membawa sedikit pun makanan. Kemudian padagang itu
pergi ke Abu Lahab dan memin-ta kepadanya agar membeli barang yang ingin dibeli
orang Muslim. Demikianlah peperangan tersebut terus terjadi sehingga kaum
Muslim merasakan penderitaan yang sangat luar biasa di mana mereka dalam
keadaan kelaparan dan kekurangan pakaian yang layak. Peperangan ekonomi ini
terjadi selama tiga tahun penuh. Saking menderitanya para sahabat sampai-sampai
Sa'ad bin Abi Waqas pernah keluar pada suatu hari untuk memenuhi hajatnya, lalu
ia mendengar suara gemerincing di bawah air kencing. Tiba-tiba ia menemukan sepotong
kulit unta yang kering lalu ia mengambilnya dan membasuhnya. Kemudian ia
membakarnya dan mencucinya dengan air sampai bersih lalu ia menjadikannya
makanan selama tiga hari.
Selama tiga tahun tersebut wahyu tetap turun kepada Rasul
saw dan seakan-akan ia melupakan bencana yang keras ini. Allah SWT ingin
mendidik para pengikut agama-Nya agar mereka mampu memikul segala penderitaan.
Meskipun kaum Muslim mendapatkan berbagai ujian selama tiga
tahun tersebut, tetapi aktifitas dakwah Islam tidak pernah padam dan tidak
pernah surut. Kaum Muslim bertemu orang-orang selain mereka pada musim haji
lalu mereka berbicara kepada orang-orang tersebut tentang keberadaan Allah SWT
dan mereka meminta kepada para pengujung itu untuk mencari rahmat Allah SWT dan
ampunan-Nya. Keteguhan kaum Muslim dan keberanian mereka telah memikat banyak
orang sehingga mereka masuk Islam. Bahkan orang-orang musyrik mulai bertanya
kepada diri mereka dan mempertanyakan kebenaran apa tindakan mereka. Lalu
kecemburuan kepada kebenaran mulai menyerang hati.
Kemudian Selesailah peperangan ekonomi terhadap kaum Muslim
di mana kaum musyrik melihat itu tidak berdampak terlalu besar bagi kaum
Muslim. Meskipun kaum Muslim menerima penderitaan dan kerugian namun jumlah
mereka tetap bertambah dan keimanan mereka semakin kuat serta kepercaayaan
kepada Allah SWT pun semakin meningkat. Lalu datanglah tahun kesedihan kepada
Nabi. Belum lama Rasulullah saw merasakan dan menghirup udara segar setelah
tiga tahun masa blokade dan beliau ingin memulai kehidupan barunya dan
dakwahnya, sehingga beliau dikagetkan dengan kematian isteri tercintanya Ummul
Mukminin Khadijah dan kematian pamannya yang tercita Abu Thalib.
Abu Thalib adalah seorang yang besar yang memiliki
kewibawaan di tengah-tengah kaum Quraisy, sehingga usaha kaum Quraisy untuk
menyakiti Nabi menjadi terbatas ketika mereka berhadapan dengan "tembok
perlindungan" Abu Thalib kepada kemenakannya. Sedangkan Khadijah merupakan
tempat perlindungan dan kedamaian bagi Nabi. Ia adalah hati yang sangat
penyayang yang banyak menghibur Nabi saat beliau berdakwah. Khadiijah adalah
sebaik-baik teman dan sebaik-baik isteri. Begitu juga, bagi Khadijah Rasulullah
saw adalah sebaik-baik teman, sebaik-baik suami, sebaik-baik pembantu, dan
sebaik-baik sahabat.
Rasulullah saw sangat sedih ketika kehilangan dua orang yang
sangat berpengaruh dalam kehidupannya itu, bahkan para sejarawan menamakan
tahun tersebut dengan tahun kesedihan. Sebaliknya, orangorang musyrik justru
bergembira dengan kesedihan Rasul saw itu. Mereka menganggap bahwa Rasul saw
tidak lagi memiliki seorang tua yang mampu melindunginya dan tidak lagi
memiliki seorang isteri yang dapat meringankan beban penderitaannya.
Setelah kematian dua orang tcrscbut, penindasan dan
penganiayaan kaum Quraisy kepada Nabi semakin meningkat dan orang-orang musyrik
memilih waktu yang tepat untuk menyembelih binatang di Mekah lalu mereka
membawa usus-usus atau jeroan dari unta dan mereka melemparkannya dan
meletakkannya di atas punggung Nabi saat beliau sujud. Kemudian berita memilukan
itu sampai kepada putri tercintanya, Fatimah az-Zahrah, sehingga ia segera
datang dan berusaha membela ayahnya dan membersihkan kotoran yang ada di pundak
ayahnya itu. Demikianlah kemuliaan Siti Fatimah az-Zahra yang senantiasa
melindungi ayahnya.
Betapa sedihnya Nabi saw ketika beliau melihat bahwa keadaan
beliau sampai pada batas di mana anak perempuan beliau pun turut membelanya.
Namun beliau tetap bersabar dalam berdakwah di jalan Allah SWT. Pada suatu hari
beliau berpikir untuk pergi ke Tha'if di mana di sana dihuni oleh kaum Tha'if.
Barangkali beliau berkata dalam dirinya: jika di sini aku mendapati hati-hati
yang telah membeku dan telah berhubungan mesra dengan kebatilan ialu mengapa
aku tidak pergi ke Tsaqif. Barangkali Allah SWT akan membukakan pintu dakwah di
sana. Mungkin di sana masih terdapat hati yang akan terbuka guna menerima
kebenaran.
Saat itu kaum musyrik memberlakukan blokade umum atas dakwah
yang dipimpin oleh Rasulullah saw sehingga tekanan kepada beliau semakin
meningkat sampai pada batas di mana pergerakan dakwah tidak dapat bergerak satu
langkah pun. Keadaan demikian ini sangat menggelisahkan Nabi. Beliau ingin
untuk melepaskan belenggu yang mengikatnya. Lalu beliau memutuskan untuk pergi
ke Tha'if. Jarak antara Mekah dan Tha'if lebih dari tujuh puluh kilo meter.
Nabi menempuh perjalanan itu dengan jalan kaki, pergi dan pulang.
Kita tidak mengetahui pemikiran-pemikiran apa yang terlintas
dalam benak Rasulullah saw saat beliau pergi dan menemui kabilah yang kafir
kepada Allah SWT ini. Yang kita ketahui adalah bahwa beliau pergi ke sana
dengan membawa rahmat dunia dan akhirat. Tetapi mereka justru membalas sikap
baik Rasulullah saw itu dengan tindakan jahiliyah. Mereka bersikap buruk kepada
beliau dan mendustakannya. Rasulullah saw tinggal di sana selama sepuluh hari.
Beliau mondar-mandir dari satu rumah ke rumah yang lain dan dari pasar ke pasar
yang lain dan dari satu jalan ke jalan yang lain. Tak seorang pun yang
mendengar kedatangan beliau di sana; tak seorang pun yang mau mendengar dakwah
beliau dan tak seorang pun yang mau beriman kepada ajakannya. Bahkan masyarakat
di situ semakin menjadijadi dalam menyerang Rasulullah saw dan mengejeknya.
Pada hari yang terakhir yang mana beliau telah menetapkan
untuk kembali ke Mekah. Rasulullah saw berdiri di Tha'if dan mengharap kepada
masyarakat di sana agar merahasiakan kunjungannya kepada mereka sehingga
pencelaan yang beliau terima di Mekah terhadap agama yang dibawanya tidak
semakin menjadi-jadi. Tetapi penduduk Tha'if menolak permohonan yang terakhir
ini. Mereka tidak cukup melakukan hal itu tetapi mereka melakukan perbuatan
terburuk yang dilakukan manusia terhadap sesama manusia. Mereka menahan
keluarga orang-orang yang bodoh dan orang-orang biasa untuk membentuk dua
barisan dan memerintahkan mereka untuk melempari Rasulullah saw dengan batu dan
mengejeknya. Nabi keluar dari Tha'if dan beliau mendapatkan lemparan
bertubi-tubi dari keluarga Tha'if bahkan beliau merasakan kepedihan saat
kakinya terkena lemparan batu itu sehingga darah suci mengucur dari kaki
beliau.
Kemudian Rasulullah saw diusir sehingga beliau sampai di
suatu kebun yang dimiliki oleh dua orang dari orang-orang kaya Tha'if. Di sana
beliau duduk di bawah naungan pohon anggur. Dua orang pemilik kebun itu merasa
kasihan melihat keadaan orang yang terusir dan terluka itu. Mereka membawa
kepadanya setangkai anggur dengan seorang pembantu. Pembantu mereka adalah
seorang Nasrani yang bernama Adas. Si pembantu meletakkan setangkai anggur itu
depan Rasul saw lalu beliau mengulurkan tangannya kepadanya sambil berkata:
"Bismillahirahmanirrahim (Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang). Adas berkata kepada Nabi, perkataan ini tidak begitu dikenal oleh
penduduk negeri ini. Nabi berkata: "Anda dari daerah mana?" Adas menjawab:
"Aku adalah seorang Nasrani dari Nainawa." Nabi berkata: "Apakah
engkau dari desa lelaki saleh Yunus bin Mata?" "Bagaimana engkau tahu
tentang Yunus?, sambung lelaki itu. Nabi berkata: "Itu adalah saudaraku.
Ia adalah seorang Nabi aku pun seorang Nabi."
Mendengar jawaban Rasul saw, Adas segera merobohkan tubuhnya
di depan kedua kaki Rasul saw lalu ia menciuminya sambil menangis. Akhirnya,
pembantu Nasrani itu masuk Islam sehingga ia menambah barisan kaum Muslim. Ia
adalah seorang yang menjadi Muslim ketika Rasulullah saw berhijrah ke Tha'if.
Inilah harga yang harus dibayar Rasulullah saw sclania dua minggu saat beliau
berada di Tha'if, dan kemudian bcliau terkena cobaan dengan mengucurnya darah
dari kaki beliau akibat lemparan batu penghuni Tha'if.
Kemudian Rasulullah saw kcmbali ke Mekah beliau kembali
dalam keadaan ditolak oleh pcnduduk Tha'if dan kini beliau kembali menerima
penolakan itu di Mekah. Meskipun demikian, beliau merasakan kesedihan yang
mendalam melihat sikap kaumnya. Namun ketika kebencian semakin deras mengalir
kepada beliau, hati beliau justru semakin bersemangat dan semakin dipenuhi
dengan rahmat kemudian datanglah kepada Nabi masa di mana tampak di dalamnya
Islam asing, dan tampak di dalamnya Nabi seorang diri, tanpa penolong.
Pada saat demikian ini ketika manusia mulai meninggalkan
Rasulullah saw lalu langit turut campur dan terjadilah peristiwa besar dan
mukjizat terbesar pada diri Nabi, yaitu Isra' dan Mi'raj. Ia adalah mukjizat
yang tidak berhubungan dengan dakwah Islam; ia tidak datang untuk memperkuat
dakwah ini atau menetapkannya tetapi ia datang semata-mata untuk memperkuat
keteguhan Nabi dan sebagai penghormatan kepadanya. Seakan-akan Allah SWT ingin
berkata kepada Nabi, jika saja penduduk bumi tidak memujimu, maka penduduk langit
mengenal kedudukanmu dan memberikan pujian yang layak kepadamu dan jika manusia
menolak dakwahmu dan menolak keberadaanmu, maka sesungguhnya Allah SWT
memilihmu dan memuliakanmu.
Untuk melihat tanda-tanda kebesaran-Nya, munculnya mukjizat
Isra' dan Mi'raj dalam sejarah para nabi sebagai mukjizat satu-satunya yang
tiada tandingannya dibandingkan dengan kisah nabi yang lain. Kita mengetahui
bahwa di deretan para nabi ada nabi-nabi yang dinamakan oleh Allah SWT sebagai
para kekasih-Nya dan sebagai para pendamping-Nya, seperti Nabi Ibrahim. Kita
juga melihat bahwa di antara para nabi ada seseorang yang diajak bicara oleh
Allah SWT tanpa perantara, seperti Nabi Musa. Kita juga melihat di antara para
nabi ada yang didukung oleh Allah SWT dengan ruhul kudus, seperti Nabi Isa.
Tetapi untuk pertama kalinya kita berada di hadapan seorang nabi yang diajak
dan dipanggil oleh Allah SWT untuk menuju ke sisi-Nya.
Beliau naik bersama Jibril dengan jasadnya dan ruhaninya
sehingga Jibril berdiri di suatu tempat dan Nabi maju sendirian. Itu adalah
tingkat dari tingkat kehormatan di mana pena terasa keluh untuk
mengungkapkannya dan sejarawan tidak dapat menulis apa yang terjadi saat itu.
Kita telah melihat dalam kisah para nabi seorang nabi yang meminta kepada
Tuhannya agar memperlihatkan kepadanya bagaimana Dia menghidupkan orang-orang
yang mati. Allah SWT bertanya kepadanya, apakah ia belum beriman akan hal itu?
Ibrahim menjawab: Bahwa ia beriman tetapi ia ingin menenangkan hatinya.
Kita juga melihat dalam kisah para nabi seorang nabi yang
cintanya kepada Allah SWT memancar dalam kalbunya sehingga ia meminta:
"Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar
aku dapat melihat kepada Engkau". (QS. al-A'raf: 143) Namun Allah SWT
menjawab kepada Musa tentang kemustahilan melihat Allah SWT atas manusia. Nabi
Musa memahami bahwa makhluk manapun tidak akan mampu menahan beban penampakan
dari Zat sang Pencipta.
Adapun Muhammad bin Abdillah ia tidak bertanya kepada
Tuhannya dan meminta kepadanya untuk diberi mukjizat atau kejadian yang luar
biasa; ia tidak meminta kepada Tuhannya agar dapat melihat Zat-Nya dan ia tidak
berusaha mencari ketenangan dalam hatinya. Cintanya kepada Allah SWT termasuk
bentuk cinta yang sulit untuk dipahami atau diselami kedalamannya oleh para
tokoh pecinta dan cintanya tersebut bukan termasuk bentuk yang menimbulkan
berbagai pertanyaan. Cinta beliau melampaui tingkat permintaan menuju ketingkat
penyerahan dan kepuasan atau ridha. Segala sesuatu yang menggelisahkan Nabi
adalah ridha Allah SWT.
Rasulullah saw berkata saat beliau dalam keadaan ditolak dan
diusir dan terluka akibat perbuatan kaum Tha'if: "Jika Engkau tidak murka
kepadaku, maka aku tidak peduli dengan mereka." Lihatlah tingkat cinta
yang tinggi itu: bagaimana tingkat tersebut menyebabkan beliau merasa rendah
diri sehingga beliau berkata, "jika Engkau tidak murka kepadaku ..."
Seakan-akan beliau tidak menginginkan selain ridha Allah SWT dan yang beliau
khawatirkan adalah kemarahan Allah SWT.
Sungguh adab yang diterapkan Rasulullah saw kepada Tuhannya
adalah adab yang paling layak dan paling tinggi yang sesuai dengan kedudukan
beliau sebagai orang Muslim yang paling sempurna. Demikianlah mukjizat Isra'
dan Mi'raj. Mukjizatyang tujuannya adalah menghormati kepribadian Rasulullah
saw; mukjizat yang membangkitkan peranan akal dan hati secara bersama. Para
nabi tanpa terkecuali didukung oleh bcrbagai macam mukjizat yang terjadi di
muka bumi bahkan para nabi yang diangkat ke langit seperti Nabi Idris dan Nabi
Isa, maka pengangkatan mereka sebagai bentuk menyelamatkan mereka dari usaha
pembunuhan atau penyaliban. Mukjizat mereka saat mereka diangkat ke langit
adalah bentuk akhir dari aktifitas mereka di muka bumi.
Ini adalah kali pertama ketika kita mendapati suatu mukjizat
yang tempat utamanya di langit; suatu mukjizat yang terwujud bersama seorang
Nabi yang diangkat ke langit dengan jasadnya dan ruhaninya saat beliau masih
hidup. Di sana Allah SWT memperlihatkan kepadanya tanda-tanda kekuasaan-Nya.
Kemudian beliau kembali ke bumi di mana beliau akan mendapatkan berbagai macam
tantangan dan cobaan yang biasa diterima oleh penduduk bumi. Muhammad bin
Abdillah adalah manusia yang pertama melewati planet bumi dan beliau menembus
bulan dan matahari dan bintang-bintang. Kita menyaksikan di zaman kita manusia
pertama atau astronot pertama yang mampu menembus ruang angkasa. Ruang angkasa
itu baru dapat ditembus oleh manusia setelah empat belas abad dari turunnya
risalah Muhammad saw, namun sejak empat belas abad yang lalu Nabi Islam telah
dapat menembus ruang angkasa itu, bahkan beliau mencapai Sidratul Muntaha dan
puncak al-Muntaha.
Beliau sampai pada batas yang di situlah alam makhluk
diakhiri dan beliau menembus alam gaib. Bukankah surga bagian dari alam gaib?
Beliau sampai di surga. Allah SWT menamakannya dengan Jannatul Ma'wah. Beliau
sampai pada batas terputusnya ilmu manusia dan tiada yang mengetahui hakikat
ilmu tersebut kecuali Allah SWT. Mukjizat Isra' bukanlah mukjizat Mi'raj,
meskipun kedua-duanya terjadi di satu malam. Peristiwa Isra' dan Mi'raj dikutip
oleh dua surah yang berbeda dalam Al-Qur'an al-Karim. Allah SWT berfirman
tentang mukjizat Isra':
"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya
pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi
sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda
(kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui." (QS. al-Isra': 1)
Sedangkan berkaitan dengan mukjizat Mi'raj, Allah SWT
berfirman: "Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam
rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di
dekatnya ada surga tempat tinggal. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil
Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak
berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauiya. Sesungguhnya
dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling
besar." (QS. an-Najm: 13-18)
Pada malam Isra' dan Mi'raj, Nabi Muhammad berkeliling di
sekitar Ka'bah dan berdoa kepada Allah SWT. Beliau dalam keadaan pucat wajahnya
dan kedua air matanya mengucur; beliau tidak bertawaf bersama seseorang pun;
beliau tawaf sendirian lalu orang-orang kafir dan orang-orang musyrik memandang
beliau dengan pandangan kebencian saat beliau bertawaf dan berdoa. Allah SWT
melihat hamba-Nya yang khusuk itu lalu Allah SWT menurunkan perintah-Nya kepada
Ruhul Amin yaitu malaikat Jibril agar menemani hamba-Nya dari Masjidil Haram
menuju Masjidil Aqsha Kemudian membawanya naik ke langit agar dia dapat melihat
tanda-tanda kebesaran Tuhannya.
Di suatu rumah yang mulia dan sederhana dari rumah-rumah
yang ada di Mekah, Nabi saw sedang tidur dan datanglah waktu pertengahan malam.
Jibril turun dan memasuki rumah sang Rasul saw. Jibril as berdiri di sisi kepala
sang Nabi dan ia melihat kepadanya dengan pandangan cinta. Pandangan Jibril itu
membangunkan Rasul saw kemudian beliau membuka kedua matanya dan bangkit dari
tempat tidurnya.
Jibril berkata kepada Nabi saw, salam kepadamu wahai Nabi
yang mulia. Allah SWT ingin agar engkau melihat sebagian tanda-tanda
kebesaran-Nya di alam. Kemudian Jibril berjalan bersama Nabi saw. Mereka keluar
dari rumah dan beliau menyaksikan Buraq yaitu makhluk yang menyerupai burung
dan mempunyai sayap seperti burung garuda; makhluk yang terbuat dari kilat.
Karena itu, ia dinamakan dengan Buraq. Kilat adalah listrik dan listrik adalah
cahaya. Cahaya adalah makhluk yang tercepat yang kita kenal di bumi. Kilauan
cahaya pada satu detik saja mencapai 186 ribu mil. Kita tidak akan terlibat
terlalu jauh tentang kendaraan luar angkasa yang digunakan dalam perjalanan
itu; kita tidak akan bertanya bagaimana Nabi saw menembus alam ruang angkasa
tanpa ada latihan sebelumnya dan berapa lama waktu yang beliau gunakan untuk
pulang pergi; kami juga tidak akan bertanya tentang kecepatan Buraq; kami tidak
heran dengan usaha penembusan luar angkasa ini; kita tidak akan bertanya
tentang semua itu karena kita mempunyai satu jawaban dari semuanya: Allah SWT
berkehendak agar hal itu terjadi dan untuk itu Allah SWT mengatakan kun
jadilah, maka jadilah.
Para ulama beselisih pendapat tentang apakah Isra' dan
Mi'raj terjadi dengan ruh saja atau dengan ruhani dan jasad sekaligus. Ahli
hakikat mengatakan bahwa itu terjadi dengan ruh dan jasad. Tentu perselisihan itu
berakibat pada perselisihan akal dan terjerumus dalam perangkap kaifa
(bagaimana) dan bertanya tentang kekuasaan Allah SWT dan usaha untuk
menundukkan masalah ini terhadap sebab-sebab yang biasa atau hukum-hukum kita
yang alami atau logika kemanusiaan. Allah Maha Suci dan Maha Tinggi dari semua
itu. Apakah seseorang akan bertanya, bagaimana Rasulullah saw naik berserta ruh
dan fisiknya ke puncak segala puncak di langit kemudian beliau kembali sebelum
tempat tidurnya dingin? Mukjizat apa yang terjadi di sini yang melebihi
mukjizat berubahnya air mani menjadi manusia dan berubahnya benih menjadi pohon
atau mukjizat air yang menghidupkan tanah, atau ia mampu memuaskan kehausan si
dahaga atau mukjizat cinta yang mengikat dua hati yang belum pernah mengenal?
Sementara itu, Buraq menundukkan badannya kepada Nabi saw
kemudian Nabi saw menungganginya bersama Jibril dan Buraq pergi bagaikan anak
panah dari cahaya di atas gunung Mekah dan pasir-pasir menuju ke utara. Jibril
mengisyaratkan agar menuju arah gunung Saina' lalu Buraq itu berhenti. Jibril
berkata di tempat yang diberkati ini, Allah SWT berdialog dengan Musa as.
Kemudian Buraq kembali pergi ke Baitul Maqdis, Nabi saw turun dari pesawat ini
yang berjalan lebih cepat dari cahaya dan jutaan kali lebih cepat darinya dan
ia tidak berubah dari cahaya.
Nabi berjalan bersama Jibril dan memasuki Baitul Maqdis.
Beliau memasuki masjid dan beliau mendapati semua nabi sedang menunggunya di
sana. Allah SWT membangkitkan gambar para nabi-Nya dari kematian dan
mengumpulkan mereka di Mesjid Aqsha. Para malaikat memberinya suatu bejana yang
di dalamnya terdapat susu dan bejana yang lain yang di dalamnya terdapat
khamer. Lalu beliau memilih susu dan meminumnya. Dikatakan pada beliau,
sesungguhnya engkau telah memilih fltrah dan umatmu akan memilih fitrah. Para
nabi mengitari Rasul saw dan datanglah waktu salat. Para nabi bertanya di
antara sesama mereka, siapa di antara mereka yang menjadi imam salat, apakah
itu Adam, Nuh, Ibrahim, Musa atau Isa? Jibril berkata kepada Muhammad saw,
sesungguhnya Allah SWT memerintahkanmu untuk salat bersama para nabi.
Rasulullah saw berdiri dan salat bersama para nabi. Mereka semua adalah
orang-orang Muslim dan beliau adalah orang-orang Muslim yang pertama. Secara
logis bahwa beliau layak menjadi imam dari para nabi sebagaimana kitabnya
dijadikan kitab yang terbaik daripada kitab-kitab yang mendahuluinya. Beliau
membacakan Al-Qur'an kepada mereka dan beliau menangis saat membacanya.
Kekhusukan beliau saat membacanya membuat para nabi pun menangis. Dan ketika
para nabi sujud di belakang imam mereka, pohon-pohon dan bintang-bintang pun
turut bersujud.
Selesailah waktu salat dan para nabi membubarkan diri.
Setiap nabi kembali ke langit yang mereka tinggal di dalamnya. Nabi keluar dari
masjid bersama Jibril dan mereka kembali menunggang Buraq seperti panah dari
cahaya. Buraq semakin meninggi dan ia melewati langit pertama lalu beliau
menyaksikan Nabi Adam. Kemudian ada panggilan dari Allah SWT: "Hendaklah
hamba-Ku semakin meninggi dan menjauh." Kemudian hamba Allah SWT Muhammad
bin Abdillah semakin terbang menjauh ia melampaui langit demi langit. Beliau
melampaui tempat materi dan mulai menjangkau tempat ruhani dan melewatinya.
Beliau bersiap berdiri di haribaan Ilahi; beliau semakin tinggi dan jauh di tingkat
dan dipuncak ruhani dalam kecepatan yang tidak kurang dari kecepatan kilat.
Beliau melampaui kedudukan Nabi Adam di langit pertama dan
melampaui kedudukan Nabi Yahya dan Nabi Isa di langit kedua. Lalu Tuhan pemilik
kemuliaan memanggil, "hendaklah hamba-Ku lebih tinggi lagi." Kemudian
hamba Allah SWT dan Nabi-Nya yang mulia mencapai tingkat yang lebih tinggi
lagi. Beliau melampaui langit yang ketiga, keempat, kelima, keenam, dan
ketujuh. Beliau melampaui alam materi semuanya dan melampaui alam ruhani.
Akhirnya, beliau sampai ke Sidratul Muntaha. Beliau sampai di tempat yang suci
yang Allah SWT menamakannya dengan sebutan Sidratul Muntaha dan di sana Nabi
melihat dan menyaksikan Jannatul Ma'wa. Beliau menyaksikan yang kita tidak
mampu mengetahuinya dan memahaminya bahkan membayangkannya:
"(Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha
diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak
berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidnk (pula) melampauinya." (QS.
an-Najm: 16-17)
Sungguh terjadilah pada tempat itu apa yang terjadi
dengannya. Dengan kebesaran yang misteri ini, Allah SWT memberitahu kita bahwa
terjadilah hal penting di sana meskipun hakikat hal tersebut tersembunyi dari
kita. Sesuatu yang Allah SWT sembunyikan dari kita tersebut disaksikan oleh
Rasul saw. Itu adalah mukjizat yang khusus baginya; itu adalah tingkat cinta
yang tidak tersingkap tabirnya karena ketinggiannya yang tidak mampu ditangkap
oleh pengetahuan manusia biasa.
Kemudian Tuhan pemilik surga dan neraka memanggil,
"hendaklah hamba-Ku lebih tinggi lagi." Hamba Allah SWT Muhammad bin
Abdillah menaik ke tempat yang tinggi. Kali ini beliau melihat Jibril yang
berada di belakangnya lalu beliau mendapatinya dalam keadaan bertasbih kepada
Allah SWT. Jibril tidak berada dalam wujud manusia seperti yang Nabi saksikan
ketika berada di dunia. Jibril as kembali ke dalam wujud malaikatnya. Nabi
melihat Jibril dan ia merupakan tanda kebesaran Allah SWT yang Allah SWT
janjikan untuk diperlihatkan kepadanya:
Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang
dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya." (QS. an-Najm: 17)
Pemandangan itu terjadi dengan hati dan mata serta panca
indera yang dikenal dan yang tidak dikenal. Pemandangan itu benar-benar jelas.
Di sana bukan mimpi, bukan khayalan, dan bukan gambaran. Rasul saw melihat
semua itu dengan jasadnya dan ruhaninya:
"Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang
dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya." (QS. an-Najm: 17) Kemudian
Rasulullah saw menuju ke tempat yang tinggi dan lebih tinggi lagi. Beliau
semakin naik ke tingkat yang makin tinggi sampai beliau berdiri di hadapan
Tuhan Pencipta langit dan bumi dan Penebar kasih sayang di dunia dan di
akhirat. Orang Muslim yang paling sempurna itu bersujud di hadapan Tuhan Sang
Pencipta sambil berkata: "Sungguh penghormatan dan keberkatan serta
shalawat yang baik tertuju hanya kepada Allah SWT." Allah SWT membalasnya:
"Salam kepadamu wahai Nabi dan rahmat Allah SWT serta berkat-Nya juga
tercurah kepadamu." Para malaikat pun ketika mendengar ucapan itu
bertasbih dan mengatakan: "Salam kepada kita dan kepada hamba-hamba Allah
SWT yang saleh."
Ungkapan-ungkapan tersebut merupakan permulaan tahiyat
(penghormatan) yang diucapkan orang-orang Muslim saat mereka melaksanakan salat
pada setiap hari. Salat telah diwajibkan atas kaum Muslim pada kesempatan yang
besar ini. Hal populer di kalangan umumnya kaum Muslim adalah, bahwa Allah SWT
mewajibkan atas Nabi mula-mula lima puluh salat sehari. Kemudian Nabi turun
dari langit lalu beliau menemui Nabi Musa. Selanjutnya Nabi Musa bertanya
kepadanya tentang jumlah salat yang diwajibkan Allah SWT kepada umatnya. Nabi
menceritakan bahwa Allah SWT telah menentukan lima puluh kali salat. Nabi Musa
berkata sungguh umatmu tidak akan kuat untuk melakukan salat itu, maka
kembalilah kepada Tuhanmu dan mohonlah kepadanya agar Dia meringankan bagi
umatmu. Lalu Nabi kembali kepada Tuhan-Nya sehingga Allah SWT meringankan salat
hingga sepuluh kali. Setelah itu, Nabi kembali bertemu dengan Nabi Musa. Lagi-lagi
Nabi Musa memperingatkannya. Kemudian Nabi kembali lagi kepada Allah SWT
sehingga sampai diturunkan salat dari lima puluh kali menjadi lima kali sehari.
Namun salat yang lima kali itu pahalanya sama dengan salat yang lima puluh
kali.
Menurut hemat kami, kisah tersebut tidak memiliki sandaran
dalam kitab-kitab ulama yang benar-benar teliti. Kami kira, kisah itu tersebut
merupakan rekayasa orang-orang Yahudi di mana mereka masuk Islam dan mereka
memenuhi kitab-kitab dengan dongeng-dongeng khurafat dan mereka menisbatkannya
kepada Rasul. Prasangka tersebut didukung oleh pemilihan Musa sebagai seorang
Nabi yang mengusulkan kepada Rasul saw agar meminta keringanan atas umatnya
sehingga terkesan Nabi Musa menjadi seseorang yang lebih mengetahui sesuatu
yang tidak diketahui oleh Nabi Muhammad. Kami sendiri cenderung untuk menolak
kisah tersebut dengan keyakinan bahwa pertemuan Nabi dengan Allah SWT
menimbulkan rasa kebesaran dan kewibawaan yang luar biasa sehingga ketika Nabi
telah pergi, maka sangat berat baginya untuk kembali lagi.
Nabi menyaksikan dan melihat hal-hal yang tidak mampu
diungkap oleh lisan dan tidak mampu ditulis dengan pena. Beliau berada di suatu
keadaan yang tidak dapat dipahami oleh manusia biasa. Al-Qur'an al-Karim
sengaja tidak mcnyebutkan apa saja yang dilihat oleh Nabi karena itu mernpakan
rahasia antara Nabi dan Tuhannya dan mukjizat yang khusus yang diperuntukkan
baginya sebagai bentuk penghormatan kcpadanya. Jadi Al-Qur'an sengaja tidak
menyebutkan itu semua untuk menegaskan bahwa beliau melihat tanda dari
tanda-tanda kebesaran Tuhannya.
Kami tidak mengetahui apa yang dilihat oleh Nabi. Hal yang
dapat kami bayangkan adalah, bahwa Nabi bersujud dengan khusuk di hadapan
Tuhannya dan beliau menangis karena gembira. Kesedihan hatinya telah hilang
selamanya. Setelah Nabi melihat rahasia dan setelah penghormatan yang besar
ini, beliau kembali menemani Buraq dan pergi bersama Jibril untuk kembali ke
bumi. Beliau kembali dan mendapati tempat tidurnya masih dingin. Bagaimana
beliau pergi dan kembali sementara tempat tidumya belum dingin? Berapa lama
waktu yang diperlukannya saat melakukan perjalanan tersebut? Hanya Allah SWT
semata yang mengetahui. Yang kita ketahui adalah, bahwa Rasulullah saw kembali
ke tempat tidurnya setelah Isra' dan Mi'raj dan hatinya dipenuhi dengan
kegembiraan serta dadanya dipenuhi dengan ketenangan dan kepuasan serta
kefanaan dalam cinta kepada Allah SWT.
Kemudian datanglah waktu pagi. Nabi menceritakan perjalanan
dan pengalaman tersebut kepada sahabat-sahabatnya dan orang-orang Musyrik
sehingga berimanlah orang-orang yang beriman padanya dan mendustakan kepadanya
orang-orang yang mendustakannya. Namun beliau tidak peduli dengan semua itu.
Nabi terus melangsungkan perjuangannya dengan penuh kesabaran.
Akhirnya, datanglah suatu masa di mana Nabi saw mengetahui
bahwa dakwah Islam di Mekah telah mengalami penekanan yang luar biasa sehingga
keadaan sangat tidak mendukung bagi kaum Muslim. Rasulullah saw bergerak dengan
dakwahnya. Lalu Allah SWT mewahyukan kepadanya agar ia berhijrah. Kemudian
mulAllah Nabi berhijrah di jalan Allah SWT setelah tiga belas tahun beliau di
Mekah. Islam ingin membangun negaranya dan ingin menghilangkan pengepungan dan
serangan kaum musyrik. Mula-mula terjadilah perubahan sedikit dalam keadaan
kaum Muslim.
Rasulullah saw keluar dalam musim haji untuk menunjukkan
dirinya pada kabilah-kabilah Arab sebagaimana yang beliau lakukan pada setiap
musim. Beliau berada di tempat yang bernama 'Aqabah, lalu beliau bertemu dengan
jamaah dari Khazraj. Rasulullah saw berkata kepada mereka, "siapa
kalian?" Mereka menjawab: "Kami berasal dari kelompok Khazraj."
Beliau berkata. "apakah kalian termasuk pembantu kaum Yahudi?" Mereka
menjawab, "benar." Beliau berkata, "maukah kalian duduk bersama
aku karena aku ingin sedikit berbicara dengan kalian." Mereka menjawab:
"Boleh." Kemudian mereka duduk bersama Nabi lalu beliau mengajak
mereka untuk mengikuti agama Allah SWT.
Rasulullah saw sedikit menceritakan Islam kepada mereka dan
membacakan Al-Qur'an. Enam orang mendengarkan apa yang disampaikan oleh Nabi
saw. Setelah beliau selesai dari pembicaraannya, mereka membenarkannya dan
beriman kepadanya. Kemudian mereka menceritakan kepada Nabi saw bahwa mereka
meninggalkan kaumnya karena kaum mereka terlibat peperangan dan kebencian.
Mudah-mudahan Allah SWT mengumpulkan mereka dengan kedatangan Nabi saw yang
mulia ini. Mereka memberitahu Nabi saw bahwa mereka akan menceritakan kepada
kaumnya apa yang mereka dengar dari Nabi saw dan akan mengajak mereka untuk
memenuhi dakwah Nabi.
Keenam lelaki itu kembali ke kota Madinah yang berubah
namanya menjadi Madinah Munawarah yang sebelumnya ia bernama Yatsrib di zaman
jahiliah. Allah SWT berkehendak untuk meneranginya dengan Islam. Para lelaki
itu kembali ke Madinah dan mereka membawa Islam di hati mereka sehingga banyak
orang yang masuk Islam.
Kemudian datanglah musim haji dan keluarlah dari Madinah dua
belas orang lelaki dari orang-orang yang beriman yang di antara mereka terdapat
enam orang yang Rasulullah saw telah berdakwah kepada mereka pada musim yang
dulu dan Nabi saw menemui mereka di 'Aqabah. Kemudian Nabi melakukan baiat pada
mereka agar mereka mempertahankan keimanan dan membela dakwah kebenaran serta
kemanusiaan.
Kaum lelaki itu kembali ke Madinah disertai salah seorang
yang terpercaya dari tokoh Islam yaitu Mus'ab bin Umair di mana ia menjadi
utusan Rasulullah saw di Madinah dan ia mengajari manusia tentang agama mereka
dan membacakan kepada mereka Al-Qur'an dan menyerukan kebenaran kepada manusia
sehingga tersebarlah Islam di Madinah. Penduduk Madinah mulai bertanya-tanya,
mengapa saudara-saudara kita kaum Muslim Mekah ditindas? Mengapa Rasul saw
keluar untuk berdakwah dan menebarkan rahmat tetapi beliau justru mendapatkan
angin kebencian? Sampai kapan kita akan membiarkan Rasulullah saw teraniaya dan
terusir di Mekah?
Demikianlah, pergilah tujuh puluh orang ke Mekah, tujuh
puluh orang dari penduduk Madinah Munawarah. Mereka pergi ke 'Aqabah dalam
keadaan sendirian dan berkelompok-kelompok. Islam telah menghasilkan buah
pertamanya dalam hati mereka sehingga hati mereka dipenuhi cinta kepada Allah
SWT dan Rasul-Nya serta kaum Muslim. Penderitaan yang dialami kaum Muslim
mempengaruhi jiwa mereka dan mencegah mereka dari mendapatkan kenikmatan tidur
dan nikmatnya memakan dan nikmatnya kehidupan. Orang-orang yang baik itu datang
dan berbaiat kepada Rasul saw untuk membela beliau menolongnya dan
melindunginya serta siap untuk mati di jalannya. Mereka datang setelah hati
mereka diliputi oleh Islam dan mereka memberikan segala sesuatu untuk dakwah
yang baru; mereka datang sebagai pecinta-pecinta kebenaran.
Kitab-kitab hadis yang suci meriwayatkan apa yang terjadi
pada baiat 'Aqabah al-Kubra. Dalam kitab tersebut dikatakan bahwa Abbas Ibnu
Abdul Muthalib datang bersama Nabi dan saat itu ia masih berada dalam agama
kaumnya. Ia ingin menyelesaikan urusan anak pamannya. Ketika ia duduk dan
berbicara, ia mengatakan suatu pernyataan yang mengisyaratkan bahwa Muhammad
saw mendapatkan kemuliaan dari kaumnya dan kekuatan di negerinya tetapi ia
enggan dan memilih untuk bergabung bersama kalian wahai penduduk Madinah. Jika
kalian memenuhi janjinya dan melindunginya, maka ambillah ia, namun jika kalian
khawatir jika suatu saat nanti akan mengkhianatinya, maka mulai dari sekarang
biarkanlah ia di negerinya.
Kata-kata Abbas tersebut berasal dari fanatisme kesukuan dan
ikatan darah keluarga namun penduduk Madinah tidak begitu peduli dengan kalimat
Abbas itu karena ia bukan termasuk dari agama mereka dan ia tidak mengetahui
tingkat cinta kepada Rasul saw yang mereka capai. Abbas bin Abdul Muthalib
menunggu jawaban dari penduduk Madinah. Lalu mereka berkata kepadanya,
"Kami telah mendengar apa yang engkau katakan, maka berbicaralah ya
Rasulullah, ambilah untuk dirimu dan Tuhanmu apa saja yang engkau sukai."
Kita ingin mengamati jawaban sekelompok orang yang mukmin
dari penduduk Madinah ini sehingga Rasulullah saw berbicara. Jawaban yang
dicari oleh Abbas bin Abu Muthalib tersembunyi dalam pernyataan Nabi.
Demikianlah setelah Rasulullah saw mengucapkan kalimatnya, maka tidak keluar
pemyataan apa pun. Cukup hanya Nabi yang berbicara dan mereka hanya menaatinya.
Mereka meminta kepada beliau agar mengambil pada dirinya dan Tuhannya apa saja
yang beliau sukai; mereka merasa tidak memiliki apa-apa dan tidak memiliki keputusan.
Nabi berbicara lalu beliau membaca Al-Qur'an dan mengajak ke jalan Allah SWT.
Kemudian beliau bebicara tentang Islam dan beliau membaiat mereka agar membantu
beliau sehingga mereka pun membaiat kepadanya. Demikianlah terjadinya baiat
'Aqabah al-Kubra.
Orang-orang yang terpilih oleh Allah SWT itu mengetahui
bahwa sebentar lagi mereka akan diajak untuk mengangkat senjata: mereka diajak
untuk mendapatkan kematian di bawah naungan pedang. Mereka menenangkan
Rasulullah saw bahwa beliau akan mendapati orang-orang yang sudah terlatih
dalam peperangan karena mereka mewarisi dari kakek-kakek mereka.
Salah seorang dari tujuh puluh orang itu menyebutkan masalah
yang penting. Abul Haitsyam berkata: "sesungguhnya di antara orang-orang
Madinah dan Yahudi terdapat suatu tali ikatan, maka mereka boleh jadi akan
memutuskannya lalu, apakah sikap yang harus kita ambil jika mereka lakukan hal
itu dan memusuhi orang-orang Yahudi," kemudian Allah SWT menolong Nabi dan
memenangkan atas kaumnya, lalu ia kembali kepada mereka dan meninggalkan mereka
di bawah kasih sayang orang-orang Yahudi.
Perhatikanlah bahwa pertanyaan tersebut berkisar pada
kecintaan kepada Nabi dan keinginan agar Nabi tetap bersama mereka selama
perjalanan hari dan bulan. Masalah yang dituntut oleh Abbas bin Abdul Muthalib
secara jelas adalah masalah perlindungan mereka kepada Nabi, di mana hal
tersebut tidak lagi diperdebatkan oleh orang-orang yang terpilih dari penduduk
Madinah. Namun masalah yang mereka inginkan adalah masalah perlindungan Nabi
dan keberadaan Nabi bersama mereka di Madinah.
Nabi tersenyum dan beliau mengatakan kalimat-kalimat yang
justru menekankan bahwa ikatan akidah lebih kuat daripada ikatan darah. Beliau
berkata: "Tetapi darah adalah darah dan kehancuran adalah kehancuran. Aku
dari kalian dan kalian dariku aku akan memerangi orang-orang yang kalian
perangi dan aku akan berdamai dengan orang-orang yang kalian berdamai dengan
mereka."
Akhirnya, penduduk Madinah pergi dan kembali ke negeri
mereka. Kemudian berita tentang baiat ini sampai ketelinga orang-orang Mekah
dan para tokoh musyrik, lalu mereka justru menambah penekanan kepada Rasulullah
saw dan kaum Muslim.
Para preman Mekah berkumpul di Darul Nadwah. Mereka
menetapkan akan mengambil sesuatu keputusan penting berkaitan dengan Nabi.
Salah seorang dari mereka mengusulkan agar beliau dibelenggu dengan besi lalu
dibuang di penjara sehingga beliau mati kelaparan. Sebagian lagi mengusulkan
agar beliau dibuang dari Mekah dan diusir. Abu Jahal mengusulkan agar mereka
mengambil dari setiap keluarga dari keluarga-keluarga Quraisy seorang pemuda
yang kuat, kemudian setiap dari mereka diberi pedang yang terhunus dan
hendaklah mereka memukulkan pedang itu ke tubuh Nabi. Jika mereka berhasil
membunuhnya niscaya semua kabilah bertanggung jawab terhadap darah sang Nabi
dan Bani Hasyim tidak akan mampu menuntut dan memerangi orang Arab semuanya dan
mereka akan menerima diat sebagai tebusan dari pembunuhan itu. Demikianlah
persekongkolan itu digelar dan mereka sepakat untuk melaksanakan hal itu. Namun
Al-Qur'an al-Karim menyingkap persekongkolan yang dilakukan orang-orang kafir
itu dalam firman-Nya:
"Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir memikirkan
tipu daya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau
mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baih Pembalas
tipu daya." (QS. al-Anfal: 30)
Allah SWT mewahyukan kepada Nabi-Nya agar ia berhijrah. Lalu
Nabi mulai menyiapkan sarana-sarana untuk hijrahnya. Beliau menyembunyikan
urusan tersebut bahkan beliau tidak memberitahu sahabat yang akan menemaninya.
Rasulullah saw menyewa seorang penunjuk jalan yang pengalaman yang mengenal
padang gurun seperti mengenal garis-garis tangannya. Yang mengherankan penunjuk
jalan itu adalah seorang musyrik. Demikianlah Nabi memita bantuan kepada orang
yang ahli tanpa memperhatikan keyakinannya.
Kemudian datanglah malam pelaksanaan kejahatan itu.
Rasulullah saw memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk tidur di tempat tidumya
di malam tersebut. Datanglah pertengahan malam dan Rasulullah saw pun keluar
dari rumahnya. Para pemuda Mekah mengepung rumah. Mereka menghunuskan
pedangnya. Nabi menggenggam tanah lalu beliau melemparkannya ke arah kaum
sehingga mereka pun merasa kantuk sehingga Nabi saw dapat menembus kepungan
mereka. Beliau keluar dari Mekah dan berhijrah.
Dengan langkah yang diberkati ini, kaum Muslim menanggali
tahun-tahun mereka. Tahun dalam Islam adalah tahun Hijiriah, sedangkan kaum
Masehi menanggali tahun mereka dengan kelahiran Isa dan ini disebut dengan
tahun Masehi. Adapun tahun-tahun Islam, maka ia ditanggali pertama kalinya saat
Rasulullah saw keluar berhijrah di jalan Allah SWT. Hijrah Rasul bukan hanya
lari dari penindasan tetapi lari dari kebekuan; hijrah tersebut bukan keluar
dari keamanan tetapi keluar dari bahaya. Islam di Mekah hanya dapat
mempertahankan dirinya tetapi ketika ia keluar ke Madinah ia mempertahankan
dirinya ketika menyerang. Dan selama beberapa tahun masa yang dihabiskan di
Mekah, tak seorang dari kaum Muslim yang mengangkat senjata. Ketika mereka keluar
ke Madinah, mereka mulai membawa senjata dan mulai menyalakan obor peperangan.
Islam mulai membawa senjata sebagaimana luka akan sembuh dengan syarat jika
diobati. Nabi saw mengetahui bahwa Islam tidak akan menghabiskan usianya hanya
untuk melawan serangan pada dirinya; Islam ingin tersebar; Islam ingin
mendirikan negaranya yang pertama yaitu suatu negara yang belum pernah dikenal
di muka bumi negara seperti itu. Negara yang mencapai keadilan, kasih sayang,
dan idealisme yang begitu luar biasa di mana hukum Allah SWT ditegakkan dan
kehormatan manusia benar-benar dijaga.
Inilah kedalaman hijrah yang mengesankan yaitu pendirian
negara Islam setelah sebelumnya membangun individu masyarakat Muslim. Setelah
Rasul saw membangun masyarakat Muslim dan membangun masjid, maka beliau
membangun suatu negara Islam. Selanjutnya, sayap-sayap dakwah mengepak.
Kami kira pembaca tidak akan bertanya, apa gunanya
pembangunan masjid ditingkatkan sementara Islam masih mengalami penindasan di
muka bumi. Kami kira pembaca lebih pintar daripada orang yang tidak mengetahui
bahwa masjid yang dibangun Rasulullah saw di Madinah bukan tempat
peristirahatan dari keletihan, tetapi masjid merupakan pusat dari kepemimpinan
pergerakan Islam dan kepemimpinan menuju peperangan Islam.
Manusia mandi di masjid dengan cahaya Allah SWT setelah itu
mereka mandi di kancah peperangan dengan darah mereka. Pertanyaannya adalah,
siapakah di antara mereka yang akan terbunuh di jalan Allah SWT sebelum
saudaranya? Demikianlah perlombaan dalam perbaikan terjadi di antara mereka.
Dengan cara demikianlah Islam tersebar.
Sementara itu, Nabi berlindung di suatu gua; di gunung yang
bernama Tsur. Beliau masuk ke gua itu bersama sahabatnya Abu Bakar. Dan
orang-orang musyrik pergi menyusul beliau dengan membawa pedang mereka. Lalu
mereka sampai ke gunung itu. Abu Bakar berkata kepada Rasul saw dengan keadaan
gelisah, "seandainya salah seorang mereka melihat di bawah kakinya niscaya
mereka akan melihat kita."
Dengan tenang, Rasulullah saw menepis kegelisahan Abu Bakar
dan berkata: "Wahai Abu Bakar apa yang kamu kira dengan dua orang yang ada
di tempat yang sepi sementara Allah SWT menjadi ketiga di antara mereka?"
Sebelum Rasulullah saw mengakhiri kalimatnya, terdapat laba-laba yang selesai
dari menenun rumahnya di atas pintu gua. Kitab-kitab sejarah mengatakan bahwa
kaum musyrik mengikuti jejak sang Nabi sehingga mereka sampai di gunung Tsur
lalu di situlah mereka mengalami kebingungan. Mereka mendaki gunung dan mendaki
gua itu. Lalu mereka melihat di atas pintu gua itu terdapat tenunan laba-laba.
Mereka mengatakan, seandainya seseorang masuk di dalamnya niscaya tidak akan
terdapat tenunan laba-laba di atas pintunya. Beliau tinggal di gua itu selama
tiga malam.
Demikianlah keimanan tenunan laba-laba yang lembut dimenangkan
atas ketajaman pedang kaum musyrik sehingga Nabi bersama sahabatnya pun
selamat. Kini, kedua orang itu menuju Madinah. Dan Madinah pun menyambut
mereka. Ketika Rasulullah saw dan sahabatnya memasuki Madinah, mula-mula
masyarakat tidak mengenal siapa di antara mereka yang menjadi Rasul karena
saking baiknya sikap Rasul terhadap sahabatnya. Akhirnya, Nabi menerangi kota
Madinah. Beliau membangun masjid dan mendirikan negaranya serta memerangi
musuh-musuhnya dan tersebarlah Islam dan Mekah pun ditaklukkan dan Baitul Haram
disucikan.
Beliau menanamkan dalam akal dan hati suatu cahaya yang
tidak akan pernah padam. Kemudian berlangsunglah sepuluh tahun yang dilewatinya
di Madinah di mana beliau tidak menggunakannya untuk berleha-leha. Demikian
juga selama masa tiga belas tahun yang beliau lalui di Mekah, beliau pun tidak
mendapatkan istirahat yang cukup. Semua kehidupan beliau hanya untuk Allah SWT
dan hanya untuk Islam. Beban berat yang dipikul oleh punggung beliau yang mulia
lebih berat dari beban yang dipikul oleh gunung. Meskipun beliau seorang diri,
tetapi beliau mampu memikul amanat yang pernah Allah SWT tawarkan kepada langit
dan bumi serta gunung namun mereka pun enggan untuk memikulnya. karena mereka
menyadari bahwa mereka tidak akan mampu memikulnya. Lalu datanglah beliau dan
beliau pun mampu memikul amanat itu dan melaksanakannya secara sempurna. Yaitu
amanat untuk menyampaikan agama Allah SWT; amanat untuk menyucikan akal manusia
dari polusi khayalisme dan khurafatisme: amanat yang mewarnai kehidupan dengan
hanya sujud kepada Allah SWT.
Kemudian mengalirlah dalam memori Nabi saw suatu arus dari
gambar-gambar hidup: bagaimana saat beliau memasuki Madinah. Lewatlah di
hadapan akal beberapa memori dan nostalgia: bagaimana wahyu yang turun
kepadanya dengan membawa risalah di gua Hira, kemudian berubahlah pandangan dan
bertiuplah angin kebencian kepadanya, bahkan angin itu membawa pasir-pasir
tuduhan-tuduhan yang dilemparkan ke wajah suci beliau. Beliau berdiri sambil
tersenyum dan hatinya dipenuhi dengan kesedihan di hadapan gelombang gurun dan
kesendirian serta badai kesengsaraan. "Wahai manusia, tiada Tuhan selain
Allah SWT. Demikianlah kalimat yang beliau katakan. Meskipun kalimat itu tampak
sederhana namun ia mampu membangkitkan dunia. Dan bergeraklah patung-patung
yang begitu banyak yang memenuhi kehidupan dan mereka membekali dirinya dengan
kegelapan dan kebencian yang dialamatkan kepada sang Nabi. Para pembesar. para
penguasa, uang, emas, serta kebencian dan kedengkian setan yang klasik dan
banyaknya orang-orang munafik, semua ini menjadi musuh nyata sang Nabi pada
saat beliau mengatakan "tiada Tuhan selain Allah SWT." Nabi mengingat
kembali Waraqah bin Nofel ketika menceritakan kepadanya apa yang terjadi dan
apa yang dialami beliau di gua Hira. Tidakkah ia mengatakan kepadanya bahwa
kaumnya akan mengusirnya?
Hari-hari hijrah sangat panjang dan berat. Matahari sangat
dekat dengan kepala dan rasa panas sangat mencekik tenggorokan dan rasa
pusing-pusing pun semakin meningkat. Setelah hijrah, Nabi memasuki Madinah.
Beliau disambut oleh kaum Anshar dengan sambutan luar biasa. Beliau datang
sendirian lalu mereka menolongnya; beliau datang dalam keadaan takut lalu
mereka mengamankannya; beliau datang dalam keadaan lapar lalu mereka memberinya
makanan; beliau datang dalam keadaan terusir lalu mereka memberikan
perlindungan.
Bangunan Islam mulai ditancapkan di Madinah. Beliau mulai
membangun negaranya setelah beliau membangun sumber daya manusia Islam yang
tangguh. Yang pertama kali dibangunnya adalah sumber daya Islam, setelah itu
beliau baru membangun negara. Tidak ada nilai yang berarti dari satu sistem
yang hanya berdasarkan prinsip-prinsip besar yang tidak lebih dari sekadar
tinta di atas kertas. Penerapan prinsip-prinsip adalah tolok ukur final dari
nilai apa pun yang diberlakukan di dunia. Dan Islam telah berhasil menerapkan
pada masa-masa pertamanya suatu sistem yang belum pernah dikenal dalam
kehidupan manusia suatu sistem seperti itu. Yaitu sitem yang menunjukkan
keadilan, persaudaraan, dan kasih sayang yang mengagumkan. Hal yang pertama
kali dilakukan Rasulullah saw adalah membangun masjid di mana di situlah unta
yang ditungganinya berhenti. Mesjid itu tampak sederhana. Tikarnya terdiri dari
pasir-pasir dan batu-batu. Tiangnya terbuat dari batang-batang kurma.
Barangkali ketika turun hujan, maka tanahnya akan menjadi lumpur karena
mendapat siraman air hujan. Mungkin ketika angin bertiup dengan kecang, maka ia
akan mencabut sebagian dari atapnya.
Di bangunan yang sederhana ini, Rasulullah saw mendidik
generasi Islam yang tangguh yang dapat menghancurkan orang-orang yang lalim dan
para penguasa yang bejat dan mereka mampu mengembalikan kebenaran ke
singgasananya yang terusir dan terampas. Mereka mampu menyebarkan Islam di muka
bumi. Mesjid itu tampak kecil dan sederhana sekali tetapi ia dipenuhi dengan
kebesaran; masjid itu tidak menunjukkan kemewahan sama sekali. Di dalamnya
Al-Qur'an dibaca lalu orang-orang yang mendengarnya menganggap bahwa mereka
benar dan mendapatkan perintah harian untuk menerapkan dan melaksanakan apa-apa
yang mereka dengar.
Al-Qur'an dibaca di masjid bukan seperti nyanyian yang
orang-orang duduk akan merasa terpengaruh dengan keindahan nyanyian dan suara
pembaca. Dan masjid di dalam Islam bukanlah tempat satu-satunya untuk ibadah.
Menurut kaum Muslim semua burni adalah masjid namun masjid adalah simbol
peradaban yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, sebagaimana ia
menyuarakan ilmu, kebebasan dan persaudaraan.
Semua Nabi berbicara tentang persaudaraan dan mengajak
kepadanya dengan ribuan kata-kata. Sedangkan Rasulullah saw telah mewujudkan
persaudaraan itu secara praktis, yakni ketika karakter masyarakat saat itu
mencerminkan Al-Qur'an. Nabi mulai mempersaudarakan kaum muhajirin dan Anshar
di mana sahabat Anshar Sa'ad bin Rabi', seorang kaya dari Madinah
dipersaudarakan dengan Abdul Rahman bin 'Auf, seorang yang berhijrah dari
Mekah. Sa'ad berkata kepada Abdul Rahman: "Sesungguhnya, tanpa bermaksud
sombong, aku memang memiliki harta yang banyak daripada kamu. Aku telah membagi
hartaku menjadi dua bagian dan sebagiannya aku peruntukkan bagimu. Lalu aku
mempunyai dua orang wanita, maka lihatlah siapa di antara mereka yang mampu
memikatmu sehingga aku menceraikannya lalu engkau dapat menikahinya."
Abdul Rahman bin 'Auf menjawab: "Mudah-mudahan Allah SWT memberkatimu,
keluargamu, dan hartamu. Di manakah pasar yang engkau berdagang di
dalamnya?"
Abdul Rahman bin 'Auf keluar menuju ke pasar untuk berkerja.
Ia kembali dan membawa sesuatu yang dapat dimakannya. Ia menolak dengan lembut
sikap baik Sa'ad dan kedermawanannya. Ia bersandar pada keimanan kepada Allah
SWT dan lebih memilih untuk bekerja dan membanting tulang. Tidak berlalu hari
demi hari kecuali ia tetap bekerja sehingga ia mampu untuk membekali dirinya
dan melaksanakan pernikahan.
Demikianlah masyarakat Islam terbentuk dan menampakkan
identitasnya berdasarkan cinta, kebebasan, musyawarah, dan jihad. Pekerjaan
menurut Islam bukan suatu penderitaan untuk mendapatkan roti atau potongan
daging sebagaimana dikatakan peradaban kita masa kini, tetapi pekerjaan dalam
Islam melebihi ruang lingkup materi ini dan menuju puncak yang lebih tinggi:
"Dan katakanlah: 'Bekerjalah kamu, maka Allah dan
Rasul-Nya serta orang-orang muhmin akan melihat pekerjaanmu itu. " (QS.
at-Taubah: 105) Kesadaran bahwa apa yang kita kerjakan akan dilihat oleh Allah
SWT menjadikan perkerjaan itu mendapat cita rasa yang lain. Yaitu suatu rasa
yang melampaui nikmatnya memakan roti dan daging. Setelah bekerja, datanglah
cinta. Cinta dalam Islam bukan hanya perasaan yang menetap dalam hati dan tidak
diwujudkan oleh suatu perbuatan; cinta dalam Islam merupakan langkah harian
yang akan mengubah bentuk kehidupan di sekitar manusia menuju yang lebih tinggi
dan mulia.
Seorang Muslim mencintai Tuhannya Pencipta alam semesta dan
mencintai Rasulullah saw dan mencintai kaum Muslim dan orang-orang yang
berdamai dengan orang-orang Muslim, meskipun keyakinan mereka berbeda
dengannya. Bahkan seorang Muslim mencintai makhluk secara keseluruhan: ia
mencintai anak-anak, hewan, bunga, pasir dan gunung bahkan benda-benda mati pun
mendapat cinta dari seorang Muslim. Seorang Muslim jika dia benar-benar seorang
Muslim akan merasakan dnta yang dialami oleh Nabi Daud terhadap alam dan
lingkungan di sekitarnya. Ini adalah perasaan sufi yang tinggi. Seorang Muslim
akan mewarisi cinta yang sebenarnya seperti yang diwarisi Nabi Isa terhadap
lingkungan yang baik yang ada di sekitarnya di mana ketika Nabi Isa melihat
tubuh anjing yang mati, maka Nabi Isa tidak melihat selain keputihan giginya.
Demikianlah cinta yang tersebar dalam kehidupan kaum Muslim
di mana cinta itu pun tertuju kepada binatang dan benda-benda mati. Cinta
demikian ini tidak akan terwujud dengan suatu keputusan dan tidak ditetapkan
dengan suatu undang-undang, tetapi cinta itu datang biasanya akibat dari
kepuasaan akal dan hati dengan adanya kepemimpinan besar yang hati cenderung
kepadanya dan akal mengambil darinya. Dan yang dimaksud dengan kepemimpinan
besar tersebut adalah keberadaan sang Nabi. Beliau adalah cermin terbesar dari
tingkat cinta yang tertinggi. Beliau adalah seorang yang paling banyak berbuat
demi Islam dan paling banyak sedikit mengharapkan balasan darinya. Meskipun
beliau seorang pemimpin namun beliau hidup dalam kesederhanaan. Beliau adalah
seorang tentara yang paling sederhana. Tempat tidurnya bersih tetapi kasar, dan
rumahnya tidak menampakkan kesibukan yang di dalamnya memasak berbagai macam
hidangan. Beliau justru menyiapkan hidangan yang sangat sederhana. Makanan
utama beliau adalah roti kering yang dicampur dengan minyak. Keinginan besar
beliau adalah tersebarnya dakwah Islam.
Kaum Muslim menyadari bahwa kesempurnaan Islam tidak akan
terwujud kecuali ketika cinta Allah SWT dan Rasul- Nya lebih didahulukan
daripada cinta diri sendiri, cinta kepada wanita, cinta kepada anak,
kepentingan, kekuasaan, kehidupan, dan apa saja yang tidak ada hubungannya
dengan Allah SWT dan Rasul-Nya. Demikianlah kaum Muslim sangat mencintai
pemimpin mereka lebih dari kehidupan pribadi mereka. Di samping pekerjaan dan
cinta tersebut, didirikanlah pemerintahan Islam yang berdasarkan kaidah-kaidah
kebebasan, musyawarah dan jihad.
Kebebasan dalam Islam bukan sekadar perhiasan yang
dilekatkan kepada tubuh Islam tetapi ia merupakan tenunan dari sel-sel yang
hidup itu. Allah SWT telah membebaskan kaum Muslim dari penyembahan selain
dari-Nya. Dengan demikian, runtuhlah semua belenggu yang hinggap di atas akal,
hati, dan masyarakat. Seorang Muslim memiliki—dalam Islam—suatu kebebasan yang
diberikan kepadanya agar ia melihat sesuatu dengan akalnya dan mendebat segala
sesuatu dengan akalnya. Dan hendaklah ia merasa puas dengan sesuatu yang dapat
menenteramkan hatinya. Kebebasan dalam Islam bukan kebebasan mutlak yang
menjurus kepada anarkisme dan diskriminasi tetapi kebebasan dalam Islam adalah
kebebasan yang bertanggung jawab.
Dalam ruang lingkup nas-nas yang pasti yang terdapat dalam
Al-Qur'an atau sunah tidak ada kebebasan di hadapan orang Muslim selain
kebebasan untuk berlomba-lomba untuk menerapkan apa yang mereka pahami. Selain
itu, seorang bebas sampai tidak terbatas, dan pintu ijtihad tetap terbuka
sampai tidak ada batasnya, karena pintu ijtihad adalah akal dan menutup pintu
ijtihad yakni menutup akal dan itu berarti akan membawa kematian baginya. Islam
tidak menerima orang-orang yang mati akalnya atau menga-lami kemunduran; Islam
pada hakikatnya memperlakukan manusia dari sisi akal dan hati.
"Adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang
tidak mempunyai kekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah meng-hendaki untuk
membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang
kafir." (QS. al-Anfal: 7) Orang-orang Islam karena kekafiran mereka dan
kebutuhan mereka serta situasi ekonomi yang memburuk, mereka ingin bertemu
dengan pasukan yang tidak bersenjata; mereka ingin bertemu dengan kafilah yang
kaya, bukan pasukan yang bersenjata; mereka membutuhkan harta untuk menyebarkan
dakwah. Namun Allah SWT menginginkan mereka dengan keadaan seperti itu agar
mereka berhadapan dengan pasukan kafir dan agar mereka mampu memutus tali
kekuatan orang-orang kafir sehingga kebenaran akan menang.
Keluarlah orang-orang Muslim dalam peperangan Badar dengan
membayangkan bahwa mereka akan mendapatkan keuntungan dan kesenangan dengan
banyak mengambil ganimah. Namun Allah SWT menginginkan terjadinya peperangan
yang berat, di mana itu berakibat pada jatuhnya tokoh-tokoh kaum kafir Mekah
sebagai korban darinya dan agar Madinah dapat menahan penderitaan dan kefakiran
yang dialaminya. Seharusnya pengikut Islam tidak membayangkan untuk mengambil
keuntungan tetapi ia justru harus memberi kepadanya.
Nabi mengetahui sebagai pemimpin pasukan ia harus
mengingatkan pasukannya bahwa mereka akan menemui kesulitan dan penderitaan,
dan bukan masalah sepele seperti yang mereka bayangkan. Nabi bermusyawarah
dengan sahabat-sahabat. Beliau berbincang-bincang dengan Abu Bakar Shidiq, Umar
bin Khattab, dan Miqdad bin Amr. Lalu mereka semua sepakat untuk terus
melakukan peperangan apa pun hasilnya dan apa pun pengorbanan yang harus
dilakukan.
Kemudian Rasulullah saw berkata: "Wahai para sahabat,
tunjukkanlah diri kalian." Rasulullah saw mengisyaratkan kepada kaum
Anshar. Rasulullah saw khawatir jika mereka memahami bahwa baiat yang terjadi
di antara mereka yang berisi agar mereka melindungi beliau jika beliau diserang
di Madinah saja, dan memang pasal-pasal dari baiat itu mendukung hal itu.
Tidakkah mereka mengatakan kepada beliau: "Ya Rasulullah, kami tidak akan
bertanggung jawab kepadamu sehingga engkau sampai di negeri kami. Jika engkau
sampai di negeri kami, maka kami akan bertanggung jawab untuk
melindungimu."
Mayoritas pasukan terdiri dari orang-prang Anshar, maka
Rasulullah saw ingin mengetahui keputusan mayoritas tentara sebelum dimulainya
peperangan. Kaum Anshar mengetahui bahwa Rasul saw ingin mengetahui pendapat
kaum Anshar. Oleh karena itu, Sa'ad bin 'Auf berkata: "Demi Allah,
seakan-akan engkau menginginkan kami ya Rasulullah." Nabi menjawab,
"benar." Kemudian kaum Anshar menyatakan apa yang mereka rasakan.
Mendengar pernyataan kaum Anshar itu hilanglah kekhawatiran
dan ketakutan Nabi, bahkan beliau bergembira dan wajahnya berseri-seri.
Rasulullah saw telah mendidik mereka berdasarkan Islam dan Islam tidak mengenal
pasal-pasal perjanjian namun ia justru tenggelam dalam esensinya dan
kedalamannya yang jauh. Kaum Anshar meyakinkan Nabi bahwa mereka benar-benar
beriman kepadanya, mencintainya dan akan mendengarkan apa saja yang beliau
katakan serta akan benar-benar menaati beliau.
Sa'ad bin Mu'ad berkata: "Ya Rasulullah, lakukanlah apa
yang engkau inginkan dan kami akan bersamamu. Demi Zat yang mengutusmu dengan
kebenaran, seandainya engkau membelah lautan lalu engkau menyelam di dalamnya
niscaya kami akan menyelam bersamamu dan tidak ada seseorang pun di antara kami
yang akan meninggalkanmu." Demikianlah keteguhan kaum Anshar. Kalimat
tersebut menetapkan peperangan paling penting dan paling berbahaya dalam
sejarah Islam.
Perasaan kaum Anshar dan Muhajirin dalam pasukan Rasul saw
sangat berbeda dengan perasaan Nabi Musa ketika mereka mengatakan kepadanya,
"pergilah engkau wahai Musa bersama Tuhanmu dan berperanglah, sesungguhnya
kami di sini hanya duduk-duduk saja." Namun kaum Muslim menyatakan bahwa
seandainya Rasul saw memerintahkan mereka untuk melalui lautan dengan berjalan
kaki di atas ombaknya niscaya mereka akan melakukan hal itu walaupun berakibat
pada tenggelamnya mereka dan kematian mereka dan tak seorang pun yang akan
menentang perintah Rasul saw tersebut.
Akhirnya, kaum Muslim bersiap-siap untuk memasuki kancah
peperangan lalu mereka membuat kemah-kemah yang di situ ditentukan tempat
peristirahatan dan pergerakan tentara Islam. Tempat itu ditentukan oleh Rasul
saw. Allah SWT membiarkan Rasul-Nya melakukan kesalahan dalam memilih tempat
sehingga itu akan dapat menjadi pelajaran bagi kaum Muslim dalam kaidah umum
dari kaidah-kaidah peperangan yaitu sikap pemimpin pasukan untuk mengambil
suatu kebijakan yang penting yang berdasarkan pengalaman. Kemudian datanglah
Habab bin Mundzir kepada Rasulullah saw dan bertanya kepadanya, "apakah
tempat yang kita jadikan sebagai pusat pergerakan tentara kita merupakan
pilihan dari Allah SWT dan Rasul-Nya hingga kita tidak dapat mendahuluinya dan
mengakhirinya yakni kita tidak dapat memberikan pendapat kita ataukah itu hanya
masalah yang bersifat tehnik yakni itu terserah pada pendapat kita dan sesuai
kebijakan saat perang dan ia merupakan tipu daya semata?"
Rasulullah saw berkata: "Tetapi itu adalah pendapat
pribadi, peperangan, dan tipu daya." Habab berkata: "Ya Rasulullah
ini adalah tempat yang tidak tepat." Sahabat yang sarat pengalaman ini
memilih tempat di mana pasukan Madinah dapat minum darinya sedangkan pasukan
Mekah tidak dapat mengambil darinya. Kemudian berpindahlah pasukan Muslim
menuju tempat yang telah ditentukan oleh pengalaman militer.
Sampailah pasukan Mekah di mana jumlah mereka mendekati
seribu tentara dan mereka akan berhadapan dengan tiga ratus tujuh belas pasukan
Muslim. Pasukan Quraisy berada di tempat yang jauh dari lembah. Pasukan kafir
terdiri dalam perang Badar dari pemuka-pemuka Quraisy dan pahlawan-pahlawan mereka,
sedangkan pasukan Muslim terdiri dari keluarga-keluarga, ipar-ipar dan keluarga
dekat dari pasukan kafir. Allah SWT telah menentukan agar seorang anak bertemu
dengan ayahnya, saudara bertemu dengan sesama saudara dan sesama ipar bertemu
di medan peperangan. Mereka semua dipisahkan dengan suatu prinsip di mana
mereka ditentukan oleh pedang. Akhirnya, peperangan Badar pun terjadi dan
kaidah utama adalah kaidah persaudaraan sesama Muslim. Dan ketika pasukan
Muslim berpegang teguh di atas dasar Islam, maka pasukan kafir mulai terpecah
belah namun keadaan tersebut mereka sembunyikan.
Lalu 'Utbah bin Rabi'ah berbicara di tengah-tengah pasukan
Mekah dan mengajak mereka untuk menarik kembali dari peperangan. 'Utbah
memberikan pernyataan sesuai dengan tuntutan akal sehat, "wahai
orang-orang Quraisy demi Allah, jika kalian harus memerangi Muhammad, maka
kalian akan menyesal karena kita berhadapan dengan saudara-saudara kita
sendiri. Boleh jadi kita akan membunuh anak paman kita, atau salah seorang dari
kerabat kita. Mengapa kalian tidak membiarkannya saja?"
Kalimat yang rasional tersebut cukup menggoncangkan pasukan
Mekah. Sebagian tentara merasa puas dengan pernyataan tersebut karena mereka
melihat bahwa tidak ada gunanya peperangan itu. Namun kebohohan justru memadamkan
kalimat yang rasional itu. Abu Jahal menuduh bahwa yang mengucapkan kata-kata
adalah orang yang penakut. Kemudian Abu Jahal lebih memilih pendapatnya untuk
menetapkan terus memerangi kaum Muslim.
Pemimpin pasukan kafir yaitu Abu Jahal mengetahui bahwa
Muhammad tidak pernah berbohong. Kitab-kitab sejarah menceritakan bahwa Akhnas
bin Syuraif menyendiri dalam perang Badar bersama Abu Jahal sebelum terjadinya
peperangan tersebut dan bertanya kepadanya, "wahai Abul Hakam, tidakkah
engkau melihat bahwa Muhammad pernah berbohong? Abul Hakam menjawab:
"Bagaimana mungkin ia berbohong atas Allah, sedangkan kami telah
menamainya al-Amin (orang yang dapat dipercaya)." Peperangan tersebut
bukan sebagai usaha untuk mendustakan Rasul saw tetapi itu hanya semata-mata
untuk menjaga kepentingan-kepentingan sesaat dan keadaan ekonomi. Demikianlah
orang-orang kafir mempertahankan nilai yang paling rendah yang ada di muka bumi
yang juga dipertahankan oleh binatang, sementara kaum Muslim justru
mempertahankan nilai yang paling tinggi di bumi dan di langit yang ikut serta
di dalamnya para malaikat.
Kemudian datanglah waktu malam menyelimuti dua kubu. Tiga
ratus tentara yang mukmin sudah bersiap-siap dan mendekati seribu tentara
musyrik. Orang-orang musyrik datang dengan menunggangi tunggangan mereka dan
tampak mereka memiliki persenjataan yang lengkap, sedangkan setiap orang Muslim
datang di atas satu kendaraan. Pakaian yang dipakai orang-orang musyrik tampak
masih baru dan pedang-pedang mereka tampak mengkilat serta baju besi yang
mereka gunakan sangat unggul dan kuat. Alhasil, mereka memiliki persiapan yang
sangat mengagumkan sedangkan pakaian yang dipakai orang-orang Muslim tampak
sudah usang dan pedang-pedang kuno pun mereka gunakan dan baju besi yang mereka
gunakan tampak tidak sempurna. Nabi melihat keadaan pasukannya lalu hati beliau
tampak sedih melihat pasukan tersebut. Beliau berdoa kepada Tuhannya: "Ya
Allah, Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang lapar, maka kenyangkanlah
mereka. Ya Allah, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tanpa alas kaki,
maka tolonglah mereka. Ya Allah, Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang
tidak berpakaian, maka berilah mereka pakaian."
Kemudian rasa kantuk menghinggapi mata kedua pasukan lalu
mereka beristirahat di tengah-tengah malam. Jatuhlah hujan kecil yang membuat
tempat itu basah sehingga kelembaban mengitari kaum Muslim. Hujan tersebut
membasuh tanah perjalanan dan menghilangkan debu-debu kepayahan serta
menyucikan hati dan membangkitkan kepercayaan atas kemenangan dari Allah SWT.
Allah SWT berfirman: "(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk
sebagai suatu penenteram dari-Nya, dan Allah menurunkan hujan dari langit untuk
menyucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan
setan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak
kaki(mu)." (QS. al-Anfal: 11)
Datanglah waktu pagi di Badar lalu kaum Quraisy mulai
menyerang, lalu Nabi memerintahkan pasukan Muslim untuk bertahan. Rasulullah
saw bersabda: "Jika musuh mengepung kalian, maka usirlah mereka dengan
panah dan janganlah kalian menyerang mereka sehingga kalian
diperintahkan."
Demikianlah ketetapan militer yang sangat jitu yang berarti
hendaklah kaum Muslim membentengi mereka di tempat-tempat mereka agar
orang-orang musyrik mendapatkan kerugian dari serangan yang mereka lakukan.
Kita mengetahui dari ilmu militer saat ini bahwa seorang yang menyerang
memerlukan tiga atau tiga kali lipat dari jumlah yang biasa dilakukan sehingga
serangannya betul-betul efektif; kita mengetahui bahwa jumlah pasukan musyrik
tiga kali lipat dibandingkan dengan tentara Muslim. Kaum musyrik dilihat dari
segi jumlah sangat memadai untuk memenangkan peperangan, dan persenjataan
mereka lebih lengkap dari persenjataan kaum Muslim. Jumlah hewan yang mereka
miliki pun sama dengan jumlah mereka, sedangkan tiap tiga orang Muslim
berperang di atas satu tunggangan.
Keadaan saat itu sangat menguntungkan kaum musyrik.
Tanda-tanda kemenangan tampak menyertai bendera kaum musyrik, tetapi kemenangan
peperangan bukan karena kebesaran jumlah pasukan dan persenjataan yang lengkap.
Terkadang peperangan justru dimenangkan oleh unsur spiritual yang tidak
kelihatan. Spiritualitas tentara dan keimanannya tentang persoalan yang
dipertahankannya serta keinginannya untuk mendapatkan dua kebaikan: kemenangan
atau kematian dan hasratnya yang tinggi untuk meneguk madu syahadah, semua itu
dapat mengubah seorang tentara menjadi makhluk yang tidak terkalahkan. Boleh
jadi ia akan merasakan kematian tetapi jauh dari kekalahan. Demikianlah keadaan
pasukan Muslim.
Sementara itu debu-debu berterbangan di atas kepala pasukan
yang bertempur dan kaum Muslim mencurahkan tenaga yang keras dalam peperangan
itu. Ketika dua pasukan saling bertemu dan bertempur, Nabi saw melihat mereka,
lalu Nabi saw menyaksikan pasukannya terjepit. Pasukan yang berjumlah sedikit
dengan persenjataan yang tidak lengkap itu kini ditekan oleh orang kafir. Dalam
keadaan demikian, Nabi saw meminta pertolongan kepada Tuhannya: 'Ya Allah,
kirimkanlah bantuan dan pertolongan-Mu. Ya Allah, wujudkanlah janji-Mu
kepadaku. Ya Allah, jika kelompok ini dihancurkan, maka Engkau tidak akan
disembah setelahnya di muka bumi." Renungkanlah, bagaimana kesedihan Nabi
saat terjadi peperangan itu. Oleh karena itu, kita dapat memahami mengapa Nabi
saw meminta agar pasukannya dimenangkan.
Pemimpin pasukan tertinggi Muhammad bin Abdillah keluar
berperang di jalan Allah SWT dan saat ini kematian sedang mengitari kaum
Muslim, lalu apa yang dipikirkan oleh Nabi saw pada keadaan yang sulit tersebut?
Pemikiran Nabi saw melebihi hal yang sekarang dan menuju pada hal yang akan
datang, dan yang menjadi fokus Nabi adalah penyembahan Allah SWT di muka bumi:
"Ya Allah, jika kelompok ini dihancurkan, maka Engkau tidak akan disembah
setelahnya di muka bumi."
Nabi tidak terlalu mengkhawatirkan kehancuran kaum Muslim
karena Nabi justru mengkhawatirkan sesuatu yang lebih besar dari itu. Yang
beliau khawatirkan adalah penyembahan kepada Allah SWT akan berhenti di muka
bumi. Oleh karena itu, Nabi meminta tolong kepada Tuhannya dan mengingatkan
kembali kepada Tuhannya dan Allah SWT lebih tahu dari hal itu. Kemudian
turunlah bala tentara malaikat yang dipimpin oleh Jibril.
Allah SWT berfirman:
"(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada
Tuhanmu, lalu diperkenankankan-Nya bagimu: 'Sesungguhnya Aku akan mendatangkan
bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.'
Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bantuan itu), melainkan sebagai kabar
gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah
dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."
(QS. al-Anfal: 9-10)
Setelah itu Nabi saw menghampiri sahabat Abu Bakar dan
berkata: "Sampaikan berita gembira wahai Abu Bakar, sesungguhnya telah datang
kepadamu bantuan dari Allah SWT." Turunnya para malaikat merupakan cara
untuk meneguhkan kaum Muslim dan berita gembira kepada mereka. Mukjizat itu
bukan terletak pada penyertaan para malaikat dalam peperangan, namun melalui
nas-nas ditegaskan bahwa peranan malaikat tidak lebih dari sekadar membawa
berita gembira dan memberikan dukungan moril serta memenuhi hati dengan
ketenangan. Kami kira bahwa Allah SWT ingin agar para malaikat menyaksikan
manusia-manusia malaikat yang mempertahankan akidah tauhid.
Demikianlah Allah SWT mewahyukan kepada malaikat bahwa Dia
bersama mereka. Oleh karena itu, hendaklah orang-orang yang beriman merasa
tenang dan kebenaran akan tertancap pada hati mereka sedangkan orang-orang
kafir pasti akan merasakan ketakutan.
Allah SWT berfirman:
"(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para
malaikat: 'Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian)
orang-orang yang telah beriman.' Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke
dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah
tiap-tiap ujung jari mereka. (Ketentuan) yang demikian itu adalah karena
sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya; dan barangsiapa menentang
Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaan-Nya. Itulah (hukum
dunia yang ditimpakan atasmu), maka rasakanlah hukuman itu. Sesungguhnya bagi
orang-orang yang kafir itu ada (lagi) azab neraka." (QS. al-Anfal: 12-14)
Lalu orang-orang kafir pun mengalami kekalahan. Setelah
peperangan itu, terbunuhlah tujuh puluh kafir dan tujuh puluh tawanan dari
mereka dan sebagian pasukan melarikan diri. Runtuhlah tokoh-tokoh kebencian dan
kelaliman di peperangan tersebut. Hancurlahlah Abu Jahal, pemimpin pasukan, dan
pahlawan-pahlawan Mekah kini terkapar.
Rasulullah saw berdiri di depan bangkai-bangkai orang-orang
kafir dan berkata: "Wahai Utbah bin Rabi'ah, wahai Syaibah bin Rabi'ah,
wahai Umayah bin Khalf, wahai Abu Jahal bin Hisam, apakah kalian menemukan apa
yang dijanjikan oleh tuhan kalian kepada kalian. Sungguh aku telah menemukan
apa yang dijanjikan Tuhanku." Orang-orang Muslim berkata: "Ya
Rasulullah, apakah engkau memanggil kaum yang sudah mati?" Rasulullah
berkata: "Kalian tidak mengetahui apa yang aku katakan kepada mereka,
tetapi mereka tidak mampu menjawab perkataanku." Rasulullah saw tinggal
tiga malam di Badar kemudian beliau kembali ke Madinah. Di depan beliau
terdapat tawanan-tawanan perang dan ganimah.
Kaum Muslim sangat menanggung beban berat dengan banyaknya
tawanan perang. Mula-mula Rasulullah saw bermusyawarah dengan sahabat Abu Bakar
dan Umar. Abu Bakar berkata: "Ya Rasulullah, mereka adalah keturunan dari
saudara-saudara dan keluarga, dan aku melihat lebih baik engkau mengambil
fidyah (tebusan) dari mereka sehingga apa yang engkau ambil tersebut merupakan
kekuatan bagi kita terhadap orang-orang kafir, dan mudah-mudahan Allah SWT
memberi petunjuk kepada mereka sehingga mereka menjadi tulang punggung
kita." Kemudian Rasulullah saw menoleh kepada Umar bin Khattab sambil
berkata, "bagaimana pendapatmu wahai Ibnul Khattab?" Lelaki itu
berkata: "Demi Allah, aku tidak sependapat dengan apa yang dikatakan Abu
Bakar tetapi aku berpendapat, seandainya aku mampu untuk bertemu dengan salah
seorang kerabatku, maka aku akan memukul lehernya, dan seandainya Ali mampu
bertemu dengan keluarganya, maka ia pun akan memukul lehernya begitu Hamzah
sehingga Allah SWT mengetahui bahwa tidak ada di hati kita kelembutan kepada
kaum musyrik."
Pasukan Madinah dan pasukan Mekah terdiri dari
keluarga-keluarga yang terikat hubungan kekerabatan, namun kehendak Allah SWT
menetapkan terjadinya peperangan sesama keluarga: antara anak dan orang tuanya.
Umar menginginkan agar keadaan demikian terus berlanjut sehingga orang-orang
musyrik mengetahui bahwa Islam tidak ingin berdamai. Kemudian Selesailah urusan
itu dan terjadi peperangan di jalan Allah SWT dan mengangkat senjata dan
berperang adalah suatu kewajiban yang tiada keraguan di dalamnya. Nabi saw
menoleh kepada kaum Muslim dan mendapati sebagian besar mereka cenderung kepada
pendapat Abu Bakar. Nabi saw mengikuti pendapat mayoritas saat itu. Pendapat
mayoritas salah dan hanya Umar yang benar.
Ini adalah peperangan pertama yang dilalui oleh Islam.
Hendaklah kaum Muslim harus meninggalkan dorongan kemanusiaan mereka, yakni
orang-orang kafir harus dibunuh agar musuh-musuh Allah SWT mengetahui bahwa
Islam telah memilih darah. Allah SWT telah mendukung Umar bin Khattab dalam
Al-Qur'an sehingga Nabi saw dan Abu Bakar menangis ketika keduanya menyadari
kesalahan mereka pada hari berikutnya, lalu Umar memergoki mereka dalam keadaan
menangis dan ia bertanya, "apa yang menyebabkan Rasulullah saw dan
temannya di gua menangis?" Kemudian Rasulullah saw membaca Al-Qur'an:
"Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan
musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawi sedangkan Allah
menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah,
niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang hamu ambil."
(QS. al-Anfal: 67-68)
Kedua ayat itu mengatakan bahwa ini bukan saatnya melindungi
para tawanan dan berusaha untuk menebus mereka. Waktu Demikian belum saatnya.
Nabi tidak berhak memiliki tawanan kecuali jika ia telah melakukan banyak
peperangan dan banyak berjihad dan telah banyak membunuh dan dakwahnya telah
mapan. Kedua ayat tersebut menyingkap tujuan di balik penebusan tawanan:
"Kamu menghendaki harta benda duniawi sedangkan Allah menghendaki (pahala)
akhirat (untukmu)." Demikianlah pemikiran yang mempertimbangkan
keadaan-keadaan aktual yang sulit. Itu adalah pemikiran yang bersifat taktik
sebagaimana yang kita ungkapkan dalam istilah modern dan bukan pemikiran yang
bersifat strategis. Kemudian para tawanan tersebut bukan tawanan biasa tetapi
menurut istilah modern mereka adalah penjahat-penjahat perang. Oleh karena itu,
nyawa mereka harus ditumpahkan saat mereka dapat ditangkap, meskipun mereka
memiliki kekayaan yang banyak atau kedudukan yang tinggi. Islam tidak mengakui
kekayaan atau kedudukan, yang diakuinya adalah keimanan, sedangkan
pertimbangan-pertimbangan duniawi lainnya tidak dihiraukan oleh Islam.
Nas Al-Qur'an memperingatkan orang-orang yang menang bahwa
kesalahan mereka bisa berakibat pada datangnya siksaan yang bakal mereka terima
tetapi Allah SWT mengampuni mereka dan menurunkan rahmat-Nya: "Kalau
sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu
ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil."
Siksaan tersebut memang lebih dekat daripada pohon yang
dekat ini, kemudian Allah SWT mengampuni mereka dan Allah SWT mengampuni
sahabat-sahabat yang terjun di perang Badar, baik dosa yang lalu maupun dosa
mereka yang akan datang. Demikianlah Al-Qur'an ingin mendidik kaum Muslim agar
mereka tidak banyak mempertimbangkan urusan manusiawi saat berperang. Jadi,
Islam memulai peperangannya yaitu peperangan yang hanya ditujukan kepada Allah
SWT dan hendaklah peperangan tersebut dihilangkan dari
pertimbangan-pertimbangan yang sulit sehingga sahabat-sahabat Nabi mengetahui
bahwa kecenderungan kepada kesenangan duniawi akan berakibat pada kekalahan
mereka.
Dalam peperangan Uhud jumlah kaum musyrik tiga ribu
sedangkan jumlah kaum Muslim tiga ratus pasukan setelah pemimpin orang-orang
munafik Abdullah bin Saba' mengundurkan diri pasukan. Kaum Muslim diletakkan di
gunung dan Rasulullah saw membuat rencana yang jitu untuk memenangkan
pertempuran di mana beliau membagi pasukan pemanah di puncak gunung untuk
melindungi punggung kaum Muslim dan melinduingi mereka dari serangan dari arah
belakang. Rasulullah saw memberi pengertian kepada pasukan panah itu agar
mereka tetap di tempatnya baik kaum Muslim menang maupun kalah. Yakni bahwa
pasukan pemanah tidak boleh turun dari gunung dan meski berusaha untuk
melindungi kaum Muslim. Rasulullah saw berkata kepada mereka. "lindungilah
punggung-punggung kami. Jika kalian melihat kami sedang bertempur, maka kalian
tidak usah turun darinya dan tidak usah menolong kami, dan jika kalian melihat
kami memperoleh kemenangan dan mengambil ganimah, maka kalian tidak boleh ikut
serta bersama kami."
Setelah membuat keputusan tersebut, Rasulullah saw kembali
ke pasukan yang lain, lalu beliau membikin suatu rencana untuk menyerang. Dan
Dimulailah peperangan kemudian pasukan Islam mendorong pasukan musyrik laksana
angin yang kencang yang memporak-porandakan ribuan kaum musyrik. Pada tahapan
pertama pasukan Islam tampak menguasai medan dan berhasil menyapu kaum musyrik
sehingga pasukan Mekah tampak berputus asa meskipun mereka unggul secara
bilangan dan meskipun mereka memiliki kuatan persenjataan yang lengkap, pasukan
Mekah justru dikagetkan dengan ketangguhan pasukan Muslim yang dapat memukul
mundur mereka hingga mereka membayangkan balwa mereka tidak dapat memenangkan
peperangan atau dapat bertahan di hadapan pasukan Muslim. Debu-debu peperangan
mulai berterbangan yang menyertai tanda-tanda kekalahan pasukan Mekah.
Sementara itu, para pemanah yang diletakkan Rasulullah saw di suatu tempat yang
strategis berpikir untuk memperoleh ganimah. Pasukan Mekah telah kalah dan
mereka telah melarikan diri dari pasukan Muslim, maka bagaimana seandainya para
pemanah turun dari tempat mereka untuk mengumpulkan harta rampasan dan ganimah.
Rasulullah saw telah mengingatkan mereka agar jangan meninggalkan tempat
mereka, apa pun yang terjadi tetapi pasukan pemanah itu justru berkhianat dan
menentang perintah Nabi saw setelah mereka membayangkan bahwa peperangan telah
selesai dan keuntungan akan diperoleh pasukan Madinah yang beriman.
Pasukan pemanah mengira bahwa Allah SWT akan menutupi
kesalahan mereka dan akan melindungi mereka sehingga mereka berhasil mengambil
harta rampasan dan ganimah. Sungguh keikhlasan telah tercabut dari hati
sebagian pasukan. Belum lama hal tersebut berlangsung sehingga terjadilah
perubahan yang drastis pada peperangan. Pemimpin pasukan berkuda musyirik dalam
peperangan Uhud yaitu Khalid bin Walid yang kemudian ia menjadi tokoh Muslim
adalah orang yang sangat jenius dalam peperangan. Begitu ia melihat pasukan
pemanah lari dari tempat mereka, maka ia melihat celah yang terbuka di
tengah-tengah kaum Muslim, sehingga ia segera memutarkan kudanya dan disertai
pasukan yang mengikutinya. Kemudian ia menyerang kaum Muslim dari belakang.
Serangan yang dilakukan Khalid itu sangat cepat dan sangat mengejutkan.
Orang-orang musyrik mengambil kesempatan emas. Mereka yang tadinya lari, kini
mereka menarik diri dan justru menyerang kembali.
Pasukan Muslim dikepung dari dua arah oleh pasukan berkuda:
satu dari belakang dan yang lain dari depan. Kemudian berjatuhanlah
korban-korban dari pasukan Muhammad bin Abdillah. Banyak di antara mereka yang
mati sebagai syahid saat mempertahankan dan melindungi Rasulullah saw, bahkan
sang Nabi pun hidungnya terluka dan giginya pun runtuh dan kepala beliau yang
mulia terluka sehingga beliau mengucurkan darah.
Kemudian tersebarlah isu bahwa Muhammad saw telah meninggal.
Ketika mendengar itu, kaum Muslim sangat terpukul dan sangat sedih sehingga
kaum Muslim pun terpecah-pecah. Sebagian mereka kembali ke Mekah dan sekelompok
yang lain ke atas gunung dan mereka tetap menjaga Nabi saw yang mulia. Ketika
mendengar kematian Nabi, Anas bin Nadhir berkata kepada kaumnya:
"Bangkitlah kalian dan matilah seperti kematiannya. Apa yang kalian
lakukan setelah kalian hidup sesudahnya." Pasukan Muslim tetap bertahan
dan melakukan peperangan, lalu tekanan kaum musyrik semakin berat kepada Nabi
saw dan para sahabatnya. Kemudian terjadilah kejadian yang paling sulit dalam
sejarah umat Islam. Nabi saw berteriak saat melihat kaum musyrik menekannya dan
berusaha membunuhnya: "Barangsiapa yang dapat mengusir mereka dariku, maka
baginya surga."
Mendengar perkataan itu, kaum Muslim segera mengitari Nabi
saw dan melindungi beliau sehingga banyak dari mereka berguguran sebagai
syahid. Bahkan sahabat-sahabat Abu Juanah melindungi Nabi saw sampai-sampai
punggungnya dipenuhi dengan anak-anak panah. Ia bagaikan baju besi yang dipakai
kepada Nabi saw dan ia tetap kokoh melindungi sang Nabi saw. Kemudian
berubahlah keadaan karena keteguhan dan keberanian yang diperlihatkan oleh kaum
Muslim. Pasukan Mekah merasa puas dan mereka memilih untuk menarik diri. Saat
itu orang-orang Quraisy tidak lebih sedikit penderitaannya daripada orang-orang
Muslim.
Setelah peperangan yang dahsyat itu, kaum musyrik menarik
diri setelah mereka berhasil membunuh beberapa orang Muslim, bahkan mereka
berhasil melukai pemimpin pasukan yaitu sang Nabi saw. Semua itu terjadi karena
satu kesalahan yaitu kesalahan terletak pada penentangan dan pembangkangan para
pemanah terhadap perintah sang Rasul saw dan usaha mereka untuk meninggalkan
tempat mereka.
Ketika sebagian kelompok dari sahabat kehilangan pengorbanan
dan kehilangan sikap ikhlas dalam hati mereka, maka kesalahan tersebut harus
dibayar oleh tentara yang paling berani dan mulia di antara mereka yaitu sang
Nabi saw. Langit tidak ikut campur untuk menyelamatkan pasukan Islam itu.
Kesalahan kaum Muslim itu harus dibayar oleh Rasul saw di mana wajah beliau pun
terluka bahkan keluar darah yang cukup deras dari luka beliau sehingga setiap
kali dituangkan air di atas luka itu, maka darah pun semakin deras mengucur.
Darah itu tidak berhenti kecuali setelah dibakarkan potongan tembikar lalu
dilekatkan di atasnya.
Luka beliau bukan hanya bersifat materi tetapi luka
spiritual beliau dan ruhani beliau pun semakin bertambah. Ini beliau rasakan
ketika mendengar bahwa pamannya Hamzah gugur sebagai syahid dan tidak cukup
dengan itu, bahkan istri Abu Sofyan yaitu Hindun membelah perutnya dan
mengeluarkan jantungnya serta mengunyahnya dengan mulutnya. Semua itu semakin
menambah kesedihan sang Nabi.
Kaum Quraisy menguasi pasukan Muslim dan mereka
memberlakukan dan menekan kaum Muslim secara aniaya. Seandainya bukan karena
rahmat Allah SWT niscaya kaum Muslim akan mengalami kekalahan yang telak.
Kemudian turunlah dalam Al-Qur'an al-Karim ayat-ayat yang mendidik kaum Muslim
agar mereka benar-benar ikhlas dan memahamkan mereka bahwa kekalahan mereka
sebagai akibat dari adanya pasukan di antara mereka yang menginginkan dunia
meskipun di antara mereka ada sebagian yang menginginkan akhirat. Jika terjadi
demikian, maka tidak adajalan untuk memperoleh kemenangan. Ini bukanlah hal
yang diinginkan oleh pasukan Muslim, yang diharapkan adalah hendaklah semua
pasukan tertuju untuk mencapai ridha Allah SWT dan hanya mengharapkan akhirat.
Jika demikian halnya, maka Allah SWT akan memberi mereka dunia dan akhirat.
Allah SWT berfirman dan menceritakan peperangan Uhud dalam
surah Ali 'Imran: "Di antaramu ada orang yang menghendahi dunia dan di
antara kamu ada orangyang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu
dari mereka untuk menguji kamu; dan sesungguhnya Allah telah memaafkan kamu.
Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang-orang yang
beriman." (QS. Ali 'Imran:: 152)
Allah SWT memaafkan hal itu. Orang-orang Muslim kini
menghitung jumlah korban mereka dan mengobati orang-orang yang terluka.
Rasulullah saw bertanya tentang pamannya Hamzah, dan ketika beliau mendapatinya
di tengah-tengah sahabat yang gugur, dan orang-orang kafir telah merusak
jasadnya, maka beliau berkata dalam keadaan menangis: "Tidak akan ada
orang yang akan tertimpa sepertimu selama-lamanya."
Kemudian Nabi saw berdiri dan memuji Allah SWT lalu beliau
memerintahkan untuk mengembalikan orang-orang yang terbunuh dari kaum Muslim ke
tempat asal mereka di mana mereka terbunuh. Saat itu keluarga mereka telah
membawanya ke kuburan kemudian Nabi saw mengumpulkan kedua orang laki-laki dari
pahlawan-pahlawan Uhud dalam satu pakaian dan beliau bertanya siapa di antara
keduanya yang paling banyak mengambil manfaat dari Al-Qur'an. Jika diisyaratkan
kepada salah satunya, maka beliau akan mendahulukannya untuk dimasukan dalam
liang lahad.
Rasulullah saw juga memerintahkan agar mereka dikebumikan
dengan darah mereka dan beliau pun tidak mensalati mereka, serta tidak
memandikan mereka. Allah SWT ingin memperlihatkan bagaimana mereka dibangkitkan
pada hari kiamat lalu beliau bersabda: "Tiada seorang pun yang terluka di
jalan Allah SWT kecuali Allah SWT membangkitkannya di hari kiamat dalam keadaan
di mana Iukanya akan mengucur darah. Warna itu adalah warna darah dan baunya
seperti minyak misik."
Bukanlah penderitaan yang dalam yang merupakan pelajaran
yang harus dimengerti kaum Muslim dari peperangan Uhud sebagai akibat dari
pembangkangan mereka dari perintah Rasul saw dan ketidaktaatan mereka
kepadanya, tetapi wahyu juga menurunkan berbagai pelajaran yang lain yang dapat
dimanfaatkan. Pelajaran yang terpenting setelah pelajaran kesetiaan adalah
penjelasan tentang central utama yang di situ kaum Muslim berkumpul. Pribadi
Rasulullah saw bukanlah markas yang di situ kaum Muslim berkumpul yang ketika
pribadi Rasulullah saw yang mulia pergi karena satu dan lain hal, maka
orang-orang Muslim akan pergi dan meninggalkan beliau. Tidak seharusnya pribadi
Rasul saw menjadi markas atau central tetapi yang menjadi central dari semuanya
adalah pemikiran beliau. Itulah yang paling penting.
Demikianlah bahwa Al-Qur'an al-Karim mencela orang-orang
yang meletakkan senjatanya ketika tersebar isu terbunuhnya Nabi saw. Islam
tidak akan mencapai puncaknya ketika kaum Muslim berkumpul di sisi Rasulullah
saw saat beliau masih hidup namun ketika beliau terbunuh atau mati, maka mereka
murtad di mana mereka membuang senjatanya dan pergi mengurusi diri mereka sendiri.
Orang-orang Islam adalah orang-orang yang mengikuti prinsip bukan mengikuti
pribadi. Muhammad bin Abdillah memang seorang pemimpin manusia dan Imam para
rasul dan penutup para nabi, dan sebagai makhluk Allah SWT yang paling mulia,
namun ini semua tidak membenarkan bahwa seorang Muslim diperbolehkan untuk
meletakkan senjatanya ketika Rasul saw wahfat atau terbunuh. Hendaklah seorang
Muslim memanggul senjatanya dan tidak membuang dari tangannya kecuali dalam dua
keadaan: pertama ketika ia telah memperoleh kemenangan dan kedua ketika ia
telah mati.
Nas Al-Qur'an menjelaskan secara gamblang hubungan kaum
Muslim dengan akidah Islam, bukan dengan pribadi sang Rasul saw. Allah SWT
berfirman: "Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah
berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakahjika dia wafat atau dibunuh kamu
berbalik ke belakang (tnurtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maha ia
tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan
memberi balasan kepada orang-orangyang bersyukur." (QS. Ali 'Imran: 144)
Demikianlah bahwa peperangan Uhud telah membawa dampak yang
luar biasa terhadap kaum Muslim, utamanya terhadap Nabi saw. Orang-orang yang
terbunuh di perang Uhud adalah sahabat-sahabat yang paling mulia dan paling
banyak imannya. Mereka adalah pilihan dari orang-orang Muslim yang pertama;
mereka memikul beban dakwah di saat-saat yang sulit bahkan mereka harus
berhadapan dan memusuhi kerabat mereka dan teman-teman mereka; mereka menjadi
terasing saat menyatakan keislaman mereka sebelum hijrah dan sesudahnya; mereka
telah menginfakkan harta; mereka berjuang di jalan Allah SWT; mereka telah
bersabar dalam menanggung berbagai macam penderitaan, dan ketika datang saat
yang paling berbahaya dan pasukan Islam telah terkepung di mana jiwa Rasul saw
telah terancam, mereka justru mencurahkan darah mereka bagaikan lautan yang
menenggelamkan orang-orang kafir dan mereka mampu melindungi sang Rasul saw dan
mengubah jalan peperangan serta menyelamatkan akidah tauhid.
Peperangan Uhud bukanlah pengorbanan pertama yang dilakukan
oleh kaum Muslim dan bukanlah merupakan peperangan yang terakhir. Ia adalah
satu peperangan di antara cukup banyak peperangan yang dilalui oleh Islam untuk
menyebarkan kalimat Allah SWT di muka bumi dan membimbing hamba-hamba-Nya.
Begitu juga pengorbanan Rasul saw, dan peperangan Uhud bukanlah pengorbanan
yang pertama terhadap Islam dan bukan juga yang terakhir. Rasulullah saw telah
hidup setelah diutusnya kepada manusia di mana beliau telah memberikan semuanya
untuk kehidupan dan untuk dakwah; beliau tidak memiliki dirinya sendiri; beliau
tidak memboroskan waktunya dengan sia-sia bahkan beliau beristirahat sedikit
saja. Semua kehidupan beliau diberikan kepada dakwah dan untuk Islam. Beliau
menjalani berbagai macam peperangan dan beliau memikul berbagai macam
penderitaan dan belum lama beliau lari dari suatu problem kecuali beliau
berhadapan dengan problem yang baru dan lain; belum lama beliau menyelesaikan
suatu krisis kecuali beliau menghadapi krisis yang lain. Demikianlah kehidupan
sang Nabi saw di mana beliau selalu memberikan kontribusi dan sumbangannya demi
kepentingan agama Allah SWT.
Silakan Anda mengamati kehidupan sang Rasul saw dari sudut
manapun yang Anda inginkan niscaya Anda tidak akan menemukan sudut dari
sudut-suduut kehidupan beliau kecuali dimulai dan dipenuhi dengan pergulatan
yang hebat. Rasulullah saw telah melalui pergulatan militer dalam berbagai
macam pertempuran yang silih berganti yang beliau lakukan. Beliau memulai
pergulatan politiknya yang terwujud dalam perundingan-perundingan dan
surat-surat yang beliau kirimkan kepada penguasa dan para raja di berbagai
negara agar mereka memeluk Islam, bahkan beliau melakukan pergulatannya dalam
masalah pribadi di rumah tangga. Rumah tangga beliau pun tidak kosong dari
pergulatan. Beliau adalah pejuang sejati dalam setiap waktu. Kalau kita
mengenal Nabi Ibrahim sebagai seorang musafir di jalan Allah SWT, maka Muhammad
bin Abdillah adalah seorang pejuang di jalan Allah SWT. Belum lama peperangan
Uhud berakhir sehingga pengaruh-pengaruh buruknya berbekas pada kaum Muslim.
Orang-orang Arab Badui mulai berani bersikap kurang ajar kepada mereka,
demikianjuga orang-orang Yahudi, apalagi orang-orang munafik dan tidak
ketinggalan orang-orang Quraisy pun mulai menyudutkan kaum Muslim.
Kemudian datanglah utusan dari kabilah Arab kepada Rasul saw
dan mereka mengatakan kepada beliau bahwa mereka mendengar tentang Islam dan
mereka ingin memeluknya, maka hendaklah beliau mengutus kepada mereka beberapa
dai dan mubalig untuk mengajari mereka tentang dasar-dasar agama. Nabi saw
mengutus bersama mereka sekelompok para dai yang dipimpin oleh 'Ashim bin
Tsabit. Temyata orang-orang itu berkhianat atas para sahabat-sahabat yang
berdakwah itu dan mereka pun dibunuh. Bahkan tiga di antara mereka ditawan dan
dijual di Mekah. Dijualnya mereka di Mekah berarti mereka diserahkan pada
kelompok orang-orang Quraisy yang telah lama menunggu untuk menangkap kaum
Muslim. Kaum Quraisy Mekah membunuh tiga tawanan kaum Muslim itu. Orang-orang
Muslim sangat sedih mendengar dai-dai Allah SWT itu terbunuh dengan cara yang
begitu tragis.
Ketika datang kepada Nabi saw orang-orang yang minta pada
beliau agar dikirim utusan dari kalangan mubaligh untuk menyebarkan Islam untuk
para kabilah kaum Najd, maka Nabi kali ini betul-betul mempertimbangkan antara
kepentingan menyebarkan Islam dan perlindungan terhadap kehormatan manusia.
Lalu beliau memilih untuk kepentingan dakwah Islam. Beliau menyadari bahwa
beliau mengutus para sahabatnya dalam bahaya; beliau memberitahu mereka bahwa
mereka akan menghadapi suatu keadaan yang misterius yang tiada mengetahuinya
kecuali Allah SWT. Namun bahaya tersebut sudah menjadi bagian dari cita rasa
kehidupan yang selalu meliputi dakwah Islam.
Ketika Nabi saw mengutarakan kekhawatirannya terhadap para
sahabatnya yang bakal diutusnya di tengah kabilah itu, orang-orang yang meminta
beliau untuk mengutus para sahabatnya menyakinkan beliau bahwa mereka akan
melindungi sahabat beliau. Kemudian Nabi saw memerintahkan tujuh puluh orang
pilihan dari sahabatnya untuk pergi dan berjihad di jalan Allah SWT serta
mengajak manusia untuk mengikuti Islam. Lalu pergilah para sahabat yang
kemudian dikenal dengan sebutan al-Qurra' (yaitu orang-orang yang pandai
membaca Al-Qur'an dan menghapalnya). Mereka adalah para dai yang terbaik yang
diutus Nabi di mana pada siang hari mereka memikul kayu bakar dan pada malam
hari mereka sibuk dalam keadaan salat. Ketika datang perintah Rasulullah saw
kepada mereka untuk pergi dan berdakwah mereka pun pergi dalam keadaan gembira
karena mereka diajak untuk berjihad di jalan Allah SWT. Mereka melangkahkan
kaki dengan mantap di tanah orang-orang munafik dan para penghianat sehingga
mereka sampai di suatu sumur yang bemama sumur Ma'unah. Kemudian mereka mengutus
salah seorang di antara mereka untuk menemui pemimpin orang-orang kafir di
negeri itu. Mubalig dari sahabat Rasulullah saw itu menyampaikan surat Nabi
yang dibawanya di mana beliau mengharapkan agar masyarakat di situ masuk Islam,
tetapi ia dikagetkan dengan adanya pisau yang menembus punggungnya. Mubaligh
itu berteriak saat ia tersungkur: "sungguh aku beruntung demi Tuhan
pemelihara Ka'bah."
Kemudian pemimpin orang-orang kafir itu mengangkat senjata
dan mengumpulkan para kabilah untuk memerangi para mubaligh di jalan Allah SWT
itu sehingga sahabat-sahabat terbaik yang berdakwah di jalan Allah SWT itu pun
gugur di sumur Ma'unah. Jasad-jasad mereka menjadi makanan dari burung nasar
dan burung-burung yang lain. Dari tujuh puluh orang yang dikirim itu hanya seorang
yang selamat yang kembali kepada Nabi saw. Ia menceritakan apa yang dialami
oleh fuqaha-fuqaha Muslimin di mana mereka dikhianati. Ketika mendengar berita
tentang tragedi itu, Nabi sangat terpukul dan sedih. Kemudian beliau mengangkat
kepalanya dan berkata kepada sahabat-sahabatnya: "Sungguh sahabat-sahabat
kalian telah terbunuh dan mereka telah meminta kepada Tuhan mereka. Mereka
mengatakan, Tuhan kami, berikanlah kami ujian sesuai dengan kehendak-Mu dan
ridha-Mu. Apa saja yang menjadi kepuasan-Mu kami pun akan merasakan
kepuasan."
Sungguh penderitaan yang dialami oleh Islam sangat berat,
terutama yang menimpa para sahabat yang gugur sebagai syahid di sumur Ma'unah.
Nabi saw sangat sedih mendengar sikap orang-orang Arab dan orang-orang kafir
terhadap Islam. Mereka telah mengejek dan merendahkan kaum mukmin sampai pada
batas ini. Kemudian beliau menetapkan akan kembali mengangkat kewibawaan Islam
dengan tindak kekerasan.
Dalam keadaan seperti ini, bergeraklah orang-orang Yahudi
untuk membunuh Rasulullah saw. Pada suatu hari beliau pergi ke Bani Nadhir
untuk menyelesaikan suatu urusan. Kemudian mula-mula mereka menampakkan
persetujuan atas apa yang diucapkan beliau. Mereka mendudukkan Nabi di bawah
naungan benteng-benteng mereka, lalu mereka bersekongkol untuk melenyapkan
beliau; mereka menetapkan untuk melemparkan batu yang berat dari atas benteng
itu saat beliau duduk dan tidak membayangkan akan terjadinya kejahatan yang
direncanakan padanya. Namun Allah SWT mengilhami Rasul-Nya akan datangnya
bahaya kepada beliau, lalu beliau bangun sebelum pelaksanaan tipu daya itu.
Lalu beliau segera pergi menuju rumahnya. Beliau berpikir saat beliau kembali
ke rumahnya dengan membawa penderitaan yang baru. Pembangkangan dan
pengkhianatan tersebut tidak akan dapat berhenti kecuali setelah Islam
menunjukkan taringnya. Islam ingin mengembalikan kewibawaannya dengan cara
mengangkat senjata.
Rasul saw mengutus utusan ke Bani Nadhir dan memerintahkan
mereka untuk keluar dari Madinah, bahkan Rasul saw memberi waktu kepada mereka
hanya sepuluh hari. Kemudian orang-orang munafik yang ada di Madinah bersatu
bersama orang-orang Yahudi dan mereka sepakat untuk memerangi Islam. Namun
ketika berhadapan dengan Islam, orang-orang Yahudi menelan kekalahan. Kemudian
turunlah surah al-Hasyr yang menyebutkan pengusiran orang-orang Yahudi dan
menyingkap kedok orang-orang munafik. Setelah kemenangan yang meyakinkan ini,
Rasul saw keluar bersama sahabatnya untuk membalas kejadian yang menimpa
sahabat-sahabatnya yang dikenal dengan al-Qurra' itu. Rasul saw ingin
mengembalikan kewibawaan Islam. Kemudian pasukan Rasul saw itu mampu membuat
para pengkhianat dari orang-orang Arab ketakutan. Hanya sekadar mendengar nama
pasukan Muslim, maka serigala-serigala gurun yang dulu bengis itu pun ketakutan
laksana tikus-tikus yang panik yang bersembunyi di bawah lobang-lobang gunung.
Orang-orang Quraisy mendengar kegiatan pasukan Islam. Pasukan Quraisy menarik
diri saat mereka mendekati Dahran, sementara pasukan Muslim berada di Badar.
Mereka menunggu pertemuan yang disepakati di Uhud. Orang-orang Muslim
menyala-kan api selama delapan hari sebagai bentuk tantangan dan menunggu
kedatangan kaum kafir sehingga ketika mereka (kaum kafir) telah pergi, maka
citra kaum Muslim pun terangkat setelah mereka menerima kepahitan dalam
peperangan Uhud.
Kaum Muslim menoleh ke arah utara jazirah Arab setelah
menetapkan kewibawaan mereka di selatan. Kabilah di sekitar Daumatul Jandal
dekat dengan Syam merampok di tengah jalan dan merampas kafilah yang berlalu di
situ, bahkan kenekatan mereka sampai pada batas di mana mereka berpikir untuk
menyerbu Madinah. Oleh karena itu, Rasulullah saw keluar bersama seribu orang
Muslim yang mereka bersembunyi di waktu siang dan berjalan di waktu malam,
sehingga setelah lima belas malam beliau sampai ke tempat yang dekat dengan
tempat tinggal musuh-musuh mereka lalu mereka menggerebek tempat itu. Pasukan
kafir itu dikagetkan dengan kedatangan kaum Muslim yang begitu cepat.
Kita akan mengetahui bahwa alat komunikasi yang dimiliki
oleh Rasulullah saw sangat unggul sebagaimana alat pertahanan beliau pun sangat
unggul. Serangan mendadak yang dilakukan oleh pasukan Rasulullah saw
menunjukkan bahwa mereka memiliki pertahanan yang luar biasa. Sistem pertahanan
yang luar biasa sebagaimana kedatangan pasukan yang secara tiba-tiba itu
menunjukkan kemampuan pasukan Islam untuk menyusup.
Demikianlah, terjadilah hari-hari pertempuran militer. Belum
lama Nabi saw meletakkan baju besinya, dan beliau kembali membangun pribadi
kaum Muslim sehingga beliau terpaksa kembali memakai baju besinya dan kembali
berperang. Ketika musuh-musuh Islam yang berada di sekelilingnya melihat bahwa
kemampuan militer mereka tidak dapat menandingi kemampuan kaum Muslim, maka
mereka sengaja melakukan cara-cara baru untuk memerangi Islam. Yaitu peperangan
psikologis atau peperangan urat syaraf dengan cara menyebarkan berbagai macam
isu atau apa yang dinamakan Al-Qur'an al-Karim dengan peristiwa al-Ifik
(kebohongan). Setelah peperangan Bani Musthaliq yaitu peperangan yang membawa
kemenangan yang cepat bagi kaum Muslim, terjadilah kesalahpahaman dan
pertengkaran di antara sahabat-sahabat yang biasa mengambil air di mana salah
seorang mereka berteriak: "wahai kaum Muhajirin," dan yang lain
berteriak: "Wahai kaum Anshar."
Peristiwa yang sangat sepele itu dimanfaatkan oleh pemimpin
kaum munafik yaitu Abdullah bin Ubai. Abdullah bin Ubai memprovokasi
orang-orang Anshar untuk menyerang kaum Muhajirin. Ia ingin membangkitkan
luka-luka jahiliah yang lama yang telah dibuang dan telah dikubur oleh Islam,
Salah satu yang dikatakan oleh Ibnu Ubai adalah, "sungguh mereka telah
menyaingi kita dan mengambil kebaikan dari dan seandainya kita telah kembali ke
Madinah niscaya orang-orang yang mulai akan dapat mengusir orang-orang yang
hina di dalamnya."
Zaid bin Arqam menyampaikan kalimat si munafik itu kepada
Nabi saw, di mana kalimat itu berisi provokasi terhadap orang-orang Anshar
untuk menyerang kaum Muhajirin. Ubai menginginkan agar mereka berpecah belah
dan agar kesatuan mereka runtuh. Si Munafik itu segera datang kepada Rasul saw
dan menafikan apa yang dikatakannya. Orang-orang Muslim secara lahiriah
membenarkan perkataan si munafik itu dan mereka justru menuduh Zaid bin Arqam
salah mendengar. Tetapi hakikat peristiwa itu tidak tersembunyi dari Nabi saw
sehingga peristiwa itu sangat menyedihkan beliau. Lalu beliau mengeluarkan
perintah agar para sahabat pergi ke suatu tempat yang tidak biasanya mereka
lalui. Kemudian beliau pergi bersama sahabat di hari itu sampai waktu malam
menyelimuti mereka. Dan kini, mereka memasuki waktu pagi. Kepergian yang
singkat dan tiba-tiba itu mampu menepis kebohongan yang dirancang oleh si
Munafik, Abdullah bin Ubai. Yaitu kebohongan yang bertujuan untuk membakar
persatuan kaum Muslim ketika ia berusaha untuk menyalakan api di tengah-tengah
rumah sang Nabi saw.
Ketika Nabi masih memiliki kekuatan yang menakutkan bagi
yang mencoba melawannya, maka mereka pun melakukan berbagai penipuan dan,
makar. Dan salah satu yang menjadi obyek tipu daya itu adalah istri beliau,
yaitu Aisyah. Alkisah, Aisyah pada suatu hari pergi untuk memenuhi hajatnya
lalu dilehernya terdapat anting-anting. Setelah ia memenuhi hajatnya,
anting-anting itu terjatuh dari lehernya dan ia tidak mengetahui. Ketika Aisyah
kembali dari kafilah yang telah siap-siap untuk pergi, ia kembali mencari
kalungnya sampai ia menemukannya. Sementara itu orang-orang yang membawanya
dalam tandu (haudaj) mengira Aisyah sudah berada di dalamnya. Mereka tidak ragu
dalam hal itu karena memang berat badan Aisyah sangat ringan.
Pasukan Nabi berjalan dan membawa tandu, sedangkan Aisyah
tidak ada di dalamnya. Aisyah kembali dan tidak mendapati pasukan di mana
mereka telah pergi. Aisyah merasa heran atas kepergian pasukan yang begitu
cepat. Aisyah merasa takut saat ia berdiri sendirian di padang gurun. Aisyah
berusaha bersikap baik, ia duduk di tempatnya di mana di situlah untanya duduk
juga. Aisyah melipat-lipat pakaiannya sambil berkata dalam dirinya: Mereka akan
mengetahui bahwa aku tidak ada dan karena itu mereka akan kembali mencariku dan
akan menemukan aku.
Sementara itu, Sofwan bin Mu'athal juga tertinggal karena ia
melakukan keperluannya. Ia berjalan dari arah yang jauh lalu ia melihat
bayangan orang yang tidak begitu jelas. Sofwan mendekat dan tiba-tiba ia
mengetahui bahwa ia sedang berdiri di hadapan Aisyah. Ia melihat Aisyah sebelum
diwajibkannya perintah memakai hijab (jilbab) atas istri-istri Nabi. Ketika
melihatnya, Sofwan berkata: "Sesungguhnya kita milik Allah SWT dan
kepadanya kita akan kembali,... istri Rasulullah Aisyah tidak menjawab.
Sofwan mundur dan mendekatkan untanya kepadanya sambil
berkata: "Silakan Anda menaikinya." Aisyah pun menaikinya. Kemudian
Sofwan membawanya pergi dan mencari pasukan yang telah meninggalkannya.
Sementara itu, pasukan Nabi sedang beristirahat. Para sahabat mengira bahwa
Aisyah masih berada dalam tandu. Tiba-tiba mereka terkejut ketika Aisyah datang
kepada mereka bersama Sofwan yang menuntun untanya.
Tokoh munafik Abdullah bin Ubai segera memanfaatkan
kesempatan emas ini. Ia membuat kisah bohong yang terkesan menuduh istri Nabi
melakukan pengkhianatan. Abdullah bin Ubai pandai memilih beberapa sahabat yang
dikenalinya sebagai orang-orang yang mudah percaya dan cenderung membenarkan
hal-hal yang bersifat lahiriah, atau ia mengetahui bahwa di antara mereka dan
Aisyah terdapat kedengkian sehingga mereka suka jika tersebar kebohongan yang
berkenaan dengan Aisyah.
Demikianlah pemimpin munafik itu berhasil menjerat beberapa
sahabat dalam tali kebohongannya, di antaranya Hasan bin Sabit. Musthah, dan
seorang wanita yang dipanggil Hamnah binti Jahasv. yaitu saudara perempuan
Zainab binti Jahasy istri Rasulullah saw. Ketiga orang itu tertipu dengan
kebohongan tersebut lalu mereka menyebarkannya sehingga orang-orang yang
terjerat dalam kebo hongan itu mengatakan apa saja yang mereka inginkan.
Akhirnya. pasukan pun berguncang dengan isu itu. Sementara itu, Aisvah tidak
mengetahui sedikit pun tentang hal tersebut. Isu tersebut bertujuan untuk
menjatuhkan Islam dan melukai perasaan RasuhiHah saw dan itu termasuk
peperangan menentang Rasulullah saw dan ajaran yang dibawanya. Begitu juga ia
bertujuan menunjukkan bahwa kaum Muslim tidak konsekuen dengan akidah yang
mereka yakini dan secara tidak langsung ia juga menyerang kesucian rumah tangga
Aisyah.
Pasukan kembali ke Mekah dan Aisyah jatuh sakit, namun ia
tidak mengetahui isu-isu yang dikatakan tentang dirinya. Kemudian Rasulullah
saw mendengar hal itu sebagaimana ayahnya Abu Bakar dan ibunya pun
mendengarnya, namun tak seorang pun di antara. mereka yang memberitahu Aisyah.
Begitu juga Rasul saw tidak menceritakan peristiwa itu di hadapan Aisyah. Namun
sikap beliau berubah di mana beliau tidak lagi menunjukkan perhatiannya seperti
biasanya saat Aisyah sakit. Ketika beliau menemui Aisyah dan saat itu ibunya ada
di situ, beliau berkata: "Bagaimana keadaanmu?" Beliau tidak lebih
dari mengucapkan kata-kata itu. Ketika Aisyah melihat perubahan sikap Rasul
saw, ia mulai marah. Pada suatu hari ia berkata pada Nabi: "Seandainya
engkau mengizinkan aku, niscaya aku akan pindah ke tempat ibuku." Beliau
menjawab: "Itu tidak ada masalah."
Aisyah pun pindah ke tempat ibunya dan ia tidak mengetahui
sama sekali apa yang sebenarnya terjadi padanya. Setelah melalui lebih dari dua
puluh malam, Aisyah sembuh dari sakitnya dan ia pun belum mengetahui hal-hal
yang dikatakan tentang dirinya. Umul mu'minin Aisyah menceritakan bagaimana ia
mengetahui isu bohong tersebut dan bagaimana Allah SWT membebaskannya dari isu
itu, ia berkata: "Kami adalah kaum Arab di mana kami tidak mengambil di
rumah kami tanggung jawab ini yang biasa di ambil oleh orang-orang Ajam. Kami
membencinya. Kami keluar untuk menikmati keluasan kota. Sementara itu para
wanita keluar pada setiap malam untuk memenuhi hajat mereka. Pada suatu malam,
aku keluar bersama Ummu Musthah untuk memenuhi sebagian keperluanku. Lalu ia
berkata: "Tidakkah kau sudah mendengar suatu berita wahai putri Abu
Bakar?" Aku bertanya, "berita apa itu?" Lalu ia memberitahukan
padaku apa-apa yang dikatakan oleh para penyebar kebohongan. Aku berkata:
"Apa ini memang benar?" Ia menjawab: "Demi Allah, ini
benar-benar terjadi." Aisyah berkata: "Demi Allah, aku tidak mampu
memenuhi hajatku." lalu aku pulang. Demi Allah, aku tetap menangis
sampai-sampai aku mengira bahwa tangisanku akan merusak jantungku dan aku
berkata kepada ibuku, mudah-mudahan Allah SWT mengampunimu, banyak orang
berbicara tentangku namun engkau tidak menceritakan sedikit pun kepadaku. Ia
berkata: "Wahai anakku, sabarlah demi Allah jarang sekali wanita yang baik
yang dicintai oleh seorang lelaki yang jika ia memiliki istri-istri yang lain
(madunya) kecuali wanita itu akan diterpa oleh berbagai isu." Aisyah
berkata: "Rasulullah saw berdiri dan menyampaikan pembicaraannya pada
mereka dan aku tidak mengetahui hal itu." Beliau memuji Allah SWT kemudian
berkata: "Wahai manusia, bagaimana keadaan kaum lelaki yang menyakiti aku
melalui keluar gaku dan mereka mengatakan sesuatu yang tidak benar. Demi Allah,
aku tidak mengenal mereka kecuali dalam kebaikan. Lalu mereka mengatakan hal itu
pada seorang lelaki yang aku tidak mengenalnya kecuali dalam kebaikan di mana
ia tidak memasuki suatu rumah dari rumah-rumahku kecuali ia bersamaku."
Kemudian Rasulullah saw memanggil Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid dan
bermusyawarah dengan keduanya. Usamah hanya melontarkan pujian dan berkata:
"Ya Rasulullah aku tidak mengenal istrimu kecuali dalam kebaikan dan
berita ini hanya kebohongan dan kebatilan," sedangkan Ali berkata: 'Ya
Rasulullah masih banyak wanita yang lain yang dapat kau percaya." Kemudian
Rasulullah saw memanggil Burairah dan bertanya kepadanya, lalu Ali berdiri
kepadanya dan memukulnya dengan keras sambil berkata: "Jujurlah kepada
Rasulullah saw," lalu wanita itu berkata: "Demi Allah, aku tidak
mengetahui kecuali kebaikan. Aku tidak pemah mencela Aisyah kecuali pada suatu
waktu aku sedang membikin adonan roti lalu aku memerintahkannya untuk
menjaganya namun Aisyah tertidur dan datanglah kambing lalu adonan itu dimakan
olehnya."
Aisyah berkata: "Kemudian datanglah kepadaku Rasulullah
saw dan saat tu aku bersama kedua orang tuaku dan seorang wanita dari kaum
Anshar. Aku menangis dan wanita itu pun turut menangis. Rasulullah saw duduk
lalu memuji Allah SWT dan berkata: "Wahai Aisyah, sungguh kamu telah
mendengar sendiri apa yang dikatakan orang-orang tentang dirimu, maka
bertakwalah kepada Allah SWT dan jika engkau telah melakukan keburukan seperti
yang diucapkan orang-orang itu, maka bertaubatlah kepada Allah SWT karena
sesungguhnya Allah SWT menerima taubat dari hamba-hamba-Nya." Aisyah berkata,
"demi Allah, itu tidak lain hanya kebohongan yang dialamatkan kepadaku
sehingga membuat air mataku kering. Aku sama sekali tidak seperti yang mereka
katakan," lalu aku menunggu kedua orang tuaku untuk mengatakan tentang
diriku namun mereka justru terdiam. Aisyah berkata, "demi Allah aku merasa
sebagai seorang yang hina yang tidak layak diturunkan Al-Qur'an dari Allah SWT
berkenaan denganku, tetapi aku hanya berharap agar Nabi saw melihat kebohongan
yang dialamatkan kepadaku itu sehingga ia memastikan terbebasnya aku
darinya." Aisyah berkata: "Ketika aku tidak melihat kedua orang tuaku
berbicara aku berkata kepada mereka tidakkah kalian menjawab apa yang dikatakan
Rasuullah saw?" Mereka berkata: "Demi Allah kami tidak mengetahui apa
yang harus kami jawab." Aku mengetahui bahwa aku bebas dari tuduhan itu.
Tiba-tiba Rasulullah saw mengusap keringat dari wajahnya sambil berkata:
"Bergembiralah wahai Aisyah karena sesungguhnya Allah SWT telah menurunkan
ayat yang membebaskan kamu dari tuduhan itu," lalu aku berkata:
"Segala puji bagi Allah SWT." Kemudian beliau keluar menemui para
sahabat dan membacakan kepada mereka ayat berikut ini: "Sesungguhnya
orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga.
Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu. Tiap-tiap
seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa
di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita
bohong itu, maka baginya azab yang besar. " (QS. an-Nur: 11) Jibril turun
kepada Nabi saw untuk menyampaikan terbebasnya Aisyah dari segala tuduhan yang
ditujukan kepadanya. Dan gagallah peperangan psikologis menentang kaum Muslim
dan rumah tangga Rasulullah saw, dan kelompok-kelompok kafir meyakini bahwa
mereka harus menggunakan cara baru lagi untuk menentang Islam. Kemudian
Rasulullah saw kembali memasuki pergulatan menentang peperangan fisik. Peperang
Khandaq termasuk contoh peperangan fisik yang dilakukan oleh Rasulullah saw.
Orang-orang Yahudi menyerahkan urasan mereka kepada kaum musyrik, dan
Dimulailah rangkaian persekongkolan dan sumpah di antara tokoh-tokoh Yahudi dan
pemimpin-pemimpin kaum musyrik, bahkan pendeta-pendeta Yahudi berfatwa bahwa
agama Quraisy yang disimbolkan dengan penyembahan berhala lebih baik daripada
agama Muhammad yang penyembahan hanya layak ditujukan kepada Tuhan Yang Esa
sebagaimana tradisi jahiliah lebih baik daripada ajaran Al-Qur'an. Politik kaum
Yahudi berhasil menyatukan kelompok-kelompok orang kafir dan mengerahkannya
untuk menentang kaum Muslim. Kemudian mereka akan menyerang Madinah dengan
jumlah kekuatan sepuluh ribu tentara. Akhirnya, berita itu sampai ke Nabi saw.
Beliau tidak heran ketika mendengar orang-orang Yahudi bersatu—padahal mereka
mempunyai azas agama yang menyeru kepada tauhid—bersama kaum musyrik menentang
agama tauhid. Nabi saw mengetahui bahwa perjanjian telah lama membelenggu
orang-orang Yahudi sehingga hati mereka menjadi keras dan hari telah menjauhkan
antara mereka dan sumber yang jernih yang dipancarkan oleh Musa. Akhirnya,
mereka menjadi buah yang rusak yang kulitnya bergambar tauhid namun isinya
bergambar kepahitan syirik. Dan yang lebih penting dari itu adalah kesamaan
kepentingan kaum Yahudi dan kaum musyrik. Nabi saw menyadari bahwa beliau
sekarang menghadapi ancaman dan pasukan yang besar. Pertempuran secara terbuka
tidak memberi keuntungan bagi Muslimin. Beliau mulai berpikir bagaimana cara
mempertahankan Madinah tanpa harus keluar darinya. Kali ini taktik militernya
berubah di mana sebelum itu beliau keluar dari Madinah dan menjauhinya serta
menyerang kelompok-kelompok yang berencana menyerbu Madinah. Kali ini bentuk
ancaman berbeda dan tentu pikiran Nabi pun berubah karena mengikuti perbedaan
ancaman itu. Kemudian beliau mengadakan pertemuan militer bersama para
tentaranya. Beliau ingin mendengar berbagai usulan tentang bagaimana cara
mempertahankan Madinah. Lalu Salman al-Farisi mengusulkan agar Nabi menggali
suatu parit yang dalam di sekeliling Madinah yaitu parit yang seperti bendungan
alami yang dapat menahan laju banjir yang ingin maju, suatu parit yang pasukan
berkuda tidak akan mampu melewatinya dan kaum Muslim dapat mempertahankan diri
dari belakangnya. Mula-mula usulan itu terkesan agak mustahil diwujudkan namun
pada akhirnya Nabi menyetujui usulan Salman itu. Melalui sensifitas militernya
yang mengagumkan, beliau mengetahui bahwa situasi cukup genting dan karenanya
ia menuntut usaha keras untuk dapat melaluinya. Nabi saw memerintahkan para
sahabat untuk menggali parit di sekitar Madinah. Pekerjaan itu sangat berat dan
saat itu musim dingin di mana udara sangat dingin. Di samping itu, kaum Muslim
sedang mengalami krisis ekonomi yang mengancam Madinah, meskipun demikian,
penggalian parti tetap dilaksanakan, bahkan Rasulullah saw terjun langsung
untuk membuat galian dan memikul tanah. Kaum Muslim dengan semangat yang luar
biasa dapat menyelesaikan penggalian parit itu meskipun kehidupan sangat keras
dan mereka merasakan kelaparan karena kekurangan harta. Namun semangat pasukan
Islam tetap meninggi. Mereka percaya akan datangnya kemenangan dan pertolongan
dari Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
"Dan tatkala orang-orang mukmin melihat
golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: 'lnilah yang dijanjikan
Allah dan Rasul-Nya kepada kita.' Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang
demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan."
(QS. al-Ahzab: 22) Pasukan Quraisy mulai mendekati Madinah dan tiba-tiba
Madinah berubah menjadi jazirah cinta di tengah-tengah lautan kebencian, lautan
itu mulai menghantam jazirah dan berusaha menenggelamkannya dari dalam.
Kemudian bertebaranlah panah-panah kaum Muslim untuk menghalau pasukan kafir
yang cukup banyak. Pasukankafir mulai berputar-putar di sekeliling parit dalam
keadaan bingung: apa gerangan yang telah dilakukan pasukan Islam, bagaimana
mereka dapat menggali parit ini? Kuda-kuda musuh berusaha melalui parit itu
namun pasukan Muslim segera menyerangnya. Demikianlah peperangan Ahzab terus
berlangsung. Pada hakikatnya ia adalah peperangan urat syaraf. Pasukan musuh
mengepung Madinah selama tiga minggu di mana serangan demi serangan terus
dilakukan sepanjang siang dan mata mereka tetap terjaga sepanjang malam. Bahkan
saking dahsyatnya pertempuran itu sehingga kaum Muslim tidak mengetahui apakah
pasukan musuh berhasil menduduki Madinah atau tidak, dan apakah para musuh
berhasil menembus lubang yang mereka bangun? Allah SWT menggambarkan keadaan
peperangan Ahzab dalam firman-Nya: "(Yaitu) ketiha mereka datang kepadamu
dari atas dan dari bawahmu, dan ketiha tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan
hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah
dengan bermacam-macam persangkaan. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan
digoncangkan hatinya dengan goncangan yang dahysat." (QS. al-Ahzab: 10-11)
Keadaan semakin buruk di mana orang-orang Yahudi membatalkan perjanjian mereka
dengan kaum Muslim dan mereka bergabung dengan al-Ahzab. Demikianlah Bani
Quraizhah membatalkan perjanjiannya dan mereka lupa terhadap pengkhianatan bani
Nadhir dan pembalasan Nabi saw terhadap mereka. Setiap hari keadaan semakin
buruk. Kaum Muslim benar-benar mengalami ujian yang berat di mana pikiran
mereka benar-benar kacau. Ketika keadaan mencapai puncaknya kaum Muslim
bertanya kepada Rasul saw, "apa yang harus mereka katakan?"
Rasulullah saw memberitahu agar mereka mengatakan: "Ya Allah, kalahkanlah
mereka dan tolonglah kami untuk mengatasi mereka."
Doa tersebut keluar dari mulut-mulut kaum yang telah
melaksanakan kewajiban mereka dan telah membuat mukjizat mereka dalam menghalau
serangan. Jadi, mereka tidak memiliki apa-apa selain doa dan Allah SWT-lah Yang
Maha Mendengar permintaan hamba-Nya dan Dia yang mengabulkannya. Dia mengetahui
orang yang melaksanakan kewajibannya dan akan mengabulkan orang yang berdoa. Akhirnya,
kaum Muslim benar-benar mendapatkan rahmat Allah SWT. Kemudian perjalanan
pertempuran bergerak dengan cara yang tidak bisa dipahami. Para penyerang
menyadari bahwa mereka sebenamya telah kalah di mana mereka telah menyerang
selama tiga pekan namun serangan tersebut tidak memberikan hasil apa pun.
Mereka telah mencurahkan berbagai upaya namun tanpa memberikan hasil yang
diharapkan dan boleh jadi mereka akan tetap begini selama tiga tahun. Kemudian
datanglah suatu malam di mana kaum Muslim belum pernah melihat malam segelap
itu dan angin sekencang itu, bahkan saking kerasnya angin sampai-sampai
suaranya laksana halilintar. Bahkan saking gelapnya malam itu sehingga tak
seorang pun di antara umat Islam yang mampu melihat jari-jari tangannya atau
berdiri dari tempatnya karena saking dinginnya cuaca. Kemudian Nabi saw datang
menemui Hudaifah bin Yaman. Beliau tidak mampu melihatnya meskipun beliau
berdiri di sebelahnya. Nabi saw bertanya: "Siapa ini?" Hudaifah
menjawab: "Aku adalah Hudaifah." Nabi saw berkata: "Oh, kamu
Hudaifah." Hudaifah tetap tinggal di tempatnya karena ia khawatir jika ia
berdiri ia akan tidak mampu karena saking dinginnya dan akan menabrak Rasul
saw. Rasul saw berkata kepada Hudaifah, "Aku kehilangan berita penting
tentang keadaan kaum yang menyerang kita." Hudaifah sebagai mata-mata dari
pasukan Islam merasakan ketakutan di mana ia tidak mampu menahan cuaca yang
begitu dingin, lalu bagaimana ia dapat berdiri dan keluar dari Madinah menuju
ke tempat pasukan musuh dan menyusup di tengah barisan mereka lalu kembali
kepada Nabi saw dengan membawa berita tentang mereka. Hudaifah bangkit dari
tempatnya ketika Nabi saw selesai dari pembicaraannya. Nabi saw memberikan doa
kebaikan kepadanya. Hudaifah pun pergi dan kehangatan keimanannya mengalahkan
kegelapan malam dan kedinginan cuaca. Ia keluar dari Madinah dan menyusup di
tengah-tengah pasukan musuh. Nabi saw memerintahkannya untuk tidak melakukan
tindakan apa pun selain mendapatkan berita dan kembali. Inilah tugas utamanya.
Hudaifah sampai di tengah-tengah musuh. Mereka berusaha menyalakan api namun
angin segera mematikannya sebelum menyala dan di dekat api itu terdapat seorang
lelaki yang berdiri sambil mengulurkan tangannya ke arah api dengan maksud
untuk menghangatkannya. Lelaki itu adalah pemimpin kaum musyrik yaitu Abu
Sofyan. Melihat itu, Hudaifah segera memasang anak panah pada busur yang
dibawanya dan ia ingin memanahnya. Seandainya ia berhasil membunuhnya, maka
kaum Muslim dapat merasa tenang dengannya, namun ia ingat pesan Rasulullah saw
kepadanya agar ia tidak melakukan tindakan apa pun. Kemudian ia kembali
meletakkan anak panahnya dan menyembunyikannya. Abu Sofyan berkata: "Wahai
orang-orang Quraisy situasi saat ini tidak menguntungkan bagi kalian, maka
pergilah kalian karena aku pun akan pergi." Abu Sofyan melompat ke atas
untanya lalu mendudukinya dan memukulnya sehingga unta itu bangkit. Hudaifah
kembali menemui Rasulullah saw dengan membawa berita mundumya pasukan Ahzab dan
gagalnya serangan mereka. Ketika mendengar peristiwa penarikan mundur pasukan
musuh, Rasulullah saw berkata: "Sekarang kita akan menyerang mereka dan
mereka tidak akan menyerang kita." Belum lama pasukan Ahzab kembali ke
negerinya dengan tangan hampa sehingga beliau keluar dari Madinah bersama
pasukannya menuju ke kaum Yahudi Bani Quraizhah. Orang-orang Yahudi itu telah
mengkhianati peijanjian mereka bersama Nabi saw. Mereka menipu Islam di
saat-saat genting. Oleh karena itu, mereka harus membayar biaya pengkhianatan
mereka sekarang. Nabi saw memerintahkan agar para sahabat tidak melaksanakan
salat Ashar kecuali di Bani Quraizhah. Kaum Muslim memahami bahwa perintah
tersebut berarti mereka akan menerobos benteng kaum Yahudi sebelum matahari
tenggelam. Orang-orang Yahudi menelan kekalahan pahit lalu mereka datang kepada
Sa'ad bin Mu'ad agar ia memutuskan perkara mereka. Sa'ad adalah pemimpin kaum
Aus dan kaum Aus adalah sekutu orang-orang Yahudi Quraizhah di masa jahiliah.
Kaum Yahudi mengharap bahwa mereka dapat memanfaatkan hubungan yang terjalin
selama ini sebagaimana kaum Aus membayangkan bahwa tokoh mereka akan memberikan
keringanan terhadap sekutu-sekutu mereka. Sa'ad ketika itu terluka dan ia
sedang dirawat di kemahnya karena terkcna panah kauni Ahzab. Sebagian kaunmya
membujuknya agar ia bersikap baik terhadap orang-orang Yahudi, sekutu-sekutu
mereka, dan orang-orang Yahudi membujuknya agar ia bersikap lembut terhadap
mereka. Kemudian Sa'ad mengatakan pernyataannya yang terkenal: "Telah tiba
waktunya bagi Sa'ad untuk memutuskan hukum sesuai dengan kehendak Allah tanpa
peduli dengan celaan para pencela." Sa'ad memutuskan agar kaum lelaki
dibunuh dan keturunannya ditawan serta harta-harta mereka dibagi-bagikan. Nabi
pun menyetujui keputusan tegas Sa'ad itu. Beliau berkata kepadanya:
"Sungguh engkau telah memutuskan kepada mereka dengan keputusan Allah SWT
dari tujuh langit."
Sa'ad mengetahui bahwa perantaraan, permohonan, harapan, dan
menjaga berbagai pertimbangan lazim selayaknya berada di suatu genggaman, dan
masa depan Islam berada di genggaman yang lain. Yahudi Bani Quraizhah adalah
penyebab berkecamuknya peperangan Ahzab dan sumpah mereka dan berbagai tipu
daya mereka berusaha untuk memblokade Islam dan menghancurkannya. Oleh karena
itu, kini telah tiba saatnya untuk mencabut pohon-pohon beracun dari akarnya tanpa
memperdulikan kasih sayang. Demikianlah kaum Yahudi dibersihkan dari Madinah.
Nabi saw kembali melanjutkan pergulatannya. Puncak dari perjuangan politiknya
adalah perjanjian yang beliau lakukan bersama orang-orang Quraisy. Nabi saw
berjalan untuk melaksanakan umrah dan mengunjungi Baitul Haram. Beliau keluar
bersama seribu empat ratus kaum lelaki yang bertujuan untuk berziarah ke Baitul
Haram guna melaksanakan umrah. Ketika mereka sampai di Hudaibiyah pinggiran
kota Mekah, tiba-tiba unta yang ditunggangi Nabi duduk dan ia tidak mau
melangkah menuju Mekah. Melihat itu para sahabat berkata: "Oh unta itu
malas." Nabi saw berkata: "Tidak Demikian namun ia ditahan oleh Zat
yang menahan laju gajah menuju Mekah. Sungguh jika hari ini orang Quraisy
membuat suatu rencana dan mereka meminta agar aku menyambung tali silaturahmi
niscaya aku akan menyetujuinya." Nabi saw memerintahkan para sahabat agar
tetap tinggal di Hudaibiyah. Kaum Muslim beristirahat di sana dengan harapan
mereka dapat memasuki Mekah di waktu pagi. Peristiwa itu bertepatan dengan
bulan Haram. Mekah telah menetapkan agar tak seorang pun dari kaum Muslim dapat
memasukinya. Semua kaum Quraisy telah keluar untuk memerangi kaum Muslim.
Mereka mengutus utusan-utusan kepada Nabi saw lalu beliau memberitahu mereka
bahwa beliau tidak datang untuk berperang namun beliau ingin melakukan urnrah
sebagai bentuk pujian dan syukur kepada Allah SWT dan mengagumkan kemuliaan
rumah-Nya yang suci. Mekah menetapkan untuk melakukan perjanjian bersama kaum
Muslim di mana mereka menginginkan agar jangan sampai kaum Muslim memasuki
Baitul Haram pada tahun ini kecuali setelah mereka kembali pada tahun depan.
Datanglah juru runding kaum Quraisy lalu Rasul saw menyambutnya dan
mendengarkan ia menyampaikan syarat-syarat perjanjian yang intinya pelaksanaan
perdamaian dan penarikan mundur pasukan Muslim. Nabi saw menyetujui semua
syarat-syarat perjanjian meskipun tampak bahwa perjanjian tersebut tidak
menguntungkan kaum Muslim di mana itu dianggap sebagai titik kemunduran politik
dan militer kaum Muslim, dan yang menambah kebingungan kaum Muslim adalah bahwa
Rasul saw tidak melibatkan seseorang pun dari kalangan sahabatnya untuk
bermusyawarah dalam hal ini. Tidak biasanya beliau bersikap demikian. Para
sahabat menyaksikan beliau pergi menemui kaum musyrik dan bersikap sangat
lembut kepada mereka, dan beliau tidak kembali kecuali membawa berita
persetujuan dengan perjanjian yang di prakarsai orang-orang musyrik, dan beliau
pun membubuhkan tanda tangan di atasnya. Para sahabat bergerak untuk menentang
Rasulullah saw. Mereka bertanya kepada beliau, "bukankah engkau utusan
Allah SWT? Bukankah kita kaum Muslim? Bukankah musuh-musuh kita kaum
musyrik?" Nabi saw hanya mengiyakan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Umar
bin Khatab kembali bertanya: "Mengapa kita harus menerima penghinaan dalam
agama kita?" Umar ingin mengungkapkan sesuai dengan bahasa kita saat ini,
"mengapa kita harus mundur kalau kita berada di atas kebenaran? Mengapa
kita menerima syarat-syarat perjanjian yang justru menguntungkan kaum musyrik?
Apakah kita takut terhadap mereka?" Mendengar berbagai protes yang
disampaikan para sahabatnya, Rasul saw justru menyampaikan jawaban yang unik
bagi mereka di mana beliau berkata: "Aku adalah hamba Allah SWT dan
Rasul-Nya dan aku tidak mungkin menentang perintah-Nya dan Dia tidak mungkin
akan menyia-nyiakan aku." Makna dari kalimat beliau adalah, "taatilah
apa yang telah aku lakukan tanpa perlu memperdebatkannya dan hendaklah kalian
sedikit bersabar." Perjalanan hari menetapkan bahwa perjanjian yang
menimbulkan pro dan kontra di tengah-tengah sahabat itu justru membawa
kemenangan politik paling gemilang yang pernah dicapai oleh umat Islam.
Kemenangan tersebut diperoleh sebagai hasil dari kebijaksanaan sang Nabi saw
yang mengalahkan kelihaian politik kaum Quraisy. Kaum Quraisy telah memfokuskan
semua kelihaian-nya agar kaum Muslim kembali ke tempat mereka tanpa memasuki
Masjidil Haram pada tahun ini, namun hikmah Nabi saw justru mampu mencapai
pengelihatan yang tidak dapat dijangkau oleh kaum itu yang berkenaan dengan
masa depan. Jika saat ini perjanjian tersebut tampak membawa kekalahan bagi
kaum Muslim, maka setelah berlangsung beberapa bulan ia justru mendatangkan
kemenangan yang spektakuler. Suhail bin Amr adalah wakil dari delegasi kaum Quraisy
dan Ali bin Abi Thalib adalah juru tulis dalam perjanjian itu dari pihak Nabi
saw. Rasulullah saw berkata kepada Ali: "Tulislah dengan nama Allah Yang
Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." Utusan Quraisy berkata, aku tidak
mengenal ini. Tapi tulislah dengan nama-Mu, ya Allah. Rasulullah saw berkata
kepada Ali: "Dengan nama-Mu, ya Allah." Sikap keras kepala utusan
Quraisy itu tidak berarti sama sekali karena tidak ada perbedaan yang mencolok
antara dengan namamu Allah dan dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang selain niat si pembicara.
Nabi saw berkata kepada Ali: "Ini adalah perundingan
antara Muhammad saw utusan Allah dan Suhail bin Amr." Mendengar itu dengan
nada menentang Suhail bin Amr berkata: "Seandainya aku bersaksi bahwa
engkau adalah utusan Allah niscaya aku tidak akan memerangimu, tetapi tulislah
namamu dan nama ayahmu." Nabi berkata kepada Ali tulislah: "Inilah
kesepakatan antara Muhammad bin Abdillah dan Suhail bin Amr." Tampaknya
itu adalah kemunduran yang kedua dan dengan pandangan yang sekilas tampak
menjatuhkan kaum Muslim tetapi Nabi saw ingin mewujudkan suatu tujuan yang
penting yaitu tujuan yang belum terungkap saat itu. Alhasil, semuanya terjadi
dengan ilham dari Allah SWT. Ali kembali menulis bahwa Muhammad bin Abdillah
dan Suhail bin Amr sama-sama sepakat untuk menghentikan peperangan selama
sepuluh tahun di mana hendaklah masing-masing mereka memberikan keamanan
terhadap sesama mereka. Namun jika terdapat di antara orangorang Quraisy
seseorang yang masuk Islam lalu ia datang kepada Muhammad saw tanpa izin
walinya hendaklah kaum Muslim mengembalikannya kepada kaum Quraisy. Sebaliknya,
jika ada orang yang murtad dari sahabat Muhammad saw, maka tidak ada keharusan
bagi orang Quraisy untuk mengembalikannya kepada Nabi. Syarat tersebut sangat
menyakitkan kaum Muslim. Tampak bahwa orang-orang Quraisy memaksakan
kehendaknya dalam syarat-syarat perjanjian yang tidak adil itu. Ali melanjutkan
tulisannya, hendaklah Nabi saw pulang dari Mekah pada tahun ini dan tidak
memasukinya dan jika pada tahun depan orang-orang Quraisy keluar darinya, maka
beliau dapat memasukinya untuk melaksanakan umrah selama tiga hari dan setelah
itu beliau harus meninggalkannya. Persyaratan tersebut sangat merugikan kaum
Muslim dan terkesan membingungkan. Di tengah-tengah perjanjian tersebut terjadi
suatu peristiwa yang menambah penderitaan dan kebingungan Muslimin di mana anak
dari juru runding Quraisy meminta perlindungan kepada kaum Muslim. Ia masuk
Islam dan ingin bergabung dengan kelompok Islam namun ayahnya, Suhail segera
bangkit menyusulnya bahkan memukulnya dan mengembalikannya kepada kaumnya.
Orang Mukalaf itu segera berteriak dan meminta pertolongan kepada kaum Muslim
agar mereka menyelamatkannya dari kejahatan kaum Quraisy sehingga mereka tidak
mengubah agamanya. Rasulullah saw berbicara kepadanya dan meminta kepadanya
untuk bersabar dan tegar dalam menanggung penderitaan karena Allah SWT akan
menjadikannya dan orang-orang yang sepertinya suatu jalan keluar dan
kelapangan. Nabi memahamkannya bahwa beliau telah mengadakan suatu peijanjian
dengan kaum Quraisy dan bahwa kaum Muslim tidak mungkin melanggar perjanjian
mereka. Akhirnya, anak Muslim itu dikembalikan ke Mekah dalam keadaan tersiksa.
Kemudian Selesailah penandatanganan perjanjian antara pihak kaum Muslim dan
pihak kaum musyrik. Setelah penandatanganan perjanjian itu, Rasulullah saw
memerintahkan para sahabatnya agar mereka memotong hewan kurban dan mencukur
rambut mereka (tahalul) dari umrah mereka dan kembali ke Madinah. Namun tak
seorang pun bangkit menyambut perintah tersebut, lalu beliau mengulangi
perintahnya ketiga kali. Di tengah-tengah kaum Muslim yang tampak membisu
karena ketegangan dan kesedihan, beliau menyembelih unta dan memanggil tukang
cukurnya untuk mencukur rambutnya dan beliau tidak berbicara dengan seorang
pun. Ketika para sahabat mengetahui bahwa Nabi saw tampak marah dan telah
mendahului mereka dengan tahalul dari umrahnya, maka mereka bangkit untuk
menyembelih kurban dan memotong rambut mereka. Perjalanan hari menunjukkan
bahwa perundingan tersebut tidak seperti yang dibayangkan oleh kaum Muslim. Ia
justru membawa kemenangan dan bukan kekalahan. Persatuan kaum kafir di jazirah
Arab mulai runtuh sejak mereka menandatangani perjanjian itu. Kaum Quraisy di
anggap sebagai pimpinan kaum kafir dan pembawa bendera penentangan terhadap
Islam, maka ketika tersebar berita perjanjian mereka bersama kaum Muslim, maka
padamlah fitnah-fitnah kaum munafik yang bekerja untuk mereka dan
bercerai-berAllah kabilah-kabilah penyembah patung di penjuru jazirah.
Saat aktivitas kaum Quraisy terhenti, maka kaum Muslim
mengalami peningkatan aktivitas di mana mereka berhasil menarik orang-orang
yang masih memiliki kemampuan untuk melihat kebenaran. Sejak dua tahun dari
masa penandatanganan perjanjian itu jumlah penganut Islam semakin bertambah
lebih dari jumlah sebelumnya. Bukti dari itu adalah, bahwa saat Rasul saw
keluar ke Hudaibiyah beliau ditemani dengan seribu empat ratus Muslim namun
ketika beliau keluar pada tahun penaklukan kota Mekah beliau disertai dengan
sepuluh ribu Muslim. Penaklukan kota Mekah terjadi setelah dua tahun dari
perundingan tersebut. Penambahan jumlah kaum Muslim yang luar biasa ini adalah
dikarenakan hikmah sang Nabi saw dan kejauhan pandangannya. Nabi saw keluar
sebagai pemenang dalam pergulatan politiknya, dan syarat-syarat yang tadinya
merugikan kaum Muslim kini telah berubah menjadi syarat-syarat yang merugikan
kaum Quraisy. Barangsiapa murtad dari kaum Muslim dan pergi ke kaum Quraisy,
maka hendaklah mereka melindunginya karena Allah SWT telah memampukan Islam
darinya, dan barangsiapa yang masuk Islam dari kaum kafir dan pergi ke kaum
Muslim, maka hendaklah mereka mengembalikannya ke kaum Quraisy di mana ia
tinggal di dalamnya sebagai mata-mata dari pihak Islam atau ia dapat lari dari
kaum Quraisy untuk menyatukan kelompok yang bertikai dan ia dapat hidup laksana
duri di tengah-tengah kaum Quraisy. Belum lama waktu berjalan sehingga kaum
Quraisy mengutus utusannya kepada Nabi saw dan mengharap kepada beliau agar
melindungi orang Quraisy yang masuk Islam daripada membiarkan mereka sebagai
panah yang terbang menuju kaum Quraisy. Demikianlah kaum Quraisy justru
membatalkan syarat yang telah mereka diktekan dan Nabi saw pun menerimanya
dengan puas. Perundingan itu justru menguatkan barisan Nabi savv. Demikianlah
Nabi saw terus menjalani mata rantai pergulatan yang tiada henti-hentinya di
mana kehidupan beliau yang pribadi sekali pun tidak sunyi dari penderitaan.
Nabi saw menikahi sembilan orang istri. Perkawinan beliau dengan sembilan istri
tersebut merupakan keistimewaan pribadi yang hanya beliau miliki karena
berhubungan dengan sebab-sebab dakwah Islam. Yaitu suatu dakwah yang
membolehkan para pengikutnya untuk menikahi empat orang istri dengan syarat
jika yang bersangkutan mampu menciptakan keadilan di antara mereka, dan ia
menganjurkan untuk hanya puas dengan satu istri jika seorang Muslim khawatir
tidak dapat berbuat adil. Kaum orentalis dan musuh-musuh Islam mencoba untuk
menghina Nabi dan memojokkannya, dan salah satu cela yang mereka manfaatkan
adalah perkawinan beliau dengan sembilan wanita. Kita mengetahui bahwa
pernikahan-pernikahan beliau terlaksana dengan sebab-sebab politik atau
kemanusiaan yang berhubungan dengan dakwah Islam. Dan yang terkenal dari
sejarah Nabi saw adalah bahwa beliau menikah dengan Sayidah Khadijah saat
beliau berusia dua puluh lima tahun dan Khadijah berusia empat puluh tahun.
Semasa hidup Khadijah beliau tidak menikahi istri yang lain sampai Khadijah
mencapai usia enam puluh lima tahun. Saat Khadijah meninggal, Nabi berusia di
atas lima puluh tahun. Beliau menikahi Khadijah sebelum beliau diutus untuk
menyebarkan Islam. Beliau tetap setia bersama Khadijah sampai ia meninggal dan
beliau diangkat menjadi Nabi. Namun beban kenabian dan beratnya jihad, kasih
sayangnya kepada manusia, pengorbanannya terhadap Islam dan perintah Allah SWT
semua itu memaksanya untuk menikah lebih dari satu orang istri sampai mencapai
sembilan orang istri. Perkawinan beliau dengan Aisyah yang saat itu masih belia
merupakan usaha untuk menjalin ikatan dengan Abu Bakar, ayah dari Aisyah dan
perkawinan beliau dengan Hafshah meskipun ia sedikit kurang cantik merupakan
usaha beliau untuk menjalin ikatan dengan Umar, ayahnya. Beliau juga menikah
dengan Ummu Salamah, janda dari pemimpin pasukannya yang mati syahid di jalan
Allah SWT dan wanita itu merasakan penderitaan bersama beliau saat hijrah di
Habasyah dan hijrah ke Madinah. Ketika suaminya meninggal dan ia sendirian
menghadapi berbagai persoalan kehidupan, maka Nabi saw segera merangkulnya di
rumah kenabian. Perkavvinan beliau dengan Sawadah sebagai bentuk penghormatan
terhadap keislaman wanita itu dan kemuliannya dari kaum lelaki serta
kesendiriannya dalam menjalani kehidupan. Sementara itu, pernikahan beliau
dengan Zainab bin Jahasy merupakan ujian berat bagi beliau di mana perintah
pernikahan itu datang dari Allah SWT untuk mengharamkan suatu tradisi yang
terkenal di kalangan jahiliah yaitu tradisi adopsi. Zainab termasuk kerabat
Rasul. Jadi ia termasuk dari kalangan bani Hasyim. Ia merasa bangga dengan
nasab yang dimilikinya yang karenanya ia menolak ketika ditawari untuk menikah
dengan Zaid bin Harisah, seorang budak Nabi yang telah beliau bebaskan, bahkan
nasabnya telah beliau nisbatkan kepada dirinya dan beliau telah mengadopsinya
sehingga ia dipanggil dengan sebutan Zaid bin Muhammad. Namun Zainab akhirnya
menyetujui pendapat Nabi dan perintah Allah SWT sehingga ia menikah dengan
Zaid:
"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan
tidak pula bagi perempuan yang mukimin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah
menetaphan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang
urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhahai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh
dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata. " (QS. al-Ahzab: 36) Sejak
semula tampak jelas bahwa pernikahan tersebut akan segera berakhir. Zainab
tidak menyukai Zaid dan Zaid pun bukan tipe lelaki yang mampu menahan kehidupan
bersama seorang wanita yang hatinya jauh darinya. Zaid datang kepada Nabi saw
guna mengadu kepada beliau dan meminta izin untuk menceraikan istrinya. Allah
SWT mewahyukan kepada Rasul-Nya agar membiarkan Zaid menceraikan istrinya, lalu
hendaklah beliau menikahinya. Nabi saw merasakan kesulitan yang luar biasa dan
beliau berbicara kepada Zaid agar ia terus melangsungkan kehidupannya dan
bersabar. Nabi saw membayangkan apa yang dikatakan manusia kepadanya bahwa ia
menikahi istri dari anaknya tetapi apa yang dikhawatirkan oleh Nabi saw justru
merupakan sesuatu yang ingin dihapus oleh Allah SWT. Zaid bukanlah anaknya dan
dalam Islam tidak ada sistem adopsi. Oleh karena itu, Zaid dapat mencerai
istrinya lalu Nabi dapat menikahi Zainab untuk menetapkan apa yang diinginkan
oleh Islam. Rasulullah saw mampu bersabar dan menahan diri saat mendengar
berbagai ocehan yang akan dikatakan oleh manusia kepadanya. Ini bukanlah
pengorbanan pertama dan terakhir yang beliau persembahkan untuk Islam.
Berkenaan dengan itu, Allah SWT berfirman: "Dan (ingatlah), ketika kamu
berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu
(juga) telah memberi nikmat kepadanya: 'Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah
kepada Allah,' sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan
menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berrhak
kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya
(menceraikannya), Kami nikahkan kamu dengan dia supaya tidak ada heberatan bagi
orang-orang mukmin untuk (menikahi) istri-istri anak-anak angkat mereka,
apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya dari istrinya.
Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi. " (QS. al-Ahzab: 37)
Pemikahan beliau dipenuhi dengan unsur politik dan usaha untuk menyebarkan
kebaikan dan rahmat serta penghormatan nilai-nilai yang tinggi dan
menggabungkannya di rumah kenabian. Sementara itu, Ummu Habibah binti Abu
Sofyan bin Harb, pemimpin Quraisy dalam memerangi Islam, berhijrah bersama
suaminya ke Habasyah. Ia berhadapan dengan keterasingan dan kekhawatiran dalam
membela agama Allah SWT. Kemudian suaminya mati meninggalkannya sendirian dalam
menjalani kehidupan. Sikapnya yang mulia demi menegakkan ajaran Islam dan hanya
menentang ayahnya merupakan nilai lebih yang menyebabkan Rasulullah saw
tertarik untuk menggabungkannya di rumah kenabian. Pada suatu hari, Abu Sofyan
menemuinya saat ia telah menjadi istri Rasulullah saw. Abu Sofyan ingin duduk
di atas tempat tidur Nabi lalu Ummu Habibah berusaha menjauhkan tempt tidur itu
dari ayahnya. Melihat sikap anaknya itu, ayahnya bertanya kepadanya:
"Apakah engkau mulai membenciku?" Dengan penuh keberaniaan ia
menjawab: "Ini adalah tempat tidur Rasulullah saw dan engkau adalah
seorang musyrik, maka engkau tidak boleh menyentuhnya." Adapun Shofiyah
binti Huyay adalah anak seorang raja Yahudi. Sedangkan Juwairiyah binti Haris,
ayahnya seorang pemimpin kabilah Bani Musthaliq. Bani Musthaliq menelan
kekalahan saat berhadapan dengan kaum muslim lalu kedua anak perempuan raja dan
pemimpin kabilah itu jatuh menjadi tawanan. Pemikahan Nabi dengan kedua wanita
itu terkesan dipaksa oleh orang-orang yang kalah itu dan sebagai ajakan agar
kaum Muslim memperlakukan mereka dengan baik. Mula-mula kaum Muslim menolak
untuk bersikap lembut terhadap ipar-ipar Nabi, namun Nabi dengan kelembutan
sikapnya ingin menyingkap aspek kemanusiaan dalam peperangannya dan beliau
mengisyaratkan kepada kaum Muslim agar mereka menunjukkan persaudaraan sesama
manusia. Peperangan itu sendiri bukan sebagai tujuan namun ia sebagai usaha
mempertahankan Islam dan aspek tertinggi dari Islam adalah rahmat dan cinta.
Jadi Nabi saw menikahi wanita-wanita dari orang-orang yang kalah itu dengan
maksud agar kebebasan dan kemuliaan kembali kepada keluarga mereka dan mereka
dapat masuk Islam secara puas dan sukarela. Kemudian beliau menikah dengan
Maryam al-Qibtiyah. Muqauqis telah memberikannya kepada Nabi sebagai budak di
mana itu merupakan simbol tali kasih yang diisyaratkan oleh Al-Qur'an antara
Islam dan Masehi dan sebagai bentuk hukum bagi kaum Muslim dengan dihalalkannya
pernikahan dengan wanita-wanita ahlul kitab. Maryam memberikan anak kepada Nabi
saw yang bernama Ibrahim, nama dari kakeknya, bapak para nabi. Namun Ibrahim
tidak hidup lama. Ia meninggal saat masih menyusu. Kematiannya merupakan ujian
bagi Nabi dan sebagai isyarat dari Ilahi bahwa pewaris-pewaris Rasul dari kaum
pria adalah para pengikut Al-Qur'an dan para pembawa Islam, bukan anak-anak
dari sulbinya. Salah jika ada orang yang membayangkan bahwa Rasul saw mempunyai
banyak waktu untuk mencari kesenangan meskipun halal. Kesenangan diperbolehkan
bagi orang lain namun beliau lebih memilih untuk merasakan penderitaan
berjihad, menegakkan hukum, dan kesabaran. Salah jika ada orang yang
membayangkan bahwa Rasul saw hidup di rumahnya dengan keadaan ekonomi yang
lebih baik daripada orang yang termiskin dari kalangan Muslim di zamannya.
Kehidupan beliau di rumahnya penuh dengan kezuhudan yang luar biasa sehingga
sebagian istrinya mengeluhkan keadaan tersebut. Di antara mereka ada yang
berasal dari keluarga yang kaya seperti keluarga Abu Bakar atau keluarga Umar
bahkan sebagian istrinya bersatu untuk meminta kepada beliau agar beliau
menambah nafkah mereka sehingga Nabi meninggalkan istri-istrinya, lalu
tersebarlah isu yang menyatakan bahwa beliau telah menceraikan semua istrinya.
Kemudian turunlah ayat Takhyir (yaitu ayat yang memberikan pilihan kepada
istri-istri Nabi untuk tetap menjadi istri beliau atau diceraikannya). Turunlah
Al-Qur'an al-Karim memberikan pilihan pada istri-istri Nabi antara menjalani
kehidupan di rumah kenabian dengan penuh kesederhanaan atau menerima
perceraian. Allah SWT berfirman: "Hai Nabi, katakanlah kepada
istri-istrimu: 'Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya,
maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut'ah dan aku ceraikan kamu dengan cara
yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya
serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka Sesungguhnya Allah menyediakan siapa
yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar. " (QS. al-Ahzab: 28-29)
Selesailah fitnah. Demikianlah pergulatan di rumah Rasul saw. Akhirnya,
istri-istri beliau memilih kehidupan zuhud dan bersabar serta akhirat daripada
kehidupan dunia. Permintaan istri-istri nabi tidak melebihi hal-hal yang
bersifat mubah, namun Rasul saw merupakan teladan bagi seluruh umat, karena itu
beliau harus menjadi teladan bagi umat sehingga beliau dapat menjadi cermin
tertinggi yang layak diemban oleh seorang yang memegang tampuk kepemimpinan
Muslimin. Allah SWT telah membalas pengorbanan istri-istri Nabi saw dalam bentuk
mengangkat kedudukan mereka dan menjadikan mereka sebagai ibu dari kaum mukmin.
Allah SWT berfirman:
"Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang
mukmin dari diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka."
(QS. al-Ahzab: 6) Dan, sebagai penegasan terhadap keibuan spiritual ini, Islam
mewajibkan hijab yang teliti kepada mereka, yaitu suatu hijab yang tidak
diberlakukan seperti itu kepada Muslimah-Muslimah lain. Nabi saw melanjutkan
dakwahnya. Beliau mengirim surat ke raja-raja dan para penguasa di mana beliau
ingin menunjukkan universalitas ajaran Islam. Nabi saw mengajak Kaisar Romawi
untuk mengikuti Islam, lalu beliau mengirim utusan ke Amir Damaskus mengajaknya
untuk memeluk Islam, dan beliau mengutus utusan ke Amir Basrah bagian dari
wilayah Romawi dan mengajaknya untuk mengikuti Islam, dan beliau juga mengirim
surat ke penguasa Qibti dan mengajaknya untuk masuk Islam, dan beliau juga
menulis surat ke Kisra, Raja Persia dan mengajaknya untuk mengikuti Islam.
Beliau juga mengirim utusan ke Amir Bahrain dan mengajaknya untuk mengikuti
Islam. Lalu berbagai reaksi disampaikan berkenaan dengan surat-surat Nabi itu.
Di antara mereka ada yang berusaha menyampaikan kepada pembawa surat bahwa ia
masuk Islam dan mengembalikannya dengan hadiah, dan di antara mereka ada yang
merobek-robek surat itu dan di antara mereka ada yang membalas surat itu dengan
jawaban yang baik, dan di antara mereka ada yang menerima kebenaran.
Demikianlah hari berlalu dalam pergulatan yang tidak pernah padam, suatu pergulatan
yang dipimpin oleh Nabi sehingga beliau menaklukkan Mekah dan menyucikan
jazirah Arab. Akhirnya, manusia masuk dalam agama Allah SWT dalam keadaan
berbondong-bodong, dan Allah SWT menyempurnakan agama bagi kaum Muslim dan Nabi
saw melaksanakan haji wada' (haji yang terakhir) dan turunlah kepada beliau
wahyu di Arafah sebagaimana firman-Nya: "Pada hari ini telah
Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku,
dan telah Ku-ridhai Islam itujadi agama bagimu. " (QS. al-Maidah: 3) Ayat
tersebut dibacakan kepada Abu Bakar sehingga ia menangis. Allah SWT merasa
bahwa telah tiba waktunya untuk mengakhiri misi Rasul-Nya. Aisyah berkata
kepada anak-anak yang berteriak dan bermain-main di luar rumah: "Diamlah
kalian karena Rasulullah saw sedang sakit." Anak-anak itu pun terdiam dan
mereka merasakan ketakutan yang luar biasa. Pada hari-hari terakhir, Rasulullah
saw tidak lagi bercanda dengan mereka sebagaimana yang biasa beliau lakukan.
Mereka memperhatikan bahwa kepucatan yang aneh menyelimuti Nabi saw yang
biasanya wajah beliau dipenuhi dengan senyuman hingga wajahnya laksana
lempengan emas. Nabi saw yang terakhir masuk dalam rumahnya dan hampir saja
beliau tidak kuat menahan langkah kedua kakinya. Beliau memasuki rumahnya dan
bersandar kepada tangan Fadl bin Abbas dan Ali bin Abu Thalib. Beliau merasakan
keletihan dan kesakitan. Kemudian Aisyah menidurkan beliau di atas ranjangnya
yang kasar dan Aisyah meletakkan tangannya di atas kening beliau. Kepala beliau
tampak panas karena saking hebatnya demam. Aisyah berkata dalam keadaan kedua
matanya mengucurkan air mata, "demi ayah dan ibuku, ya Rasulullah apakah
engkau merasakan sakit?" Nabi saw tersenyum untuk menenangkan Aisyah lalu
beliau tertidur. Kemudian mengalirlah dalam memori Nabi saw berbagai gambar
hidup: Jibril turun kepada beliau dengan membawa wahyu di gua Hira. Beliau
telah melewati waktu yang diberkati selama dua puluh tiga tahun, yang sekarang
tampak seperti mimpi. Bahkan empat puluh tahun yang mendahuluinya tampak seperti
gambar yang hanya dilukis sesaat. Segala sesuatu menjadi mudah bagi Allah SWT
dan Rasulullah saw telah berhasil melalui berbagai penderitaan dengan penuh
kesabaran, bahkan beliau tidak pernah mengeluh sekali pun. Beliau mengajarkan
akidah kepada para pengikutnya dengan penuh kemantapan. Akhirnya, Islam menjadi
mulia dan benderanya semakin berkibar. Kemudian beliau bangun karena melihat
tangisan yang tersembunyi dari Aisyah. Beliau membuka kedua matanya dan melihat
wajah Aisyah sambil beliau sendiri berusaha melawan rasa pusing, demam, dan
sakit yang dirasakannya. Beliau kembali tersenyum untuk menenangkan Aisyah dan
beliau kembali memejamkan matanya dan tidak sadarkan diri. Apa gerangan yang
menyebabkan Aisyah menangis? Tidakkah Allah SWT memahkotai jihad Nabi saw yang
berat dengan penaklukan Mekah dan penyucian Baitul Haram? Berbagai gambar hidup
dan aktual melayang-layang dalam memori Nabi saw. Beliau mengingat bagaimana
tindakan orang Quraisy ketika membantalkan perjanjian Hudaibiyah dan mereka
memerangi Khaza'ah yang saat itu bersekutu dengan kaum Muslim dan akhirnya
mereka membunuh semua sekutu kaum Muslim di Baitul Haram. Kemudian beliau
berjalan bersama pasukan yang berjumlah sepuluh ribu di mana semua pasukan
telah siap, dan tentara Muslim turun dari gunung Mekah laksana air bah yang
tidak berhenti sedikit pun. Telah lewatlah masa para pembawa tombak, panah, dan
pedang; telah lewatiah masa di mana Rasulullah saw memimpim pasukan yang di
dalamnya terdapat kaum Muhajirin dan Anshar. Di tengah-tengah pasukan besar
tersebut yang berhasil menaklukkan Mekah, Nabi saw menunggangi untanya dan
beliau menundukkan kepalanya dengan penuh rendah diri di hadapan Allah SWT
sampai-sampai kepalanya hampir menyentuh punggung unta yang dinaiki. Pintu
Mekah terbuka untuk pasukan ini. Para pemimpin Mekah dan pengikut-pengikut
mereka menyerahkan diri. Kalimat Allah SWT semakin meninggi di dalamnya. Nabi
saw memasuki Baitul Haram lalu beliau berkeliling di sekitar Ka'bah. Beliau
menghancurkan berbagai patung yang berbaris di sekitarnya, lalu beliau
memukulnya dengan kampaknya. Kemudian patung-patung itu berjatuhan dan hancur.
Setelah beliau membersihkan masjid dari berbagai patung dan mengembalikannya
sebagaimana yang diciptakan oleh Allah SWT sebagai rumah tauhid yang mutlak,
beliau menoleh kepada orang Quraisy dan memaafkan mereka dan mengajak mereka
untuk kembali ke jalan Allah SWT. Kemudian tibalah waktu salat, lalu Bilal naik
di atas punggung Ka'bah dan mengumandangkan Azan. Penduduk Mekah mende-ngarkan
panggilan baru ini di mana gemanya berputar-putar di antara gunung:
"Allah Maha Besar. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan
selain Allah. Aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah. Marilah melaksanakan
salat. Marilah menuju keberuntungan. Allah Maha Besar. Tiada Tuhan selain
Allah." Akhirnya, rumah itu dikembalikan kehormatannya dan kemuliannya.
Kemudian lagi-lagi arus berbagai gambar terlintas dalam memorinya: itulah
peperangan Hunain dengan kekalahannya, kemenangannya, dan ganimahnya; Itulah
Nabi saw yang memberikan ganimah terhadap orang-orang yang bergabung dengan
Islam hanya dua hari dari penduduk Mekah, dan mencegah untuk memberi ganimah
Hunaian kepada kaum Anshar yang telah memberikan segalanya untuk Islam. Salah
seorang di antara mereka berkata: "Demi Allah, Rasulullah saw telah
menemui kaumnya." Sa'ad bin 'Ubadah berjalan ke arah Rasulullah saw dan
memberitahunya bahwa kaum Anshar sedang marah. Rasul saw bertanya:
"Mengapa marah?" Sa'ad menjawab: "Mereka protes saat engkau
membagikan ganimah ini pada kaummu dan pada seluruh orang Arab namun mereka
tidak mendapatkan apa-apa." Rasulullah saw bertanya kepada Sa'ad bin
Ubadah: "Kamu sendiri bagaimana pendapatmu wahai Sa'ad?" Sa'ad
berkata: "Aku tidak lain kecuali seseorang dari kaumku." Rasulullah
saw berkata: "Kumpulkanlah kepadaku kaummu untuk masalah yang penting ini
dan jika kalian telah berkumpul, maka beritahulah aku." Sa'ad mengumpulkan
seluruh kaum Anshar lalu ia memberitahu Rasul saw bahwa ia telah mengumpulkan
mereka. Rasulullah saw keluar menemui mereka dan berdiri di hadapan mereka
sambil memuji Allah SWT dan kemudian berkata: "Wahai orang-orang Anshar,
tidakkah aku datang kepada kalian saat kalian dalam keadaan sesat lalu Allah
SWT memberikan petunjuk kepada kalian, dan kalian menjadi orang-orang yang
fakir lalu Allah SWT memampukan kalian, dan kalian dalam keadaan bermusuhan
lalu Allah SWT menyatukan hati kalian?" Mereka menjawab:
"Benar." Rasulullah saw berkata: "Mengapa kalian tidak menjawab
wahai kaum Anshar?" Mereka berkata: "Apa yang kita akan katakan wahai
Rasulullah dan dengan apa kita akan menjawabnya. Sungguh segala karunia hanya
milik Allah SWT dan Rasul-Nya." Rasulullah saw berkata: "Demi Allah,
seandainya kalian mau niscaya kalian akan mengatakan dan benar apa yang kalian
katakan: Engkau datang kepada kami sebagai seorang yang terusir, maka kami
melingdungimu dan engkau datang dalam keadaan miskin lalu kami menghiburmu dan
engkau datang dalam keadaaan ketakutan lalu kami mengamankanmu dan engkau
datang dalam keadaan teraniaya lalu kami menolongmu." Mereka berkata:
"Segala puji dan karunia bagi Allah SWT dan Rasul-Nya." Rasulullah
saw berkata: "Wahai kaum Anshar, apakah kalian akan marah terhadap harta
yang telah aku berikan kepada suatu kaum dengan harapan agar keimanan meresap
dalam hati mereka dan kalian justru melupakan karunia yang telah Allah SWT
berikan kepada kalian dalam bentuk nikmat Islam. Tidakkah kalian wahai kaum
Anshar merasa puas ketika manusia pergi untuk melakukan perjalanan di musim
dingin sedangkan kalian pergi dengan Rasulullah saw. Maka demi Zat yang jiwaku
di tangan-Nya, seandainya manusia melalui suatu jalan dan kaum Anshar melalui
jalan yang lain niscaya aku akan melalui jalan kaum Anshar. Ya Allah,
rahmatilah kaum Anshar dan anak-anak kaum Anshar dan cucu kaum Anshar."
Mendengar doa itu, kaum tersebut menanggis sehingga jenggot mereka terbasahi
dengan air mata dan mereka berkata: "Kami rela dengan Allah SWT sebagai
Tuhan dan sangat puas dengan pembagian Rasulullah saw." Kemudian Nabi saw
pun meninggalkan mereka dan mereka pergi dalam keadaan puas. Orang-orang Anshar
memahami bahwa Muslim yang hakiki di dunia adalah seorang yang datang di dunia
untuk memberi, bukan untuk mengambil. Nabi saw terbangun dan beliau mendapati
dirinya sendirian di kamar. Suhu tubuh beliau meningkat karena demam, lalu
beliau memanggil Aisyah dan meminta kepadanya untuk membawa air yang dapat
digunakannya untuk mendinginkan tubuhnya. Aisyah mulai menuangkan air kepada
Rasulullah saw sampai demam beliau berangsur-angsur sedikit menurun. Tampak
bahwa waktu berlalu cukup lambat dan berat. Sakit Rasulullah saw semakin
meningkat. Beliau mulai merasa bahwa tidak mampu lagi untuk salat bersama para
sahabat, lalu beliau memerintahkan Abu Bakar untuk salat bersama mereka. Pada
saat Nabi mengalami antara keadaan terjaga dan tidur, beliau selalu berpikir
apa gerangan yang belum disampaikannya kepada manusia. Beliau telah
menyampaikan segala sesuatu dan telah mengajari mereka segala sesuatu serta
telah meninggalkan sebuah Kitab yang siapa pun berpegangan dengannya ia tidak
akan sesat. Rasul saw mulai mengantuk dan berbagai nostalgia terlintas di
kepalanya. Beliau melihat dirinya di haji Wada'. Selesailah perjanjian yang
diberikan kepada kaum musyrik dan mereka telah dilarang untuk memasuki Masjidil
Haram dan sekarang Nabi saw keluar sebagai pemimpin haji dan mengajari kaum
Muslim cara manasiknya. Rasulullah saw memperhatikan ribuan orang-orang yang
bertauhid saat mereka menuju Baitul Haram dalam keadaan memenuhi panggilan
Tuhan dan tunduk kepadanya. Mereka menghidupkan memori kakek mereka, Ibrahim
Khalilullah. Nabi saw berdiri dan berpidato di tengah-tengah keramaian itu.
Nabi saw mulai merasakan bahwa kehidupannya di dunia sebentar lagi akan
berakhir. Beliau mengetahui bahwa kafilah ini akan pergi sendirian dalam
menjalani kehidupan. Beliau kembali menanamkan nilai-nilai Islam dan wasiat
dakwah di jalan Allah SWT. Setelah berjuang selama dua puluh tiga tahun
menegakkan agama Allah SWT, beliau bertanya kepada mereka: "Apakah aku
telah menyampaikan amanat Tuhan?" Lalu manusia yang hadir saat itu
menyatakan bahwa beliau benar-benar telah menyampaikan dakwah. Beliau memanggil
Mu'ad bin Jabal dan mengajarinya bagaimana berdakwah kepada manusia di jalan
Allah SWT dan bagaimana mengenalkan agama kepada mereka.
Kemudian beliau berwasiat kepadaa Mu'ad saat ia menunggangi
kendaraannya sedangkan Rasulullah saw beijalan di sebelah untanya:
"Sesungguhnya orang yang paling utama di sisiku adalah orang-orang yang
bertakwa, siapa pun mereka dan di mana pun mereka." Nabi saw adalah rahmat
bagi semua manusia dan sebagal cermin yang tertinggi dari cermin persaudaraan
dan kepatuhan. Beliau menegakkan Al-Qur'an di tengah-tengah umat Islam namun
beliau menolak segala bentuk penampilan yang biasa melekat pada seorang
penguasa atau raja atau pemimpin apa pun. Beliau berkata kepada para
sahabatnya: "Aku hanya seorang hamba Allah SWT dan Rasul-Nya." Beliau
keluar menemui sekelompok sahabatnya lalu sebagai bentuk penghormatan kepada
beliau mereka berdiri. Kemudian beliau memerintahkan kepada mereka agar tidak
berdiri. Ketika beliau keluar untuk menemui sahabat-sahabatnya dan
murid-muridnya, maka beliau duduk bersama mereka di tempat terakhir yang
ditemukannya. Beliau sangat bersahabat dan ramah dengan para sahabatnya, bahkan
beliau bercanda dengan anak-anak mereka dan mendudukkan mereka di ruangannya.
Beliau memenuhi panggilan orang dewasa maupun anak-anak. Beliau membesuk
orang-orang yang sakit meskipun berada di tempat yang jauh. Beliau menerima
alasan orang yang mempunyai uzur. Beliau mendahului orang yang ditemuinya
dengan salam bahkan beliau mendahului berjabat tangan dengan para sahabatnya.
Ketika seseorang datang untuk menemuinya saat beliau salat, maka beliau
mempersingkat salatnya dan menanyakan keperluan orang itu. Setelah
menyelesaikan keperluan manusia, beliau kembali menyelesaikan shalatnya. Beliau
selalu menebar senyum kepada kawan dan lawan dan memiliki kepribadian yang
paling baik. Ketika beliau berada di rumahnya, beliau melayani keluarganya.
Beliau mencuci bajunya. Beliau memperbaiki sandalnya dan memberi minum unta.
Beliau makan bersama pembantu. Beliau memenuhi kebutuhan orang yang lemah,
orang yang sedih, dan orang yang miskin. Bahkan kebaikan beliau dan kasih
sayangnya sampai pada tingkat di mana beliau membiarkan cucunya menaiki
punggungnya saat beliau sedang shalat.
Kasih sayang beliau tidak hanya terbatas kepada manusia
bahkan juga tertuju pada binatang dan pohon. Beliau memberi makan binatang
dengan tangannya sendiri bahkan beliau pernah merawat anjing yang sakit. Beliau
memerintahkan pasukan Islam saat berperang demi menegakkan keadilan Islam agar
mereka tidak membunuh anak kecil, orang tua, kaum wanita dan hendaklah mereka
tidak mencabut pohon dan tidak pula merobohkan rumah.
Apa yang dibawa oleh Nabi saw bukan hanya suatu
undang-undang yang mengatur hubungan antara manusia dan manusia yang lain, dan
apa yang dibawa oleh Nabi saw bukan hanya berisi suatu sistem untuk
meningkatkan kualitas kehidupan dan kemajuannya, ini semua adalah hal relatif
namun beliau datang dengan membawa peradaban yang abadi yang mengatur hubungan
antara manusia dan alam, dan mengembalikan keserasian di alam wujud sehingga
semua berjalan secara seimbang dan mencapai kesempurnaan menuju Allah SWT.
Meskipun pada titik terakhir dari kehidupannya, beliau masih sibuk mengurusi
masa depan dakwah dan beliau sangat cemas terhadap masa depan agama dan sangat
peduli dengan problema kaum Muslim. Beliau khawatir suatu saat Islam hanya
tinggal namanya namun hakikatnya telah lenyap. Namun sebelum beliau meninggal,
Allah SWT telah memperlihatkan kepada beliau sesuatu yang membuat hati beliau
menjadi tenang. Dan di hari Senin dari bulan Rabiul Awal yang mulia, beliau
kembali kepada Tuhannya dalam keadaan ridha dan diridhai.
Salam kepadamu ya Rasulullah dan kepada keluarga serta
sahabat yang setia bersama
Comments